Kallandra tersenyum tipis, mengecup punggung tangan Aira dengan lembut. “Kamu nggak perlu berterima kasih terus-terusan. Justru saya yang beruntung, karena bisa kenal kamu, bisa jatuh cinta sama kamu.” Mereka duduk dalam keheningan yang jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya, hanya diselingi suara napas Aira yang perlahan mulai teratur kembali setelah tangisnya mereda. Kallandra masih menggenggam tangan Aira erat, membiarkan kehangatan itu menjadi jembatan yang menyalurkan ketenangan di antara mereka berdua. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponsel Kallandra yang tergeletak di dasbor mobil tiba-tiba bergetar keras. Nada dering yang cukup mendesak memecah suasana damai yang baru saja mereka bangun. Kallandra melirik layar ponselnya, alisnya sedikit terangkat melihat nama ya

