"Apa pentingnya sekarang? Pindah atau tidak, hanya masalah waktu sampai kejadian semacam ini menimpa kita." Sasha enggan menatap mata lelaki itu saat mengatakannya, ada rasa amarah yang muncul tiba-tiba ketika lelaki itu membahasnya. Ingatannya akan pencarian keluarganya seperti lenyap tertiup angin. "Tanteku... sedang menginterogasi seseorang yang terlibat dengan kekacauan ini. Kupikir, kamu pasti ingin tahu. Tanteku juga berpikir demikian...." Sasha diam sejenak, mengusap kedua pipinya, kepalanya tertunduk menghindari pandangan lelaki itu. "Aku akan menyusul nanti. Duluan saja." "Maafkan aku... Ini semua salahku..." Setelah berkata demikian, Dylan berbalik. Pria itu berjalan lunglai menuju kerumunan di depan toko buku. Tak berapa lama setelah kepergian Dylan, sebuah sosok berjala

