Namun, di balik segala keraguan tersebut, ada satu hal yang mulai tumbuh perlahan dalam dirinya, sebuah kesadaran bahwa cepat atau lambat, ia harus menemukan cara untuk menghadapi semua ini, bukan demi siapa pun, melainkan demi dirinya sendiri yang sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang tidak berkesudahan. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Aurel, lampu teras yang menyala hangat menyambut kepulangan Aira. Ia melepas sabuk pengaman, menoleh sekali lagi pada Mahendra sebelum benar-benar turun. “Makasih sudah mengantarku, Mas,” ucap Aira, tersenyum tipis meski masih menyisakan kelelahan yang jelas terlihat. “Sama-sama, Ra,” jawab Mahendra, membalas senyuman tersebut dengan tulus. “Kalau kamu sudah siap, hubungi saya. Saya bakal jemput kapan pun kamu mau.” Ia sempat

