Setelah memutuskan tekadnya, perempuan berkacamata itu mengunjungi Pak Wardiarna yang memilih berkemah di tempat parkiran sambil berjaga. Pria teknisi itu berkata bahwa pedangnya akan siap dalam dua hari. Seketika saja senyum mungil tersungging di wajah Sasha. Setidaknya kabar itu membuat hatinya agak tenang. Pak Wardiarna sangat ingin mencurahkan dirinya pada pekerjaan yang satu-satunya membuatnya merasa terhubung dengan ayahnya sekarang. Jadi dia ingin menyiapkan katana itu dengan usaha terbaik darinya. "Aku turut prihatin dengan perpecahan kita saat ini,” kata tehnisi itu dengan muram. "Ya. Mau bagaimana lagi. Mereka tidak percaya." "Aku paham tindakan mereka," lanjut Pak Wardiarna, memandang kerumunan orang yang sibuk berpesta dari hasil persediaan yang mereka ambil. "Perut koso

