Bab 5

1149 Words
“Siapa, Mas?” Aira bertanya setelah Eric mematikan panggilan tersebut. Ia mengusap air matanya yang terus menetes. Ketakutan itu makin mengikis ketenangan yang sempat ada di tengah tangisnya. “Aku harus pergi, Ra.” “Tapi, pembicaraan kita belum selesai, Mas.” Aira mencegah. Kedua kakinya turun cepat. Ia berdiri telat di depan Eric. Menggenggam pergelangan pria itu, berharap bahwa suaminya tidak pergi. Eric melepas genggaman Aira. Ia menghela napasnya lelah. “Nanti aku kabari. Aku pergi dulu.” Aira hanya terdiam. Ia menatap kepergian suaminya dengan berat hati. Jujur, melepas Eric pergi dalam kondisi hubungannya yang tak baik, ia tidak tenang sama sekali. Namun, bagaimana lagi. Aira tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak pernah mampu melarang apa pun kegiatan Eric semenjak awal mereka menjalin hubungan. Di lain sisi, mobil Eric kini melaju cepat ke arah kantor tempatnya bekerja. Tempat itu hanya berjarak lima belas menit hari hotel yang masih ditempati. Mobil pria itu masuk basemen. Ia turun dengan tergesa-gesa. Langkahnya lebar. Cepat. Eric menghampiri lift. Menekan tombol hingga pintunya bergeser perlahan. “Halo, Sayang.” Mata Eric melebar. Ia membeku beberapa saat. Nadia. Kekasihnya ada di sana. Menampilkan senyum tipisnya yang hangat. Belum sampai bereaksi, tangannya ditarik cepat oleh Nadia. Pintu lift itu tertutup. Menelan bayangan Nadia dan Eric yang sudah ada di dalam sana. “Kamu ngapain di sini, Nad?” Eric bertanya curiga. Nadia berdecak kesal. Ia mengibaskan rambutnya yang jatuh ke depan. Menyelipkan helainya yang berantakan. “Kangen sama kamu tau, Ric.” Wanita itu bergelayut manja di lengan Eric. Kepalanya bersandar di d.a.da bidang pria tersebut. Ia mengusap wajah kekasihnya. “Tapi, ini di kantor, Nadia. Kamu tau konsekuensinya punya hubungan sama orang satu kantor, ‘kan?” Eric memprotes. Ia keberatan dengan sikap Nadia yang sering kali tidak bisa mengontrol. Wanita itu sering mencuri waktu untuk sekadar menemui dan melakukan adegan intens dengannya. “Aku nggak mau tau, Babe.” Nadia mengangkat kepalanya. Menatap wajah Eric dari bawah. “Pokoknya nanti malem kamu harus nemenin aku di apart.” Pria itu memijat dahinya. Satu masalah saja belum selesai. Sekarang masalah baru hadir. Kekasihnya meminta supaya ia menemani. Eric menggeleng. Ia menatap Nadia. “Aku nggak bisa, Nad. Ada hal yang harus aku selesaikan.” Nadia mendesah panjang. Ia melepas pelukannya di tubuh Eric. Tatapan yang semula penuh rindu kini berubah menjadi kekesalan yang bertahan. Ia bersedekap d.a.da. Menatap muak ke arah sang kekasih. “Oh, jadi, sekarang kamu lebih milih cewek cadaran itu daripada aku?” “Bukan begitu, Nad. Aku harus—hmmpt.” Ucapan Eric terpotong saat Nadia lebih dulu menciumnya. Wanita tersebut melampiaskan kemarahannya dengan caranya sendiri. Pria itu sempat terkejut, sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Ia menarik pinggang Nadia supaya jaraknya makin dekat. Keduanya saling mendekap. Mencium. Melumat. Eric bahkan melampiaskan semua kegundahan yang masih tertahan melalui ciuman tersebut. Momen intens itu berlangsung selama beberapa saat. Sampai ketika pintu lift terbuka, Eric melepas pagutannya. Ia mengusap bibirnya yabg basah dengan cepat. “Aku ke ruang Tuan Respati dulu.” Nadia mengangguk. Ia tersenyum nakal pada kekasihnya. Pintu lift itu dibiarkan tertutup. Membawa dirinya dalam bayangan yang makin tak terlihat oleh Eric. Eric berbalik badan. Ia terlonjak ringan saat mendapati Brian ada di sana. Helaan napasnya terdengar panjang. Senyum canggungnya terbit. “Kamu sama Nadia—“ “Ah, iya, Pak Brian. Tadi kebetulan bareng dari lantai tiga.” Brian terdiam. Tatapannya tajam. Ia memperhatikan wajah Eric baik-baik. Senyum liciknya lantas terbit. “Ingat baik-baik peraturan di kantor ini, Eric. Atau ... kamu mau keluar sebelum jabatanmu naik?” Eric menggeleng cepat. Ia menunduk. Sial sekali. Brian sudah pasti curiga. Dan bisa saja tangan kanan Respati itu membeberkannya. “Saya cuma ngobrol biasa, Pak Brian.” Brian terkekeh, mengejek. Ia berbarik. Satu jarinya bergerak, meminta Eric mengikuti langkahnya. Begitu sampai di depan ruang Respati, Brian mendorong pintu tersebut. Ia berjalan lebar. Menghampiri Respati yang duduk di kursinya dalam posisi membelakangi pintu. Punggung lebar itu terlihat. Asal dari keretek yang tengah dihisap mengepul di udara. Sementara satu tangannya yang bertumpu di pinggiran kursi, memainkan korek api berulang kali. “Dia sudah datang, Tuan.” Brian berujar tenang. Ia menatap tuannya yang masih menghadapi ke kaca besar ruangannya. Respati tidak memberi jawaban. Satu tangan yang memegang keretek di sela jarinya terangkat ke udara. Menggerakkannya ringan, memberikan kode agar Brian meninggalkan ruang tersebut. Brian mengangguk, meski tidak dilihat oleh Respati. Ia meninggalkan ruang tersebut. Kini Eric berdiri kaku di sana. Satu tangannya menggenggam pergelangan yang lain. Wajahnya tegang. Kepalanya menunduk. Detik berikutnya, kursi itu kemutar 180 derajat dari posisi sebelumnya. Ia menatap cara Eric berdiri dalam jarak beberapa meter dari kursinya. Respati mengambil sebuah map dari meja kerjanya yang rapi. Ia memperhatikan Eric yang masih diam. Brak! Suara itu terdengar keras. Map menghantam lantai. Tubuh Eric terlonjak. Kakinya mundur ringan. Rasa gugupnya makin menjadi. “Take it.” Perintah itu terdengar dingin. Suara beratnya seperti hantaman ombak ke batu karang. Eric mendongak. Matanya sempat bertemu tatap dengan mata tajam Respati meski hanya beberapa detik. “Now!” Perintah kedua terdengar seperti desakan yang harus segera ditunaikan. Maka dari itu, tubuh Eric membungkuk. Ia mengambil map yang tergeletak di lantai dan berjarak beberapa senti dari ujung kakinya. “Ini ... apa, Tuan?” Eric bertanya dengan suaranya yang tegang. Satu alis Respati naik. Ia mengisap kereteknya lagi. Netranya memicing tajam. “Saya perlu hitam di atas putih.” Tidak ada tekanan. Tidak ada desakan. Hanya suara rendah yang mengisi atmosfer tegang dalam ruang tersebut. Namun, Eric tahu. Nada bicara Respati yang demikian justru paling berbahaya bagi seisi kantor seratus lantai lebih itu. “Saya tentu bersedia, Tuan.” Respati menegakkan punggung. Ia mematikan keretek itu dengan menekan ujung ke permukaan asbak. Pria tersebut menatap tajam ke arah Eric. Tatapan itu ... seperti hendak menguliti Eric hidup-hidup. Ia menelan ludahnya susah-payah. Tangannya yang memegang map makin gemetar. “Baca baik-baik.” Eric membuka map itu. Gerakannya kaku. Buru-buru. Tiap lembarnya hanya dibaca sekilas. Tidak ada keinginan untuk memperhatikan tiap barisnya. Sampai akhirnya, ia mengambil pulpen yang terselip di antara lembaran kertas dalam map itu. Menggoreskan tanda tangannya ke beberapa lembar berkas tersebut. Respati tersenyum penuh arti. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulut dibaca ketika Eric membawa berkas itu ke hadapannya. “Sudah semuanya, Tuan.” Map itu dibuka oleh Respati. Memastikan tiap lembar sudah terisi tanda tangan resmi dari Eric. Kini ia mengambil sebuah pisau kecil di sisi laptopnya. Melempar benda itu hingga mengenai tepat ke d.a.da pria di depannya. Ia menunjuk bagian terakhir yang ada di berkas tersebut. “Gunakan darah kamu.” Eric membelalak. “Ta–tapi, Tuan ....” Kalimatnya menggantung saat melihat tatapan penuh intimidasi dari Respati. Tanpa pertimbangan, Eric menggores kecil ujung ibu jari tangannya. Darah itu keluar dari luka yang diciptakan sendiri. Ia mendekati Respati. Menekan permukaan ibu jari tangannya secara penuh ke sisi kertas yang ditunjuk Respati. “Bawa dia ke acara saya nanti malam.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD