Bab 9

1066 Words
Di markas Respati .... Eric terkulai lemah di atas lantai yang lembap dan pengap. Suasananya gelap. Suhu dingin di sana cukup ekstrem. Ia berdiri. Kedua tangannya diikat dengan rantai yang ada di masing-masing ujung tiang. Kedua kakinya dipaksa terbuka lebar. Lingkaran besi yang terkunci membelenggu kedua lutut di sisi kanan dan kirinya. Pakaian sudah ditanggalkan. Hanya tersisa celana pendek yang menutupi bagian intinya. Wajahnya babak belur. Hidung dan bibirnya berhias darah yang sudah setengah kering. Ruang itu luas. Tiap sisi dindingnya terdapat banyak senjata yang terpajang. Di tiap sudutnya terdapat sebuah papan dengan bentuk yang berbeda. Namun, dari semua hal yang ada di sana, Eric menangkap satu hal--alat-alat itu digunakan untuk menyiksa sekaligus mengeksekusi musuh Respati. Dan sialnya, Eric berada di tempat terkutuk ini sekarang. Ia terperangkap dalam neraka dunia ciptaan Respati. Ceklek! Suara derit menyusul setelah engsel itu bergerak pelan. Benda itu terbuka lebar, memberikan siluet cahaya yang menyorot langsung ke wajah Eric. Pria itu memalingkan wajah. Ia menghindari cahaya yang menyilaukan mata. Bersamaan dengan itu, derap langkah berat terdengar. Eric menggerakkan kepalanya yang pusing secara perlahan. Ia membawa wajahnya menghadap ke arah orang yang makin dekat dengannya. Respati. Pria itu datang dengan senyum bengisnya. Wajahnya yang tidak pernah ramah terlihat gelap karena pencahayaan minim di ruang tersebut. Ia mengenakan baju serba hitam. Mantel yang terbuat dari kulit asli itu menutupi lututnya yang kokoh. Embusan napas beratnya menguar ke udara. Respati memainkan asap rokoknya ke udara setelah ditahan dalam mulutnya beberapa detik. “Menyedihkan.” Satu kata singkat, tapi cukup menghanyutkan Eric lebih dalam. Respati benar-benar bisa mengambil kendali atas kehidupan seseorang. Seringai tipis menghias di bibir yang masih mengapit batang rokoknya. Ia mendudukkan dirinya di kursi besi yang berhadapan langsung dengan Eric dalam jarak beberapa detik. Eric hanya terdiam. Jujur, untuk membuka matanya secara penuh saja berat. Luka itu ... terlalu menyakitkan. Ia tersiksa hanya untuk sekadar berkedip. “Waktu dua minggu ternyata tidak cukup memperbaiki dirimu, Eric.” Respati menyilangkan kakinya. Tatapannya lurus pada Eric. Tatapannya seolah-olah tengah memburu mangsa. Tubuh Eric makin gemetar. Bibir yang sudah robek itu membengkak. Warnanya biru pucat. Sementara matanya memerah panas. “S-saya ... saya hanya belum siap, Tuan.” Eric bicara gagap. “Saya nggak tega membuat dia mabuk dan ... minum obat perangssang.” Eric bicara jujur, berharap Respati mau sedikit berbaik hati menghargai kejujurannya. Napasnya terengah-emgah setelah mengucap kalimat yang tidak terlalu panjang itu. Tawa keras Respati terdengar. Tawa itu menggema di ruang luas yang minim ventilasi. Sungguh, sikap Eric terlihat lucu di matanya “Lupa kalau kamu hanya pemeran pengganti?” Tidak ada jawaban. Ingatan Eric diseret pada kejadian dua minggu lalu--pada pernikahan itu. Namun, baru sebentar saja ingatan itu hadir, suara Respati yang memanggil Brian membuat pikirannya kacau. “Perlihatkan lagi padanya, Brian!” perintah itu lantang. “Barangkali dia amnesia.” Brian yang baru saja masuk lantas mempersiapkan sesuatu. Layar laptop menyala. Beberapa kabel dihubungkan ke proyektor. Cahaya lebar yang menabrak sisi dinding mengundang atensi Eric. Ia seperti tengah dihadapkan pada sebuah layar lebar yang sebentar lagi menampilkan film. Respati menoleh ke arah Brian. Ia memberi anggukan, tanda bahwa meminta pria itu memulai. Tidak lama, sebuah video diputar. Sebuah suara lantang dan tegas menyusul. “Saya terima nikah dan kawinnya Aira Rantika Putri binti almarhum Haris Syahdan dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” Video itu terlihat nyata. Eric gemetar makin hebat. Ia mengingat momen sakral itu. Namun, bukan dirinya. Bukan ia yang menikahi Aira. Respati. Ya. Pria itu yang dengan mantapnya melafalkan ijab qobul. Pria itu yang menjadi suami Aira. Dan, malam pertama yang terjadi memang sudah berjalan seharusnya. Aira dan Respati suami-istri yang sah secara agama dan hukum. Hubungan badan yang dilakukan keduanya tidaklah melanggar norma. Dan kenapa semua itu terjadi, tentu jawabannya Eric. Dari awal, pria itu melakukan perjanjian dengan Respati. Ia rela menukar Aira dengan materi dan jabatan. Manipulasi pernikahan itu harusnya tidak terjadi andai Eric mempertimbangkan semuanya. Lantas, setelah semuanya terlanjur, terlambat baginya menawar pada Respati. “Tidak ada hak bagimu memilikinya, Eric.” Fakta itu menghantam pertahanan Eric. Ia memang tidak ada hak atas Aira. Bahkan, pria tersebut hanya pemeran pengganti. Sebatas pria yang membodohi Aira karena membuat perempuan itu percaya bahwa yang menikahinya adalah dirinya. Respati kembali memberi kode pada Brian. Asisten pribadinya itu kembali memutar sebuah video. Tatapan Eric kembali terpaku ke dinding. Suara desahan Aira terdengar jelas. Perempuan itu bahkan berulang kali menyebut namanya di ujung pelepasan. Pikiran Eric makin panas. Meski tidak bisa melihat jelas bagian tubuh Aira dan Respati--karena sudah disensor--tetapi ia bisa mendengar bagaimana suara-suara sensual itu menusuk telinganya. Suara sialan itu makin membuat Eric panas. Pikiran dan hatinya terbakar. Ia menatap lama. Beban di tubuhnya makin berat. “See? Cintanya ... sudah habis pada bajiingan sepertimu.” Eric ingin memberontak. Makin jelas suara desahan Aira, makin kacau pula pikirannya. Ia menggeleng. Berusaha mengusir. Berusaha menulikan telinganya. Namun, makin ia berusaha, makin keras pula volume dari video tersebut. Brian sengaja melakukannya supaya makin puas menenggelamkannya dalam kebimbangan. “Ini hasil dari pilihan b*****h sepertimu.” Respati langsung berdiri. Ia mematikan sendiri video tersebut. Sekarang pria tersebut berjalan mengelilingi tubuh Eric. Pria babak belur itu tidak ubahnya seperti tahanan yang sedang dijadikan mangsa dan siap diterkam sewaktu-waktu. Lihatlah. Betapa menyedihkannya tubuh yang sudah dipenuhi lebam dan luka akibat cambukan anak buah Respati. “Saya memintamu bermain, Eric,” kata Respati. Nadanya datar. Tidak ada tekanan maupun intimidasi. Satu tangannya meraih sebuah anak panah yang tajam. Membakarnya beberapa saat dalam bara api yang menyala di sebuah tungku. Ia mengangkatnya sejajar dengan wajah, menunjukkannya di hadapan Eric. “Bukan berarti kamu berhak menyentuh, apalagi sampai melakukan hal intens sampai-sampai kamu berhak menerima perlakuannya sebagai istri.” Napas Eric makin pendek. Wajahnya mundur, berusaha menjauh dari anak panas yang ujungnya panas akibat pembakaran itu. Tanpa aba-aba, bagian ujung yang panas itu Respati letakkan di telapak tangan kanan Eric. Dua anak buahnya yang berjaga langsung memaksa pria tersebut menggenggamnya. “Arghhh ....” Teriakan itu tidak lagi keras, tetapi makin lemah dan lemah. Panas itu pasti akan membuat seluruh bagian telapak tangannya melepuh. “Ini permulaan,” ujar Respati dengan nada tenang, meski pria di depannya mengerang kesakitan. “A-ampun, Tuan ....” Eric memohon ketika merasa tak tahan lagi. “Beri saya kesempatan. Saya akan melakukan apa pun.” “Apa pun?” Respati menyahut cepat. Eric mengangguk lemah. “Ya, Tuan. Apa pun asal Tuan memberi saya kesempatan dan melepaskan saya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD