Dominic tak menyangka Mikha akan benar-benar menamparnya. Bukan hanya sekali tapi dua kali di kiri dan kanan. Bukan masalah sebenarnya, sebab pukulan Mikha itu tidak terasa, lebih seperti kesemutan saja di pipinya, hanya saja yang dia khawatirkan adalah tangan mungil Mikha. "Kamu tidak apa- apa?" terakhir kali Mikha menamparnya tangannya juga merasakan sakit. Dan benar saja setelahnya Mikha berjongkok memegangi tangannya yang terasa berdenyut. "Sialan, kau!" umpatnya kesal. Dominic berjongkok dan mengusap tangan Mikha "Apa sangat sakit?" "Sakit, hiks..." Mikha menangis, bukan hanya tangannya tapi juga hatinya, sementara Dominic mengusap dan meniupi tangan Mikha yang memerah. "Harusnya bilang dulu kalau mau menamparku," Mikha memicingkan matanya "Aku akan melemaskan dulu tulang- tula

