Tanpa peringatan, Respati mencengkeram dagu Aira dengan jemarinya yang lebar dan kuat, memaksa wajah perempuan itu berputar kasar untuk menatap lurus ke arah matanya yang berkilat penuh amarah dan kegilaan. “Aira!” geram Respati dengan suara bariton rendah dengan sarat ancaman mematikan. Aira membelalak ketakutan, meringis pelan saat cengkeraman Respati di dagunya makin menekan, tetapi perempuan itu tetap memancarkan binar perlawanan dari matanya yang sembab dan berkaca-kaca. Respati memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Hawa napasnya yang hangat dan memburu berembus di kulit pipi Aira yang pucat. “Jangan mencoba memancing emosi saya lebih jauh, Aira,” bisik Respati dingin. Sorot liar di matanya menyala makin pekat. “Kamu pikir kamu punya posisi untuk mem

