Tujuh

2063 Words
Aileen Aldari memasuki Markas Besar Tentara Flander-Belgium yang berjarak hanya beberapa meter dari kawasan istana Red Castle. Wajahnya merah padam, tak bisa menyembunyikan kekesalan dan benar-benar meluapkan kemarahannya setiba dalam ruang pribadinya. Ia melepas mantel militernya dan melemparnya kasar ke atas lantai. Belum puas ia meninju meja kerjanya sekeras mungkin tapi wajahnya jauh dari  kesakitan. Betapapun sudah melakukan semua itu, ia belum merasa cukup, marahnya tak bisa hilang dan ia tak tahu bagaimana mengatasi kejengkelan tiap kali memikirkan kelicikan perempuan itu. Aileen Aldari merasa bodoh, tak cakap jatuh dengan mudah ke dalam sebuah perangkap kekanakan saat bertugas. Ia khawatir jika orang lain mendengar desas-desus itu ia mungkin akan digunjingkan, bukan hanya oleh para petinggi istana tapi juga bawahannya. Ia sudah menjaga nama baiknya selama bertahun-tahun tanpa tercederai, dan kini karena kehadiran seorang wanita asing hidupnya seolah dijungkir balikkan seketika. Pintu ruangannya diketuk perlahan. Ia menatap tajam menyilahkan siapapun di sana masuk ke dalam. Berharap dengan berbincang bersama seseorang ia bisa melupakan semua dengkinya. Seorang pria kurus bermuka bundar dengan rambut kelimis melongokkan kepala dari pintu. Melihat atasannya sudah berada di ruang kerja ia buru-buru masuk memberi hormat militer dengan sungguh-sungguh, tanpa menyadari betapa buruk suasana hati Aileen Aldari kala itu. Hening sesaat. Aileen Aldari mengamati pria itu dari atas ke bawah, kemudian mendekatinya perlahan dengan aura mengancam luar biasa kuat sambil memutari tubuh ceking pria itu disertai tatapan sinis yang bisa membuat siapapun merinding. Ia tak bisa menahan rasa kesal juga padanya. Kemal yang hanya seorang sersan biasa dengan jabatan rendah berani melapor langsung pada pangeran mahkota, melanggar aturan militer dan mencederai jabatannya. Jika bukan karena kebaikan hatinya ia yakin Kemal takkan bisa masuk militer karena status b***k yang disandang dirinya dan keluarganya. "Kau yang berani melapor pada Yang Mulia tentang kegagalan misi semalam?" suara Aileen Aldari menggema kuat, dalam dan lantang penuh ancaman. Sebaliknya pria itu tampak tak merasa bersalah. Ia terus menatap lurus ke arah tembok pucat di hadapannya. Wajahnya yang tampak konyol, jauh dari kesan galak khas militer takkan membuat siapapun menduga ia seorang tentara. Tak heran, sekalipun berpangkat rendah, tapi ia sering dilibatkan dalam penyelidikan yang melibatkan penyamaran. "Siap, saya yang melakukannya" tukasnya tegas jauh dari rasa takut. "Kau juga yang mengatakan mendengar suara wanita?" "Siap, itu benar" Tangan Aileen Aldari menyambar kepalanya dengan ganas seperti cakar elang lalu merapatkan kening mereka hingga menyatu. Aileen Aldari menatap Kemal baik-baik seolah akan memakannya bulat-bulat sebaliknya pria itu tak berani bertemu mata dengannya langsung karena takut akan ciut. Ia tahu jenderal itu sangat pemarah. Temperamennya yang buruk terkenal ke mana-mana. Semua orang menjulukinya tak punya hati. Namun dibandingkan ketakutan menghadapi kemarahan Aileen Aldari, ia lebih marah dan lebih takut pada aturan lama kerajaan yang membatasi seseorang dari ras b***k menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan. Alasan mengapa selama hampir 10 tahun ia bekerja masih saja menjadi seorang sersan berpangkat rendah bergaji kecil tak peduli seberapa besar jasanya bagi negara. Suara napas Aileen Aldari yang keras menggema di seberang telinganya disertai tekanan keras di lehernya yang membuat muka Kemal perlahan pucat. "Kau tahu kau sudah bertindak di luar batas?" Kata-kata Aileen Aldari seperti pertanda kematian yang membuat Kemal ketakutan. Ia tak manyangka kesengajaan yang ia lakukan untuk memberi citra buruk pada Aileen Aldari di hadapan putra mahkota berakhir membuatnya berada di bawah tekanan dan ancaman. Ia memang sudah mengira akan menyulut kemarahan pria itu, ia hanya tidak siap dan takut. Bukan karena takut akan dihajar, ia bisa terima saja setiap pukulan karena sedari kecil memang dibesarkan di tempat yang lebih mengedepankan kekerasan. Yang ia takutkan adalah dirinya dipecat sementara ia masih harus menanggung hidup ibu dan adiknya. Dengan membuang malu, Kemal tak ragu berlutut di bawah kedua kaki Aileen Aldari dengan suara parau menahan tangis ia mengemis pengampunan dengan begitu dalam. "Siap, maafkan saya jenderal. Saya sudah melakukan kesalahan besar. Saya hanya berpikir kalau Yang Mulia perlu mendengarnya segera jadi saya melapor langsung tanpa menunggu Anda. Saya berjanji dengan seluruh nyawa saya, kejadian ini tidak akan terulang lagi" Kedua tangan Aileen Aldari mengepal ke belakang punggungnya. Mendengar permohonan itu sedikit melegakan keras hatinya, tapi ia tak pernah berpikir masalah ini akan berakhir mudah tanpa hukuman keras. "Kau dibebas tugaskan selama satu bulan" Aileen Aldari memutar ke arah kursinya. Kemal mengangkat pandangan dengan raut muka begitu terpukul. "Jenderal, ampuni saya" pekiknya namun hanya ditanggapi sorot mata sinis dan keji. "Semakin kau memohon, aku semakin senang menaikkan hukumanmu" Kemal membatu tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tertunduk ke arah pria itu berada sambil menangis. Mendengar tangisnya membuat Aileen Aldari tak nyaman. "Keluarlah" Kemal menunduk makin dalam, "Saya akan lakukan apapun untuk Anda, tolong jangan bebas tugaskan saya jenderal!" Pria berwajah tegas itu berpikir sesaat sembari menatap Kemal. Apa yang bisa ia suruh kan pada sersan muda itu? "Alat komunikasi milikku hilang. Kau bisa meminta bagian perlengkapan alat militer untuk menyediakan satu lagi untukku?" Kemal berdiri menyapu berkas air mata di kelopak matanya. "Siap... Untuk menyediakan alat itu butuh waktu setidaknya 6 bulan" Kening Aileen Aldari segera mengernyit keberatan dengan hal itu. "6 bulan? Itu terlalu lama" "Siap... Itu alat khusus yang dirancang bagian pertahanan, dilengkapi kode kepemilikan khusus, GPS dan alat rekam. Sebelum membuat yang baru benda itu harus dilaporkan hilang terlebih dulu ke bagian perbekalan militer untuk menonaktifkan sistem operasi" Mulut tipis Aileen Aldari mendesis samar. Ia menyentuh keningnya tak menduga benda kecil itu harus didapat dengan cara demikian sulit sementara ia membutuhkannya segera untuk proses penyelidikan yang masih berjalan. Ia tak bisa menunggu 6 bulan lamanya hanya untuk benda kecil itu. Ia teringat lagi wajah La Vie dan tawaran paling menjijikkan yang pernah ia dengar sepanjang hidup, membuat kesalnya mendadak balik.  Ia memang tak menyangkal La Vie cukup cantik, sangat cantik malahan tapi tingkah lakunya terlalu menjengkelkan dan angkuh hingga sesekali membuatnya berharap bisa menghajarnya secara langsung jika ia seorang pria . Hanya saja memikirkan kembali betapa merepotkan hal yang harus ia lakukan demi mendapatkan satu alat komunikasi, ia jadi menimbang tawaran itu kembali. "Keluarlah, akan kupanggil lagi kau nanti" Meski sang jenderal tidak dengan tegas menarik perintah bebas tugasnya, Kemal merasa punya harap mendengar kata-kata ia akan dipanggil lagi nanti. Ia keluar ruangan itu dengan perasaan segar tapi juga sedikit sesal. Jika saja ia tak lahir dari kelompok b***k, ia tak perlu terlalu sering mengemis dalam hidup. ** La Vie jalan-jalan sore ditemani Esme mengelilingi istana tanpa arah. Wajahnya tampak bosan, tak ada yang bisa dilakukan di dalam istana luas itu. Ia merasa terpenjara dalam tembok tebal berlapis kemewahan. Ia jadi penasaran bagaimana para penghuni kerajaan bisa bertahan di kurung di tempat itu berhari-hari. Sepintas ia teringat hidupnya di Moskow. Tiap hari selalu sibuk berpindah dari satu studio ke studio foto lainnya untuk menjalani pemotretan atau acara runway fashion show yang kadang membuatnya datang sangat pagi untuk didandani. Meski melelahkan, La Vie menjalani hidup yang menyenangkan karena dia bekerja sesuai bidang yang ia sukai. Ia berharap bisa melakukan pekerjaan yang sama di sini. Saat mengunjungi teras belakang La Vie melihat sekumpulan wanita berjumlah delapan orang tengah berkumpul menikmati teh sore. Tiga dari wanita itu dikenalnya dengan cukup baik sekalipun tak cukup dekat. Keluarga kerajaan tak pernah terlihat menerimanya dengan tangan terbuka. Membuatnya yakin ia tidak akan bertahan cukup lama di sana jika tidak pintar menjaga diri dan memastikan dengan yakin Victor Leopold akan menjaganya. "Siapa para wanita itu?" bisik La Vie pada Esme. Mata jeli gadis itu menelanjangi deret wanita yang ia lihat tak jauh dari tempat mereka mengintip. "Wanita yang mengenakan topi merah dan masih berusia 30 tahun itu bernama Lady Waltstrow, istri perdana mentri ibu tiri Putri Madeline. Yang memakai baju biru sepupu Ratu Josephine namanya Lady Castelalla, yang mengenakan gaun floral ibu tiri Jenderal Aileen Aldari, namanya Nyonya Souza, wanita yang mengenakan fascinator hijau itu istri wakil pemimpin partai bangsawan namanya Lady Summer, yang paling tua di antara yang lain itu mantan ibu s**u Putri Rhine dan Pangeran Victor. Dia dianggap sangat berjasa jadi diberi gelar bangsawan dan sekarang hidup layak. Aku juga suatu hari berharap bisa seberuntung itu" La Vie mengangguk, menyimak dengan baik, lalu berjalan mendekati mereka. Esme yang sibuk melamun tak menyadari kepergian gadis itu. Ia berlari berusaha menahannya agar tidak cari masalah dengan kelompok pergaulan kelas atas istana itu. Tapi La Vie tak mau mendengarkan ucapan Esme, ia mendorongnya menjauh hingga suara keributan di antara mereka memancing kedelapan perempuan itu untuk berbalik. Madeline dan Rhine saling menatap heran dan terkejut sementara Josephine seperti biasa menunjukkan wajah galak bermusuhan. "Apa aku boleh bergabung?" Lady Castella tersenyum namun jelas tampak heran. Ia mengenali dengan baik wajah La Vie karena ia jadi pusat perhatian kala pemakaman. Ia heran kenapa gadis itu bisa berada dalam istana. "Kau yang menghadiri acara pemakaman raja kemarin 'kan?" tanya Lady Waltstrow. La Vie tersenyum membenarkan, "Itu memang aku" Tak mau didahului lagi Lady Castelalla segera menyambar dengan tanya yang memenuhi kepalannya. "Kenapa kau ada di sini?" La Vie bersemangat menjawab pertanyaan itu sebaliknya Josephine yang sedang mengangkat gelas tehnya jelas tak senang. Ia yakin jika La Vie menjawabnya tidak akan segan mengungkap tentang dirinya. Ia memang tipe seperti itu di matanya, tak punya malu. "Dia keluarga jauh" La Vie melirik Josephine dengan seringai jengkel dan jijik. Ia tak menduga wanita tua itu akan mengakuinya sebagai keluarga. Meski ia juga tahu alasan wanita tua itu mengatakan hal itu tak lebih untuk melindungi citra dirinya. Josephine menurunkan gelas tehnya. Dengan raut muka sinis ia mendongak pada La Vie. "Mau sampai kapan kau berdiri di sana, tak ada kursi kosong untukmu" La Vie menatap para bagsawan kemudian pelayan di belakangnya yang tak bergeming tak berusaha membawakan apapun untuknya. Ia selalu kesal dengan perlakuan kerajaan yang buruk padanya tapi yang paling ia benci adalah Josephine. Ia berharap bisa menyingkirkannya segera agar bisa menjalani hidup dengan nyaman di istana bila memungkinkan. "Apa begini caramu memperlakukan keluarga jauh? Atau kau hanya berusaha memberiku label keluarga hanya di depan para bangsawan ini?" Para tamu wanita itu saling melirik satu sama lain dengan sorot mata nyaris serupa. Mereka bisa merasakan aura ketegangan ketika La Vie muncul di sana, tapi untuk alasan apa tak satupun anggota inti keluarga kerajaan di hadapan mereka yang sepertinya hendak membagi rahasia. Mereka hanya memulas senyum, meminum teh seolah tak mendengar apapun. Josephine mengangkat pandang disertai senyum dengan aura mengerikan yang ketika dilihat Esme dari jauh membuatnya merinding. Ia memberi isyarat pada pelayan itu untuk membawa La Vie jauh dari sana. Tanpa perlu berkata-kata Esme menyambar lengan La Vie. "Sebaiknya kita masuk Nona" La Vie melepaskan tangan Esme dari lengannya. Dia tak terima di usir dari sana. Lebih tepatnya harga diri dan ego-nya yang melarang ia diperlakukan buruk lagi. "Kenapa aku harus pergi? Aku bisa pergi ke manapun aku suka dan kau tidak berhak melarangku" La Vie bicara dengan nada sedikit ditinggikan yang membuat semua orang melongo terkejut dengan tatapan merendahkan, yang membuat kekesalannya menjadi dan berencana membuat keributan, setidaknya menyiram wajah Josephine dengan segelas teh cukup menghibur dan menyenangkan hati. Sayangnya sebelum ia sempat melakukan itu sekali lagi ia merasakan tangan seseorang mencengkram lengannya, mencoba menariknya menjauh. La Vie berusaha menepisnya namun kali ini ia sedikit kesulitan karena cengkraman di tangannya terlalu kuat. "Aileen?" kata-kata itu meluncur dari Nyonya Souza, wanita berkulit putih mengenakan gaun floral bermotif merah muda yang baru akan memasuki usia 40-an, berusia 10 tahun lebih tua dari Aileen Aldari. Mendengar nama itu disebut La Vie berpaling. Ia terkejut melihat pria dingin itu di sana dengan memegang lengannya padahal baru saja pagi tadi pria itu memakinya dengan kasar. Kemunculan pria itu di waktu yang tak tepat membuat La Vie jengkel, ditambah lagi ia berusaha menahannya membuat pembalasan untuk Josephine, semakin membuat darahnya mendidih hingga memberontak makin jadi. "Bisa kau melepaskan aku?" "Kita perlu bicara" Nyonya Souza menyela penasaran, karena nyaris tak pernah melihat Aileen Aldari berdekatan wanita selain Rhine, yang turut menyaksikan kejadian itu juga dengan rasa heran sedikit cemburu. "Ada hubungan apa antara kalian?" Aileen Aldari tak mengatakan apapun selain hanya meninggalkan senyum ramah tamah yang palsu pada para tamu sambil menarik paksa La Vie, yang tak peduli seberapa keras berusaha memberontak, tenaganya tak pernah cukup bahkan sia-sia. Rheine yang tak pernah melihat ekspresi wajah demikian kasar dari Aileen Aldari hanya bisa melihat kepergian pria itu dengan rasa ingin tahu dibarengi rasa kecewa karena pria itu bahkan tak sekalipun menengok padanya. Di depan pintu kamar La Vie, Aileen Aldari mengehempaskan tubuhnya membentur pintu kencang dan keras. Gadis itu mendesis kesakitan tapi pria itu acuh tak peduli. "Apa kau bermaksud membunuhku" timpal La Vie kesal. "Aku sangat berharap bisa melakukannya" La Vie tersenyum sinis. Tak ada sedikitpun hal baik di matanya tentang pria itu tapi ia tak mengerti kenapa bisa tertarik padanya. Aileen Aldari merogoh saku mantelnya mengeluarkan kartu akses hotel yang dilemparkan tepat ke wajah La Vie dengan kasar. "Kurasa ini yang kau inginkan. Jika kau tidak datang kupastikan membunuhmu" La Vie meIongo. Hari ini ia benar-benar merasa sial terlibat keributan dengan dua orang paling menjengkelkan di seluruh Flander-Belgium.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD