Ruangan VIP tersebut mendadak hening, hanya menyisakan detak jantung Aira yang memburu menahan amarah yang tiba-tiba meluap. Brian yang duduk di samping Dion langsung menundukkan kepala, tidak berani ikut campur dalam situasi yang mendadak memanas tersebut. Dion sendiri hanya diam. Matanya bergerak bergantian menatap Respati dan Aira, seakan sudah cukup terbiasa menghadapi reaksi semacam ini dalam pekerjaannya selama ini. “Turunkan suara kamu.” Respati memberi peringatan dengan nada dingin. Matanya menyipit tajam ke arah Aira. Nadanya bukan permintaan, melainkan perintah yang tidak menyisakan ruang untuk dibantah. “Maksudnya apa, Mas?” Aira membalas cepat. Suaranya bergetar menahan emosi yang sudah tidak sanggup ia bendung lagi. Ia mendorong kursinya sedikit ke belakang, seakan butuh

