Bab 147

5000 Words

Pukulan di daada Respati mengeras, perempuan di hadapannya berusaha mencuri udara di antara impitan pergerakan pria itu. Aira merasa semakin tertekan dan sesak. Namun, sayangnya dorongan tangan Aira yang lemah sama sekali bukan tandingan untuk kekuatan Respati yang tengah diselimuti amarah dan ego. Dalam satu gerakan kilat, Respati mencengkeram kedua pergelangan tangan Aira dan menguncinya di atas meja marmer yang dingin. Wajah sendu Aira menyamping, deru napasnya terdengar memburu, bola mata hitam legam miliknya berkeliaran penuh ketakutan. “Lepaskan... saya mohon, lepas!” Bisikan mengalir patah-patah dari kerongkongan Aira yang tercekat. Di bawah lampur dapur, terlihat bulu mata lentiknya basah kala ia mengerjap. “Jangan lakukan ini, Tuan….” Rahang Respati bergerak kaku. Mata tajam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD