Detik-detik yang bergulir terasa menyiksa dan membuatku sangat tak sabar menunggu kedatangan Mas Roni dari rumah Dana. Kucoba menghubungi ponsel, namun offline, chat juga tidak dijawab. "Baik, Mas Roni, jika itu maumu," gumamku dalam hati. Akan kuraih koper yang telah dua kali kuisi tapi selalu urung kubawa pergi. Tapi kupikir untuk, apa aku harus lari dari kenyataan. "Tidak lagi-lagi begini, aku tidak boleh lemah, sampai kapan aku akan membiarkan orang lain memenangkan apa yang seharusnya menjadi hakku, dulu aku bebas kemana saja dan menentukan pilihan, namun kini aku punya bayi yang akan meneruskan keturunanku dan Mas Roni, juga mewarisi sebagian perusahaan besar yang dibangun oleh suamiku." Bagaimana aku akan begitu bodoh untuk melepasnya begitu saja tanpa pernah berfikir panjang?

