Alexa

914 Words
*** Kicau burung dan cahaya mentari yang membias menyadarkan lamunanku. Dari semalam, sejak aku kembali dari rumah wanita itu, aku hanya termangu di ruang tamu menatap nyalang pada pigura yang menampilkan photo pernikahan kami, dengan ekspresi paling indah, bahagia. Kontras kalimat cinta dan setianya dengan pemandangan yang aku saksikan semalam. Ketika kubuka pintu rumah,seketika bayang kebahagian dan canda kami berkelebat dan menari-nari di sekitarku, bagaimana kami berbagi suka dan duka, peluk dan tawa. Kuarahkan pandanganku ke pigura itu, dan begitulah aku hanya terpaku hingga matahari terbit, bagaimana aku akan menumpahkan kekesalanku? bagaimana aku selanjutnya ... Apakah akan mempertahankan rumah tanggaku? bagaimana juga aku akan mengatasi wanita itu? semua tanya dan pikir itu saling bergantian dan berputar-putar seperti rekaman yang di-rewind. Bahkan hendak menangis rasanya air mata ini sudah kering. Perut yang terasa pedih karena lapar dan tenggorokan yang kering oleh lelah tak membuatku bangkit untuk mencari pengganjalnya. Masih di sini, bergeming di depan pigura, di antara rasa sakit dikhianati dan dibodohi. Treek .. Suara handel pintu diputar, daunnya bergerak dan suamiku ada di balik pintu. Ia memasuki rumah dengan pandangan yang heran sekaligus terkejut melihat penampilanku. "Sayang, ada apa? Ka-kami kenapa, kenapa kamu kacau seperti ini?" Ia menghampiri kaget melihat wajah sembabku dan rambutku yang sudah seperti singa merana. "Aku gak apa-apa," jawabku dingin sambil menepis tangannya, sejurus kemudian aku bangkit menuju kamar mengganti pakaian dan merebahkan diri di ranjang. Mas Aldo menyusulku dan duduk di tepi ranjang tempat aku berbaring. "Kenapa sayang, kamu sakit ya? Maaf ya aku gak pulang semalam, ketiduran di rumah teman." Hah, bohong lagi! Aku tidak menanggapinya, aku lelah. Lelah hati, tubuh dan jiwa. Lebih baik aku beristirahat saja. *** Hari sudah sore ketika aku terbangun, perlahan beringsut dari pembaringan, menuju kamar mandi membersihkan diri. Saat aku tengah mengambil handuk, kulihat suamiku sedang mondar-mandir sambil berbicara di ponsel. "Alexa, sorry, aku gak bisa datang sore ini, sepertinya Dewi sedang sakit, sorry banget," Ia berbicara sambil sesekali mengacak rambut dan menggigit bibir bawahnya. "Iya ... Aku ngerti sayang, tapi istriku juga butuh aku temani, dia lagi sakit," ucap suamiku. "Begini saja, besok aja ketemuannya ya, Dewi gak nyari perhatian, kok. Dia memang kelihatan sakit. Iya ... Tenang aja sayang, ntar kuurus semuanya. Ok? Daah." Suamiku menutup ponselnya lalu masuk, aku segera mandi dan segera mengganti pakaian. Berusaha sekuat mungkin bersikap biasa saja. Dan ya, apa tadi wanita itu menyebutku? Cari perhatian? Hmm, akan kutunjukkan padanya, bagaiman ia akan mencari bantuan dan perhatian dalam arti yang sebenarnya. ** Kudadar telur dan memanggang empat potong toast lalu menuangkan dua gelas jus, sementara menunggu pesanan dari Gofood, aku akan menghidangkan selingan ini dan secangkir kopi untuknya. "Mas Aldo, ayo makan." Aku memanggilnya. Ia segera bangkit dari rumah tivi dan menemui ku di meja makan. "Kamu sudah baikan sayang? Kalo masih gak sehat, gak usah merepotkan diri, deh." "Gak, aku baik baik saja," sangkalku. Kami lalu menikmati makanan tanpa banyak bicara, tenggelam dalam kebisuan saja. "Eh, tumben diam," godanya sambil mencolek lenganku. Aku hanya menyunggingkan senyum tipis diantara kekesalan dan sakit hatiku. * Sore ini kuputuskan untuk pergi ke pusat kebugaran, hari Sabtu memang jadwalku berolah raga di pusat fitness langgananku. Sedang asyik berjalan di treadmill ketika seorang wanita menyapa. "Hai, boleh nge-tread di sini," tanyanya. "Boleh silahkan," jawabku masih sibuk berlari sambil memperhatikan layar treadmill. Ketika kutolehkan wajah wanita yang memakai baju olah raga slimfit pink itu, melempar senyumnya. Ingin kuraih barbel dan kuhempas di kepalanya saat ini juga, namun, ... Ah sayang. "Alexa, tunggu balasan gue," batinku. Tak lama berselang, wanita bertubuh seksi itu, sudah membaur dengan anggota lain di klub fitness. Ia menyapa dan bergaul bagai ratu sejagad yang sok cantik. Aku memaklumi, ia wanita kelas menengah yang baru mencicipi kemewahan dari uang suami orang, seperti terbang ke angkasa dan merasa pantas menggunakan semua fasilitas ala orang kaya. Ha ha, memalukan. "Eh, Jeng Alexa, selamat bergabung di klub kami," sapa salah seorang teman kami. "Eh, iya, makasih," sambutnya. "Jeng Alexa cantik ya," puji wanita itu lagi. "Iya dong Bu, kalo gak cantik ntar suami saya lari, dan mencari wanita yang lebih hot, cantik dan memuaskan, heheh," jawabnya sambil meringai dan melirik samar ke arahku. Aku mengerti ia tengah menyindirku, istri dari kekasihnya. Daripada aku kegerahan dengan ucapannya, kuputuskan untuk mengganti pakaian dan pulang. Ketika mengganti pakaian dan membereskan tasku, wanita binal itu menyusul dan kebetulan sekali, aku hanya sendiri di ruangan itu. "Eh, sudah mau pulang ya, Mbak," katanya sok dekat. Aku membalik badan dan menatapnya tajam. "Kenapa? Memangnya kenapa?" tentangku sambil melotot ke arahnya. "Gak usah ngegas kali, Mbak. Santai aja, aku kan, gak menyinggung Embak," jawabnya santai. "Enak ya, menikmati fasilitas sebagai simpanan seorang pengusaha," sindirku. Ia yang tengah mencuci mukanya, berhenti sesaat dan bangkit menghampiriku. "Ngomong apa kamu? Berani sekali, dasar perempuan tidak berguna," cecarnya dengan lantang. Aku tersenyum dan seketika saja, kulayangkan tendangan tinggi ke wajahnya. Bugh ... Ia yang tidak sigap dengan aksiku langsung tersungkur dalam posisi menelungkup. "Arrggg ... ," teriaknya, namun tak seorangpun mendengar. Sebelum ia sempat bangkit, kuhampiri dan kuinjak pahanya dari belakang lalu kutarik kunciran rambutnya hingga ia memekik kesakitan. "Aw, awwg .. hentikan ... Stop ... Sa-sakit.. ih," rintihnya. "Masih ingin menghina saya?" tanyaku sambil terus menarik rambutnya dengan kasar. "A-a ... Gak lagi, mbak," ratapnya. "Ingat ... Saya tidak lemah, saya akan memberimu pelajaran terhadap apa yang telah berani kamu lakukan pada rumah tangga saya, dasar wanita jalanan!" ucapku sambil melepasnya kasar. Kutinggalkan ia dengan posisi dan wajah yang masih shock dan pias. "Hmm, ini baru permulaaan ... tunggu lanjutannya.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD