Bab 224

4725 Words

Suasana hening masih menggantung berat ketika pagi terus merangkak perlahan. Waktu seakan tidak peduli pada luka yang belum sempat mengering di antara dua orang yang saling mencintai, tetapi kini terjebak dalam rasa saling curiga. Tatapan kosong Aira masih tertuju pada Kallandra, sementara pria itu duduk mematung, menahan diri agar tidak lagi memaksakan kata-kata yang tidak akan sanggup menembus dinding yang baru saja dibangun di hadapannya. Derik berikutnya, ketukan di pintu kamar terdengar pelan namun berulang, seakan orang di baliknya sungkan mengganggu meski pada akhirnya tidak punya pilihan lain. Kallandra menoleh dari posisinya, tangannya masih menggenggam bahu Aira yang sedari tadi membeku dalam diam. Ia menghela napas panjang, menyembunyikan sisa isakannya di balik dehaman kecil

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD