Rengekan Lily menggantung di udara, air matanya yang mengalir deras berhasil menarik perhatian Respati yang sejak tadi masih terpaku pada sosok Aira. Ia menoleh, mendapati kekasihnya berdiri dengan wajah yang begitu memelas, tangan kecilnya mencengkeram lengan jas Respati erat-erat. “Curang?” Respati bertanya, suaranya masih terdengar datar meski pikirannya sesungguhnya masih dipenuhi berbagai kebingungan akibat kejadian barusan. “Pokoknya dia curang!” Lily mendesak, isakannya semakin menjadi-jadi. “Kak Respati harus buktiin, kasih dia tantangan lain yang lebih susah!” Respati menatap Lily lama, sebelum akhirnya matanya beralih ke arah Aira yang berdiri diam di dekat papan target. Busur panah masih tergenggam di tangannya. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk melihat lebih jauh, sebuah r

