" pak... Bapakkk... Ibu... Ayu lulus buk pakk ayu lulus"
seru riang ayu yang baru saja memasuki rumahnya dan disambut antusias ibu nya dari dapur dan bapaknya yang baru selesai shalat dhuzur. Adik adiknya pun langsung menghampiri sang Kaka yang berdiri tepat dibelakang mereka.
" Iyo nduk? Koe lulus nduk?" Tanya sang ibu dengan mata berbinar
" Iyo buk delok Iki aku olih nilai apik" (iya Bu lihat ini aku dapat nilai bagus)
" Alhamdulillah usaha mu ngga sia sia nduk" puji syukur ibu seraya mencium kedua pipi anak perempuannya itu.
Sang bapak pun hanya tersenyum mengusap kepala ayu.
" Alhamdulillah nduk bapak seneng kamu dapat nilai bagus, dan peringkatmu juga tetap sama diurutan pertama. Bapak ibu bangga padamu nak.
Semoga tuhan memberkati serta memberikan mu kelancaran dalam segala urusan dan cita citamu " doa sang bapak yang tak henti-hentinya mengusap kepala ayu.
" Amin pak buk.. ayu seneng akhirnya bisa langsung dan bekerja jadi bisa bantu bapak ibu"
"Opi toh nduk, kamu kan sering bantu ibu sama bapak juga, kamu juga kan suka bantu ibu nyetrika baju tetangga dan ibu bosnya ibu juga.
Kamu juga kan suka bantuin bapak mu jualan bakso keliling nduk."
" Iyo sih Bu cuma ayu seneng banget akhirnya ayu bisa nyari uang sendiri jadi kan ayu bisa nambahi modal dan kebutuhan kita Buu.. dan nanbahi kalo ada kebutuhan sekolah adik"
" Iyo nduk Iyo Alhamdulillah makasih udah mau bantuin nyari uang bersama bapak dan ibu"
" Iih bapak ini, kewajiban aku lah sebagai anak bantu bapak dan ibu.
Ibu dan bapak juga kan sudah bersusah payah menyekolahkan aku tentu aku harus membalas jasa ibu sama bapak." Sarkas ayu yang kemudian dibalas senyuman oleh kedua orang tua nya.
" Iih mana kak aku mau lihat dong nilainya" Rasti yang merebut kertas dari sang Kaka kemudian ternganga.
"Wahh Kaka dapet nilai 9 bagus kak hebat bangetttt, pasti Kaka langsung diterima nih kalo mau masuk kuliah jalur prestasi"
" Hmm kayanya ngga deh dek,"
"Lohh kenapa nduk? Kuliah itu bagus loh buat masa depan mu"
" Gapapa pak aku tidak ingin terus menambah beban bapak sama ibu, kuliah kan mahal pak Bu. Aku mau kerja aja"
"Tapi nduk kan ada jalur prestasi jadi ngga terlalu mahal"
"Ngga Bu ayu ngga pengin kuliah, ayu pengin kerja ngumpulin uang dan kalo boleh ayu pengin ke Jepang Bu"
" Opoo?"
" Apaa?"
Ucap serentak ibu dan adik ayu
" Ya ampun Bu dek biasa aja dong ayu kan kaget, ayu belum budeg ini " ucap ayu sambil mengelus-elus telinganya.
" Yang bener aja kamu nduk mau ke Jepang mau ngapain? Ada apa dijepang? Sampe jauh nyari uangnya?" Tanya sang bapa
" Pak ayu pengin nyari pengalaman baru, dan ayu pengin ngumpulin uang biar bisa renov rumah dan pengin bikin usaha"
" Nduk rumah kita memang dari gribig bambu dan memang udah usang tapi ibu ngga tega kalo kamu harus pergi jauh hanya untuk ngejar dunia".
" Bu ayu ingin kesana karna memang keinginan dan cita cita ayu Buu. Impian ayu. Ayu cari uang dulu sebelum daftar jadi ngga ngbebanin ke ibu bapak juga"
" Bukannya suami Kaka dikorea ya? Kok berangkat nya ke Jepang" celetuk Rasti
" Hussttt kamu ini" ayu yang kaget dengan ucapan Rasti langsung melayangkan pelototan kepadanya
" Suami? Suami sopo nduk? Kapan nikahnya? Kan kamu masih sekolah?". Tanya bapak
" Jangan bilang kamu suka sama suami orang nduk" sarkas ibu
" Iih ibu bapak bukan. Jdi yg dimaksud Rasti tuh Park Jimin, ya memang aku selalu menyebut dia suami aku tapi kan dia bukan suami orang dia masih bujang tinting cuma jauh aja rumahnya" ucap ayu sambil memonyongkan bibirnya
" Laki-laki yang fotonya ada di kamarmu nduk?" Tanya ibu
" Hihi Iyo buk ganteng tenan Oya bu?"
" Nduk nduk kamu tuh ada ada saja." Kata bapak sambil menggelengkan kepalanya
" Tapi beneran ya pak aku boleh ke Jepang pliss... Aku pengin kesana demi impian dan cita cita aku pakk ayu mohon" pinta ayu sambil menggoyangkan tangan bapaknya
" Bapak ibu pikir dulu ya nduk " ucap bapak
" Iyo pak makasih ya pak" ayu tersenyum mendengar jawaban bapak yang mungkin akan mengizinkan nya atau mungkin tidak tapi tak apa dia sudah mencoba meyakinkan dan hasilnya ia serahkan pada Tuhan
" Yowis nduk kamu ganti baju terus kita makan, ibu udah masak menu kesukaanmu semur jengkol. Ayo cepet ganti baju dan bersih-bersih terus shalat dhuzur ya nduk"
" Iyo Bu makasih ya Bu pak" ucap ayu sambil mencium pipi ibunya dan berlalu pergi ke kamarnya.
Dikamar ayu.
" Haiii suami akuu Jiminshiiiiiiiii, kamu tau ngga aku dapet nilai 9 lohh, hebat kan?? Istrimu ini hebat sekali" puji ayu sambil tertanya kemudian beristighfar karna memuji berlebih dirinya, ia takut sombong karna memang ibu dan bapaknya mengajar kan ia untuk tidak membanggakan dan menyombongkan dengan kepintaran dan apa yg ia miliki.
" Oya suamiku, aku mandi dulu ya sama mau shalat terus makan, kamu diem disini. Aarrgghh kamu tampan sekali" ucap ayu sambil mengelus-elus foto Park Jimin.
Senyum manis dibibir nya tidak perlah lepas ditambah 2 lengsung pipi dikedua pipinya yang menambah kesan kemanisannya.
Sementara itu dikorea, tepatnya di ruang tempat biasa para member BTS melakukan pelatihan dance nya seperti biasa.
" Aarrgghh apa ini, kenapa telingaku tiba tiba berdengung " Jimin yang sedang duduk melihat hyungnya latihan pun memegangi telinganya.
" Aku dengar katanya jika telinga kita berdengung itu berarti ada yang sedang membicarakan kita" ulas J-Hope
" Ahh benarkah tapi siapa yang sedang membicarakan mu?" Namjoon pun ikut bergabung saat kembali dari belakang mengambil air minum
" Ntah lah aku saja tidak tau" ucap Jimin sembari mengangkat pundaknya.
" Apa kah dia tidak salah membicarakan Jimin?" Tanya jungkok
" Apa maksudmu?" Tanya v
" Jimin kan tidak penting" sarkas Suga seketika semuanya terrtawa dengan ucapan Suga dan jungkok yang merasa terwakilkan ucapannya pun mengajak Suga tos seolah membenarkan ucapan Suga.
" Aarrggh Suga hyunggg " teriak Jimin yang kemudian berdiri dan mengejar Suga yang menghindari pukulan Jimin.
malam hari selepas shalat magrib dan mengaji dikamar seorang gadis,
ia sedang memandangi foto seorang pria yang bahkan mungkin pria tersebut tidak akan pernah tau ayu hidup atau tidak.
konyol memang tapi begitu lah ketika kita menyukai atau mencintai seseorang bukan berarti kita harus memiliki kan? apalagi sampai memaksa kan sebuah perasaan, tentu itu tidak dibenarkan.
tok tok tok suara pintu kamar yang sudah rapuh dan usang berbunyi menandakan ada seseorang yang mengetuk nya.
" nduk ibu masuk ya?"
" njih Bu masuk aja, ngga dikunci kok"
kreett Bunyi pintu dibuka
" nduk kamu sedang apa? ibu dan bapak mu ingin bicara"
"oh njih Bu mau ngomong apa?"
" keluar dulu yuk bapak mu ada didepan tv"
" iya Bu"
sang bapak yang mengetahui anak gadisnya yang keluar kamar lantas menyuruhnya untuk duduk disamping sang bapak.
" ayu, bapak mau tanya boleh"
" njih bapak mau tanya apa"
" apa kamu yakin ingin berangkat ke Jepang? itu negara orang nak tidak ada sanak saudara atau kerabat kita.
dan apa kamu yakin akan mampu hidup sendiri dinegri orang?"
" insyallah bapak dan ibu doakan saja.
ayu sudah niat dan itu sudah keputusan ayu. ayu ingin merubah nasib kita pak dan ayu ingin mencari pengalaman sebelum menikah.
ayu ingin menikmati masa muda ayu dengan berbagai hal pak.
ayu hanya ingin membantu dan mewujudkan keinginan ayu serta cita-cita ayu pak."
" tapi bagaimana dengan biaya nduk? akan banyak membutuhkan uang untuk pendaftaran dan sekolah bahasamu bukan? ibu bapak uang dari mana nanti" ibu yang mulai berkaca-kaca karna mengingat bagaimana kondisi keuangan keluarganya.
" ibu ayu akan bekerja dulu toh ayu baru 18 tahun baru lulus SMA ibu, jadi masih ada waktu untuk ayu mengumpulkan uang nya."
" insyallah nduk kalo memang itu keinginan mu semoga tuhan memberikan kemudahan untuk kita semua. bapak akan bantu sebisa bapak". bapak tersenyum ke arah ayu sambil mengelus rambut ayu.
" makasih pak Bu, ayu janji ngga bakal sia siain kesempatan ini dan bakal berusaha semaksimal mungkin agar keinginan dan cita cita ayu terwujud serta bisa membahagiakan ibu dan bapak".
" iya nduk sama sama. ibu dan bapak bangga padamu. baik mandiri pintar dan memahami keadaan kita".
" ibu jangan nangis ayu sudah cukup bahagia dan bersyukur kok tuhan maha baik dia memberikan kita tempat tinggal dan kita masih bisa makan buk, jadi kita harus tetap bersyukur."
" Iyo nduk" ibu mencium kening ayu dan memeluknya
" sudah toh sudah kok malah jadi nangis nangisan, sudah yu kita shalat isya ke mushola sebentar lagi adzan isya"
" njih pak, ibu mau ambil wudhu dulu ya, ayu kamu kalo mau wudhu lagi ayo kita wudhu dulu"
" iya Bu aku ke kamar dulu lepas mukenah nya".
ayu pun berlalu meninggalkan ibu bapak yang masih duduk sambil memandanginya.
" suamikuu aku seneng banget seneng seneng banget aku udah dapet izin bapak buat ke Jepang, huuaaaa rasanya bahagia banget. aku harus makin semangat dan gaboleh sia siain kesempatan ini. biar bisa nabung dan pergi ke Korea buat ketemu kamu..
aarrggh rasanya udah ngga sabar aku hihi"
tak henti nya ayu berceloteh dengan sebuah foto yang bahkan menjawab pun tidak namun ia tetap bahagia apalagi setelah mendapatkan lampu hijau dari bapak untuk ke Jepang bahagianya berlipat lipat huhuh