Husband 35

1082 Words
Beberapa minggu ini Jian dan Jasmine sibuk dengan rencana pembangunan Resort mereka yang sudah mereka diskusikan dengan pihak yang terkait dan juga mereka sudah mulai menggaet beberapa investor yang mau mengucurkan dana untuk pembangunan Resort yang bisa dibilang tidak lah sedikit membutuhkan dana. “ Bagaimana kalau lusa kita pergi untuk melihat tempat yang akan kita gunakan sebagai pembangunan Resort” usul Jasmine membuat gerakan tangan Jian yang kini tengah bergerak di atas keyboard terhenti " Lusa, kalau begitu aku akan memeriksa jadwal mu terlebih dahulu "jawab Jian yang memang tidak bisa langsung menyetujui usulan Jasmine karena dia harus melihat beberapa rapat dan juga acara-acara penting yang mungkin akan Jasmine hadiri “ tidak perlu, aku sudah memastikannya untuk seminggu ke depan Aku tidak mempunyai Janji temu dan juga rapat penting "ucap Jasmine membuat Jian pun menaikkan sebelah alis nya melihat Jasmine yang terlihat sangat antusias " Baiklah aku akan mengurus semuanya” ucap Jian setelah itu kembali fokus pada layar datar di hadapannya, sedangkan Jasmine terdiam di seberang Jian, Entah kenapa ada orang yang mengatakan bahwa laki-laki yang sedang bekerja terlihat 3 kali lebih memesona dan Jasmine menyetujuinya ketika melihat Jian yang kini fokus pada layar datar di hadapannya dengan kacamata yang selalu tidak lepas bertengger pada pangkal hidung yang membuat Jasmine tanpa sadar menarik sudut bibirnya, Jasmine kemudian menyipitkan matanya setelah itu berjalan mendekat kearah Jian  " mendongak lah "ucap Jasmine yang kini sudah berada di sisi Jian membuat Jian pun menatap kearah Jasmine sambil mendongakkan wajahnya karena posisi Jasmine yang kini berdiri di sampingnya, Jasmine kemudian mengulurkan tangannya dan meraih kacamata yang sedang Jian kenakan membuat Jian sedikit mengerutkan pandangannya menatap ke arah  Jasmine " Apa kau tidak lelah selalu menggunakan kacamata ini "tanya Jasmine membuat Jian kembali menurunkan pandangannya  "mungkin karena sudah terbiasa menggunakannya "jawab Jian setelah itu Jasmine menundukkan  wajahnya dan menatap wajah Jian lekat lekat, dari jarak sedekat ini membuat Jian sedikit memundurkan wajahnya “Sejak kapan kau mengenakan kacamata?" Tanya Jasmine membuat Jian sedikit berpikir "mungkin semenjak aku sekolah menengah pertama " jawab Jian malah membuat kerutan di kening Jasmine semakin terlihat dalam “ tapi aku heran selama itu kau mengenakan kacamata tapi tidak memberikan bekas pada sisi pangkal hidungmu itu "ucap Jasmine sambil menatap ke arah kiri dan kanan sisi wajah Jian membuat Jian akhir nya  membuang pandangannya " entahlah mungkin aku beruntung " jawab Jian membuat Jasmine pun menatapnya sambil menyipitkan matanya “ Bukankah Seharusnya orang yang selama itu memakai kacamata mempunyai tanda bekas kacamata di kedua sisinya”  ucap Jasmine namun ketika Jian hendak kembali menjawab pertanyaan Jasmine Jasmine memotong nya “baiklah, lupakan saja perkataan ku, Lihatlah Kacamatamu ini berembun ini juga terlihat kotor di mana kotak Kacamatamu? "Tanya Jasmine yang saat ini memang sedang berada di ruang kerja Daddy nya yang kadang memang digunakan pula oleh Jian karena Jasmine pernah masuk ke kamar Jian dan melihat beberapa berkas berserakan di tempat tidurnya membuat Jasmine akhirnya memperbolehkan Jian untuk menyimpan semua berkas-berkas kerjanya di ruang kerja peninggalan ayahnya dan Jasmine mengizinkan Jian untuk selalu bekerja di ruang kerja Daddy nya, Jasmine tidak ingin melihat kamar Jian  berantakan dengan semua berkas-berkas kantor. Jian kemudian menunjuk ke atas nakas yang berada di sudut ruangan tempat kotak kacamatanya berada membuat Jasmine pun berjalan dan mengambil kotak tersebut untuk mengelap kacamata Jian setelah itu membersihkannya sebelum kembali berjalan kearah Jian dan memasangkannya dengan benar "Lihatlah sudah bersih Jadi kau sudah bisa melihat dengan jelas kembali” ucap Jasmine yang membuat Jian pun membenarkan letak kacamata tersebut, Jasmine sedikit memiringkan tubuhnya menatap kearah layar datar di hadapannya “Apa yang sedang kau kerjakan? "Tanya Jasmine membuat Jian   sedikit bergumam " sedikit pekerjaan di kantor yang belum Aku selesaikan "jawab Jian “ kalau begitu biar aku yang bantu" Ucap Jasmine  membuat Jian langsung menggelengkan kepalanya  "tidak perlu hanya tinggal sedikit lagi "ucapnya nak seolah tidak menerima tawaran bantuan dari Jasmine membuat Jasmine memutar bola matanya malas, Jasmine kemudian beranjak dari duduknya berjalan untuk kembali mengitari lemari Tempat buku-buku peninggalan daddy nya berada sedangkan Jian menatap punggung Jasmine, Jian Bukannya tidak ingin ditolong oleh Jasmine tapi yang saat ini dia kerjakan bukanlah tentang laporan kantor yang dia kerjakan melainkan laporan tentang galeri seni yang dia pegang dan Jasmine tidak mengetahuinya dan menurut Jian dia tidak perlu tahu dengan urusan nya yang satu ini karena tidak ada sangkut-pautnya diantara mereka Jasmine pun pasti tidak akan peduli jika sendirinya mempunyai galeri seni atau tidak pikir Jian. Jasmine kemudian menarik salah satu buku yang sering dibaca oleh Daddy nya tersebut setelah itu membawa nya dan duduk di hadapan Jian yang masih fokus pada layar laptopnya, Mereka kemudian terdiam dengan kegiatan mereka masing-masing Jasmine yang sudah mulai terhanyut dengan buku yang dibaca sedangkan Jian yang tinggal sedikit lagi membereskan laporannya, tanpa dia sadari suasana Hening tersebut membuatnya lupa waktu membuat Jian akhirnya meregangkan kedua tangannya setelah pekerjaannya selesai dan mata ke arah Jasmine yang kini Sudah terlelap dengan buku yang berada di dadanya dalam posisi tertidur membuat Jian menarik sudut bibirnya Jian tidak tahu Sejak kapan istrinya itu terlelap padahal Jasmine  bisa saja pindah ke kamarnya untuk membaca tapi entah kenapa Jasmine malah duduk di hadapannya. Jian kemudian membereskan laptop dan juga beberapa berkas yang masih berada di atas meja sebelum mendekat kearah Jasmine setelah membungkukkan tubuhnya dan menatap ke arah istrinya tersebut Entah kenapa Jian merasa sedikit lega karena sejauh ini Jasmine masih belum protes tentang pernikahan mereka dan sepertinya Jian masih bisa mempertahankan janjinya kepada Ronald tapi dia tidak tahu Sampai kapan Jasmine bertahan dengan hubungan ini membuat Jian pun terdiam, Apakah hubungannya akan baik-baik seperti ini untuk  ke depannya dengan Jasmine jika tidak Apakah Jasmine akan memilih berpisah dengannya membuat Jian langsung menggelengkan kepalanya, pikirannya terlalu jauh sampai memikirkan tentang perpisahan yang  harus Jian lakukan saat ini adalah mencoba untuk terus memperbaiki hubungannya dengan Jasmine agar dia bisa menepati janji nya kepada Ronaldo sampai kapanpun, Jian kemudian meraih buku yang Jasmine pegang meletakkannya kembali pada tempatnya sebelum kembali berjalan kepada Jasmine membopong tubuh mungil istrinya tersebut dan memindahkannya ke lantai dua karena memang ruang kerja milik Ronald berada di lantai satu, menaiki anak tangga perlahan sampai masuk ke dalam kamar Jasmine, Jasmine masih tidur terlelap dengan nyenyak di dalam pangkuan nya, Jian  kemudian menidurkan Jasmine dengan sangat perlahan karena tidak ingin Jasmine terbangun sebelum menyelimutinya, kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan dirinya pun sepertinya butuh istirahat karena harus mempersiapkan kepergian mereka ke Raja Ampat membuat Jian pun akhirnya berlalu meninggalkan kamar Jasmine yang ini tertidur lelap dengan senyum di bibirnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD