"Dok, tolong ada pasien yang sedang membutuhkan penanganan!" teriak asisten baruku, Fadil. Dua tahun telah berlalu, aku masih menjadi seorang dokter, tapi berbeda dengan dulu. Setelah Diana dan anak-anak pergi, hidupku hanya diselimuti oleh penyesalan dan sepi. Tanpa ada bahagia ataupun senyuman. Tidak hanya mereka saja yang menjauh, tapi juga orangtuaku ikut terdiam. Mereka seolah tidak melihatku ketika aku berkunjung ke rumahnya. Padahal dulu, hubungan kita tidak seperti ini. "Baik!" segera aku berlari dari kantin rumah sakit ke ruangan. Tapi kosong. Tidak ada pasien di sini. "Dimana pasiennya?" teriakku keluar. "Di sini!" Fadil muncul dari ruangan sebelah, itu adalah ruangan Dion. "Kenapa disana?" "Dokter Dion tidak masuk, dia mengalami pendarahan di lengannya." Aku langsung mel
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


