Aurel tertegun mendengarkan kalimat yang keluar begitu tenang dari bibir sahabatnya. Dadanya sesak melihat bagaimana Aira yang biasanya teguh kini mengambil jalan pasrah demi melapangkan ikatan pernikahan tersebut. “Jadi lo beneran mau ngorbanin hidup lo lagi?” tanya Aurel lagi, berusaha meyakinkan Aira. Narangkali sahabatnya itu masih bisa berubah pikiran. “Bertaruh dengan sebuah pernikahan itu nggak gampang, Ra. Masalah di dalamnya nggak bakal pernah sesimpel yang lo bayangin saat ini. Lo bisa hancur berkeping-keping kalo lo terus mendem luka ini sendirian!” Aira mendongak, menatap mata Aurel lurus-lurus seraya menyunggingkan senyum tipis yang menyembunyikan luka terdalamnya. “Aku sadar betul akan hal itu, Rel,” tutur Aira lembut. “Tapi, aku sudah terlanjur masuk ke dalam hubungan in

