“Hah! Apa makudmu berkata seperti itu, Luke? Apakah kamu sedang cemburu? Jangan membuatku berpikir yang tidak-tidak!” Ryan memicingkan mata melihat Luke. Luke menatap jengkel Ryan. “Astaga! Apakah kau pikir aku cemburu karena menyukaimu? Aku hanya merasa semenjak Karin menjadi sekretaris sekaligus kekasihmu. Kamu menjadi semakin melupakan, kalau diriku menjadi tangan kananmu. Seharusnya aku yang kauajak, karena bisa jadi aku dapat membantu memecahkan persoalan yang terjadi di lapangan!” Mendengar penuturan Luke, Ryan manggut-manggut mengerti. “Justru karena kamu orang kepercayaaanku, meskipun kamu pernah membuatku kecewa. Maka aku mempercayakan jalannya operasional perusahaan ke tanganmu selagi aku tidak berada di tempat.” Pintu ruang kerja Ryan diketuk dan tak lama kemudian masuklah Ka

