Dua pria tersebut sudah mengungkung tubuh Aira dari kedua sisi. Tangan pria gempal itu masih mencengkeram bahunya, sementara pria bertato mendekatkan wajah dengan seringai menjijikkan. Udara di ceruk tebing karang itu mendadak begitu pekat oleh keputusasaan yang merayapi setiap sudut pikiran Aira. Di bawah pendar cahaya rembulan yang terang, Aira merasakan bulu kuduknya berdiri akibat hawa dingin yang beradu dengan panas aneh yang mulai merayapi aliran darahnya. Namun, belum sempat salah satu dari mereka benar-benar menyentuh lebih jauh, suara berat menggelegar dari arah belakang mereka. "b******k!" Makian itu menggelegar. Keras dan menghantam. Tepat saat kedua pria tersebut menoleh, Respati sudah lebih dulu menghantam tubuh mereka tanpa ampun. Bagaikan pemangsa yang didorong oleh inst

