Lima Puluh Lima

1076 Words
*Author Pov* Setelah libur beberapa hari, Juna, Haikal, Radi, Genta, Haqi, juga Rio kembali melakukan latihan mereka untuk babak penyisihan pertama yang akan diadakan sebentar lagi. Alvian sebagai pelatih mereka pun langsung memberikan jadwal latihan yang jauh lebih padat dibanding sebelumnya. Terlebih setelah mereka merasakan latihan tanding bersama White Lily dan Elang, Alvian merasa kemampuan anggota timnya meningkat cukup pesat. Belum lagi beberapa kali mereka sempat latihan bersama Sena saat masa libur. Walaupun melelahkan, hasil latihan mereka perlahan mulai terlihat. “Juna! jaga posisi kamu! fokus ke arah bola datang!” Teriakan Alvian menggema keras di dalam gedung olahraga. Juna yang tadi sedikit terlambat bergerak langsung mengubah posisinya dengan cepat. “Iya, Pak!” “Radi! servis kamu jangan keburu buru!” “Siap!” “Haikal, kaki kamu jangan kaku banget!” “Siap!” Suasana latihan sore itu benar-benar penuh dengan suara teriakan pelatih mereka. Hampir semua anggota terkena omelan dari pelatih mereka. Yang lolos dari omelan sepertinya hanya Riri seorang karena sejak tadi ia sibuk mencatat jadwal dan menyiapkan kebutuhan latihan. Bahkan Genta yang biasanya paling santai pun beberapa kali terkena teguran. “Gen! timing smash kamu telat!” “Siap Pak!” “Teriak doang paling kenceng.” Anak-anak yang lain langsung menahan tawa kecil mendengar komentar tambahan dari Alvian. Keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuh mereka. Kaos latihan yang tadi kering kini sudah menempel karena basah oleh keringat. Namun tidak ada yang benar-benar mengeluh dengan latihan mereka. Walaupun capek, mereka tahu latihan ini memang diperlukan. Apalagi pertandingan penyisihan tinggal menghitung hari. “Oke, untuk hari ini cukup sampai sini!” Suara Alvian akhirnya terdengar menghentikan latihan. Seketika beberapa orang langsung menghembuskan napas lega. Juna buru-buru mengambil botol minumnya karena tenggorokannya terasa sangat kering. Sedangkan Radi dan Genta langsung menjatuhkan diri ke lantai lapangan. “Gue udah gak punya kaki,” gumam Radi lemas. “Kalau gue udah gak punya badan sekalian,” sambung Genta sambil memejamkan mata. Riri yang datang membawa handuk kecil hanya menggeleng pasrah melihat mereka. “Lebay banget sih.” “Lo gak latihan, jadi lo gak ngerti penderitaan kami,” balas Genta cepat. Riri langsung mendecih. “Yang tadi paling banyak kena omel Pak Alvian siapa coba?” “Haikal.” “WOY!” Tawa kecil langsung terdengar. “Thanks, Ri,” ucap Radi setelah menerima botol minumnya. “Sama-sama.” “Kayaknya abis ini gue mau minta dipijitin nyokap deh,” keluh Genta sambil meregangkan kakinya. “Gila, kaki gue sakit banget.” “Itu karena pemanasan kamu kurang maksimal,” sahut Alvian yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka. Seketika Genta langsung duduk lebih tegak. “Jadi otot kaki kamu menegang,” lanjut Alvian. “Apalagi kemarin kalian sempat libur beberapa hari.” “Iya sih Pak.” jawab Genta pasrah. “Walaupun kadang kalian tetap latihan mandiri sama ketua klub White Lily.” Rio yang sedari tadi duduk sambil mengusap wajahnya terkekeh kecil. “Makanya jangan males stretching.” “Bukannya gue males,” bela Genta cepat. “Cuma tadi badan gue belum nyatu aja.” “Halah banyak alasan.” Setelah latihan selesai, mereka mulai membereskan lapangan bersama-sama. Riri mengumpulkan botol minuman sementara Haikal dan Radi mengangkat keranjang bola ke ruang penyimpanan. Sedangkan Juna membantu Haqi melepas net. “Besok latihan lagi kan?” tanya Radi lemas. “Lah emang lo pikir habis ini langsung jadi atlet nasional?” jawab Haqi santai. Radi langsung mengerang pelan. “Kasihanilah kami yang masih muda ini.” “Justru karena muda makanya kuat.” “Pak Alvian sama Kak Haqi kalau ngomong gak pernah ada empatinya.” Genta langsung tertawa mendengar itu. “Lo baru sadar?” Tak lama kemudian mereka semua masuk ke ruang klub untuk berganti baju. Ruangan itu langsung dipenuhi suara keluhan dan obrolan bercampur. “Jun,” panggil Radi sambil membuka tasnya malas. “Besok gue nyontek PR lo ya?” Juna yang sedang mengganti kaos menoleh. “Kenapa?” “Kayaknya pulang nanti gue langsung tepar.” “Lo tiap hari juga nyontek,” sahut Haikal cepat. “Heh, diem.” Rio yang duduk di bangku sambil minum air langsung terkekeh mendengar rengekan adik kelasnya itu. “Sepertinya badan kalian kaku lagi,” katanya santai. “Padahal cuma libur beberapa hari.” Radi langsung punya firasat buruk. “Kenapa gue gak suka nada bicara lo ya?” Rio tersenyum lebar tanpa dosa. “Kayaknya mulai besok latihan kita bakal gue bikin lebih berat.” Suasana ruang klub langsung hening beberapa detik. “Biar badan kalian terbiasa lagi,” lanjut Rio santai. Radi, Juna, dan Genta langsung menelan ludah bersamaan. Seketika bayangan tubuh mereka terkapar di lantai gedung olahraga muncul di kepala masing-masing. Mati kita. Haikal langsung tertawa keras melihat ekspresi mereka. “Anjir muka lo bertiga kenapa serem amat.” “Lo ketawa sekarang,” balas Radi cepat. “Besok juga nangis.” Rio malah semakin puas melihat penderitaan mereka. “Tenang aja,” katanya santai. “Latihannya gak bakal terlalu berat kok.” “Kalau lo bilang ‘gak terlalu berat’ itu justru bahaya,” gumam Juna pelan. “Setuju,” sahut Genta cepat. Tawa kembali terdengar di dalam ruang klub. Walaupun lelah, suasana mereka tetap terasa hangat seperti biasanya. Riri yang sejak tadi membereskan beberapa catatan akhirnya duduk di kursi dekat pintu sambil memperhatikan mereka satu per satu. Entah sejak kapan keramaian seperti ini mulai terasa menyenangkan baginya. “Ri.” Suara Genta membuatnya menoleh. “Apa?” “Besok bawain minuman dingin lebih banyak ya.” “Kenapa?” “Buat menghibur korban latihan berat.” “Heh, emang gue ibu kantin?” “Bukan.” “Terus?” “Manajer terbaik.” Riri langsung mendengus kecil sambil memalingkan wajahnya. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat tanpa sadar. Haikal yang melihat itu langsung menyenggol pelan lengan Radi. “Eh.” “Apa?” “Kayaknya ada yang beda.” Radi melirik cepat ke arah Genta dan Riri lalu menyeringai. “Ohhh…” “WOY BISIK-BISIK APA KALIAN?” teriak Genta curiga. “Gak ada!” “Pasti ngomongin gue.” “Soalnya lo paling ribut.” Ruang klub kembali dipenuhi keributan kecil mereka. Bahkan Alvian yang tadinya hendak keluar ruangan hanya menggeleng pasrah mendengar suara mereka dari luar. “Capek-capek masih aja berisik,” gumamnya sambil terkekeh kecil. Namun di balik semua candaan dan keluhan itu mereka sadar satu hal. Hari pertandingan semakin dekat. Dan latihan berat yang mereka jalani sekarang akan menentukan sejauh apa mereka bisa melangkah nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD