"Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
* * *
MEMBAGI BAHAGIA
Tok..., tok..., tok...!!!
Suara ketukan pintu membuat Daniel bergegas lari menuju pintu dan meninggalkan sarapan paginya. Sosok seorang santri yang begitu ia kenal berdiri di hadapannya.
"Assalamu'alaikum Kak Daniel, maaf saya mengganggu. Ada hal mendesak," ujar Hasan dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Ada apa San? Kok sampai kamu lari-lari seperti ini?," tanya Daniel.
"Anu..., Pak Ustadz Alwi mendadak sakit Kak. Padahal acara Pembukaan Majelis Ta'lim sudah akan dimulai beberapa menit lagi. Beliau meminta Kakak untuk menggantikannya," jawab Hasan.
"Astaghfirullah..., ya sudah, kalau begitu kamu pergi duluan ke Masjid nanti saya menyusul sebentar lagi," ujar Daniel.
Hasan mengangguk dan segera pergi ke Masjid untuk membuat pengumuman di hadapan peserta Majelis Ta'lim. Daniel segera mengganti pakaiannya lalu bergegas menuju Masjid setelah berpamitan dengan Isma - meskipun tak ada respon apapun dari wanita itu.
Hasan memberinya tanda kalau acara sudah dimulai beberapa saat yang lalu. Bahkan pembacaan ayat suci Al-Qur'an pun sudah hampir selesai. Saat MC mengumumkan namanya sebagai penceramah hari itu, ia pun segera beranjak menuju mimbar yang telah disediakan oleh panitia Masjid.
Daniel menenangkan diri beberapa saat sebelum ia memulai.
"Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” ujar Daniel
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,” jawaban terdengar dari seluruh peserta Majelis Ta'lim.
“Allahumma sholi ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali syaidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in, amma ba’du.”
Daniel menatap ke arah seluruh peserta.
"Hari ini, saya diminta oleh Bapak Kiayi Haji Alwi Mansyur untuk menggantikan Beliau yang agak kurang enak badan. Semoga Beliau cepat sembuh agar bisa kembali berada di tengah-tengah kita bersama untuk menjalani aktifitas seperti biasanya lagi. Amin..., mari kita berdo'a bersama untuk kesembuhan Beliau, Al-Fatihah...," tuntun Daniel.
Serentak seluruh peserta Majelis Ta'lim tersebut membaca Al-Fatihah bersama untuk mendo'akan kesembuhan Ustadz Alwi.
"Baiklah, sekarang mari kita buka acara Majelis Ta'lim ini dengan materi yang akan saya bawakan mengenai salah satu tanda kebahagiaan menurut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, yaitu Qolban Syakiro," ujar Daniel.
Semua mata menatap ke arahnya.
"Di antara tanda-tanda kebahagiaan, adalah hati yang selalu bersyukur. Artinya senantiasa menerima apa adanya atau sering disebut dengan Qona'ah, sehingga tak ada ambisi yang berlebihan dan tidak ada stress. Inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur."
Satu tarikan nafas dihembuskan dengan tenang dari dalam diri Daniel.
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda, lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim."
Daniel kembali berhenti sesaat.
"Hadits tersebut mengingatkan kita bahwa derajat seseorang tidak ada yang sama. Ada orang yang derajatnya lebih tinggi, dan ada pula orang yang derajatnya lebih rendah. Rasulullah memerintahkan kita untuk melihat orang yang derajatnya ada di bawah kita, kenapa??? Karena dengan melihat ke bawah, maka kita akan selalu bersyukur atas apapun rezeki dan nikmat yang Allah berikan pada kita. Tapi jika kita melihat kepada orang yang derajatnya lebih tinggi daripada diri kita sendiri, maka kita akan menjadi manusia yang kufur akan nikmat yang telah Allah berikan," jelas Daniel.
Ustadz Alwi yang berada di lantai dua Masjid itu pun tersenyum puas dengan penjelasan yang disampaikan oleh Daniel.
"Dalam hadits lain dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan. Hadist riwayat At-Tirmidzi."
Daniel melihat Hasan memberi tanda bahwa waktu yang ia miliki hampir habis.
"Jadi, kesimpulan materi yang saya berikan hari ini adalah bahwa kita sebagai manusia harus selalu belajar untuk menerima sesuatu secara apa adanya. Jangan melihat yang lebih tinggi untuk urusan dunia, tapi lihatlah yang lebih rendah agar kita menjadi golongan orang-orang sabar dan bersyukur. Sekian materi yang bisa saya sampaikan, apabila ada kesalahan maka mohon dimaafkan karena saya juga masih dalam tahap belajar. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," Daniel pun menutup materi dengan tenang.
"Wa'alaikum salam warrahmatullah."
Usai turun dari mimbar, Hasan pun memberi tanda pada Daniel untuk mengikutinya menuju lantai dua Masjid tersebut. Ustadz Alwi telah menunggunya untuk berbincang.
"Assalamu'alaikum Akh Daniel," sapa Ustadz Alwi.
"Wa'alaikum salam Pak Ustadz. Bagaimana kondisi Bapak? Apakah ada yang bisa saya bantu?," tanya Daniel.
Wajah pria itu dipenuhi dengan rasa khawatir. Ustadz Alwi mengetahui hal tersebut, ia hanya tersenyum sambil menepuk pundak Daniel dengan lembut.
"Saya baik-baik saja Akh..., hanya sedikit masuk angin," jawab Ustadz Alwi.
Daniel pun tersenyum lega.
"Alhamdulillah jika Ustadz baik-baik saja. Saya agak terkejut saat Hasan menyampaikan pada saya kalau Ustadz sakit," jelas Daniel.
Ustadz Alwi tekekeh pelan. Mereka berdua berjalan menuju balkon Masjid dan menikmati angin yang berhembus pelan.
"Qolban Syakiro..., berkaitan dengan Qona'ah...," Ustadz Alwi kembali membahas apa yang Daniel sampaikan pada peserta Majelis Ta'lim.
Daniel menatap Ustadz Alwi.
"Apakah Akh Daniel tak menerapkan hal tersebut saat menikah dengan Ukhti Diva?," tanya Ustadz Alwi.
Deg!!!
Seketika jantung Daniel serasa berhenti sejenak mendengar pertanyaan itu.
"Saya menanyakan hal ini bukan untuk membuka luka lama di hati Akh Daniel. Saya hanya ingin Akh Daniel belajar mengenai apa yang Akh Daniel sampaikan sendiri di Majelis tadi," jelas Ustadz Alwi.
Daniel kembali teringat wajah itu. Wajah isterinya.
"Allah memberikan Ukhti Diva sebagai jodoh Akh Daniel tanpa syarat apapun, maka sudah sepantasnya jika Akh Daniel mensyukuri nikmat tersebut tanpa melihat kepada yang lebih tinggi. Jadi..., jika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan kedua pada Akh Daniel untuk kembali bertemu dengan Ukhti Diva, jangan pernah sia-siakan lagi kesempatan itu," pesan Ustadz Alwi.
Daniel mengangguk pertanda bahwa ia mengerti dengan apa yang dipesankan oleh Ustadz Alwi.
Hatinya bergemuruh bagai lautan yang sedang menghadapi ombak pasang. Luas namun hampa.
‘Ya Allah..., pertemukanlah kembali aku dengan isteriku. Izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku padanya. Izinkan aku untuk membagi hidupku bersamanya.’
* * *
Adzan Dzuhur berkumandang dengan jelas. Ria telah selesai mengerjakan PR di rumah pondok santriwati yang di tempati oleh Kiana dan Diva.
Saat itu para santriwati lain sedamg memiliki kesibukan menjelang Bulan Ramadhan. Jadi, Ria terpaksa beristirahat di tempat Diva dan Kiana.
"Ukhti Ria, mari kita Sholat berjama'ah," ajak Kiana.
"Ukhti..., aku lapar. Bagaimana jika kita makan dulu sebelum Sholat?," pinta Ria.
Kiana menatapnya seraya tersenyum di balik niqob-nya.
"Ukhti Ria, Sholat adalah hal paling utama untuk kita kerjakan. Makan bisa lakukan nanti setelah Sholat," ujar Kiana.
"Bukankah tidak baik kalau kita Sholat sambil mengingat-ingat makanan?," tanya Ria.
Diva keluar dari kamarnya dengan mukena yang sudah ada di tangannya.
"Ukhti Diva..., mana yang lebih baik? Sholat dulu sebelum makan tapi memikirkan makanan ketika Sholat, atau makan dulu tapi sambil memikirkan Sholat?," tanya Ria pada Diva.
Diva tertawa pelan saat mendengar pertanyaan dari Ria. Kiana ikut-ikutan tersenyum.
"Aku lebih memilih kelaparan di dunia ketimbang kelaparan di akhirat nanti, Ukhti Ria...," jawab Diva.
"Maksudnya, Ukhti Diva?," Ria tak mengerti.
Diva pun duduk di hadapan Ria seraya mengusap puncak kepala wanita itu dengan sayang.
"Allah subhana wa ta'ala berfirman dalam surat Al-An'am, Qul inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillahi robbil-'alamiin, yang artinya katakanlah wahai Muhammad, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam," ujar Diva.
Ria masih memperhatikannya.
"Jadi..., utamakanlah Sholat Ukhti Ria..., karena rasa lapar di dunia ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa lapar di akhirat nanti. Jika di dunia ini kita merasa lapar karena kekurangan makan, maka di akhirat nanti kita akan merasa kelaparan karena kekurangan amal shaleh," jelas Diva seraya tersenyum di balik niqob-nya.
Ria tertegun sesaat atas penjelasan dari Diva untuknya. Kiana merangkulnya untuk mengajaknya mengambil air wudhu. Diva masih tersenyum seraya menatap kedua teman baiknya itu.
‘Di sini aku bisa berbagi apapun dengan mereka..., bagaimana denganmu? Apakah 'dia' yang kau pilih juga berbagi kebahagiaan denganmu?.’
***