31

1285 Words

Bibir Galih melengkung mendengar perkataan istrinya. Ada rasa bangga terhadap dirinya membayangkan jika istrinya sudah hamil lagi dalam waktu dekat, bahkan anak pertamanya belum berusia satu tahun. "Masa udah isi lagi, Dik?" Tanyanya penasaran tanpa dapat menutupi perasaan senangnya. Mata Wening seketika terbuka mendengar suara Galih yang tidak bisa menutupi rasa bahagianya, padahal belum tentu keterlambatannya ini membuahkan janin yang tumbuh di rahimnya. "Jangan senang dulu, belum tentu juga positif. Bisa aja kan aku telat karena faktor lain." "Ya gapapa toh ada kemungkinan kan tapi?" "Halah, maunya Mas aja. Tapi nggak deh, kayaknya emang lagi telat aja. Sini tak nenenin anaknya, kalau gitu nggak bobok - bobok jadinya." Kata Wening lalu menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Syifa d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD