Bab 232

4716 Words

Rasa sakitnya datang belakangan. Yang pertama muncul justru kekosongan. Paru-parunya menolak bekerja, dan untuk beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang, ia tidak bisa menarik napas sama sekali. Tubuhnya melipat ke depan. Tangannya sempat meraih lengan Kallandra, mencari sesuatu untuk ditumpu, tetapi jarinya terlepas sebelum sempat menggenggam. Ia jatuh ke lantai marmer. Ruangan tersebut berubah senyap dalam satu tarikan napas. Bunyi terakhir yang terdengar adalah pecahan keramik yang bergeser ketika lutut Aira menyentuh lantai. Setelah itu, tidak ada apa pun. Kania menjerit tertahan dari sisi ruangan. Ia menjatuhkan tas yang sejak tadi masih tersampir di bahunya, kemudian berlari melintasi ruangan tanpa memedulikan pecahan keramik di lantai. Respati berdiri di tempatnya, satu tan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD