Gara berjalan menyusuri trotoar dipinggir jalan, masuk kedalam pemukiman yang cukup padat yang bersebrangan dengan komplek perumahan di sebelahnya. Disanalah terdapat rumah mungil milik Alya, terlihat oleh cahaya kuning dari lampu jalan. Gara dapat merasakan rumah gadis itu seolah hidup dan hangat. Hidup bersama orang-orang yang mereka cintai dengan kehangatan didalamnya.
Tidak seperti rumah miliknya, dingin, gelap, dan tidak ada nyawa didalam rumahnya. Ya, Gara memang tinggal di apartemen, namun ia memiliki rumah dari almarhum ayahnya-Ganda.
Sudah satu jam Gara duduk dikursi pinggir jalan dekat komplek mengamati rumah Alya disebrang jalannya. Dengan pikiran yang masih abu-abu, lelaki itu menarik nafas panjang. Pikiran melanglangbuana memikirkan kenapa dirinya sampai mau seperti ini? Rela dan bahkan meninggalkan pekerjaan pentingnya demi mencari tahu gadis itu. Dulu, ada teman minta tolong saja Gara cuek nya minta ampun. Rasa peduli dan kasihan tidak terdapat dalam hatinya.
Sekarang? Tanpa diminta gadis itu pun Gara malah mati-matian ingin tahu semua tentang Alya. Penasaran dengan gadis itu. Kebiasaannya, keluarganya, kesehariannya sampai kehidupannya pun Gara ingin tahu.
"Lo, bisa bikin gue penasaran." Tersenyum setelah mengatakannya dengan asap rokok mengepul keluar dari mulut dan hidungnya.
Sudah lama lelaki itu tidak merasakan nikmatnya menghisap batang rokok yang dulu adalah kesukaannya bahkan kebiasaannya dan berhenti setelah sahabat-sahabatnya melarang dirinya untuk melakukan kebiasaan itu. Siapa lagi kalau bukan Rama, dan Alexa.
Kali ini? Ya, tidak apa-apa. Hanya sesekali dia menyesap jika sedang banyak pikiran dan menenangkan diri. Paling tidak itu membuatnya sedikit tenang.
Seorang gadis berseragam sekolah berjalan perlahan mendekati Gara yang masih berdebat dengan pikirannya. Tahu siapa yang ia lihat, gadis itu langsung terperanjak kaget.
"Ih bener!" teriak gadis itu. "Kakak cowok nya kakak ku kan?"
Gara melihat dengan ekspresi bingung. Gadis berseragam sekolah itu dengan cepat mendudukkan dirinya di samping Gara.
Gadis itu bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Kakak cowok nya kakak ku kan?" lelaki itu malah angkat bahu. Sepertinya malas menanggapi bocah SMA.
"Ih ni cowok ditanya gak jawab mulu. Untung ganteng jadi aku maafin." gadis berseragam sekolah itu tersenyum. "Jadi, ngapain kakak disini? Nungguin kakak ku? Oh my God, jangan-jangan kakak mau nge-date ya?"
"Maaf, kayaknya kamu salah orang." Akhirnya Gara berbicara.
"Salah orang gimana? Jelas-jelas kakak cowok nya kakak ku."
"Sudah tiga kali kamu bicara kakak cowoknya kakak ku. Mau hadiah piring?"
"Hahaha, ih kakak lucu." Gadis itu malah tertawa terbahak. "Udah ganteng, pelawak lagi."
"Sorry, saya tidak sedang tidak menunggu siapapun." Gara membuang batang rokok yang sudah mulai habis kedalam tong sampah yang ada di pinggirnya.
"Jadi, kakak bukan cowoknya kakak ku?"
Gara memijit kening mendengar kata-kata yang sama yang gadis itu tanya kan.
Ni bocah, datang-datang langsung duduk dan bertanya yang aneh-aneh. Apa bocah itu stres? Begitu pikirnya lelaki itu.
"Saya tidak punya pacar, dan saya bukan pacaranya kakak kamu."
"Jadi, kakak gak pacaran sama ka Alya?" gadis itu berdiri dan hampir pergi meninggalkan Gara.
"Tunggu! Siapa? Alya?"
Gadis itu berbalik dan mengangguk.
"Alya juru parkir? Yang rumahnya itu?" Gara menunjukkan rumah Alya dengan tangannya.
"Iya."
"Kamu bilang, aku pacar nya Alya? Kakak kamu?" sedikit senyum terukir di bibir nya.
"Dari tadi aku bilang gitu kakak gak denger?"
Gara cepat menarik tangan gadis itu untuk kembali duduk.
"Kamu adiknya?"
"Iya, kenalin aku Vina adik kak Alya."
"Aku Gara. Kamu tau aku dari mana?" perasaan lelaki itu, Alya tidak punya foto dirinya dan tidak pernah mengenalkan Gara pada siapapun.
"Dulu pas kalian berdua mau makan deh atau gak tau mau kemana, aku juga kebetulan ada disana. Deket para pedagang kaki lima. Kalau gak salah kata kak Alya kalian mau makan mie goreng spesial."
Gara mengingat-ingat dan ya, waktu pertemuan pertama mereka Gara mengajak Alya makan di pinggir jalan. Tapi itu sudah dua bulan yang lalu dan adiknya ini masih ingat.
"Kamu masih ingat wajahku?"
"Iya lah, wajah ganteng seperti oppa-oppa korea mubazir untuk dilupain."
Adiknya saja ingat, kenapa Alya tidak ingat baru seminggu gue tinggal. Terlebih Alya tidak ingat apapun tentang dua bulan yang lalu. Muncul kembali tanda tanya yang membuat Gara semakin penasaran.
"Apa kak? Gak kedengeran."
"Oh nggak."
"Kakak disini ngapain? Lagi nungguin kakak?"
"Nggak juga, aku disini cuma mencari angin saja."
"Disana kan juga bisa, kenapa harus di sebrang rumah kami?"
"Aku ingin disini." Gara menatap lama rumah Alya. "Aku ingin tanya sesuatu."
"Bilang aja."
"Apa Alya pernah jatuh akhir-akhir ini? Atau sebulan yang lalu?"
"Gak pernah."
"Apa kakakmu pernah tertimpa sesuatu di kepalanya?"
"Gak juga. Kenapa? Cieee perhatian banget sih sama kakak ku."
"Tapi kenapa saat itu sebulan kita tidak bertemu, Alya jadi lupa sama aku. Lupa siapa aku dan lupa kita pernah melakukan apa saja."
Vina langsung diam.
"Aku bahkan harus memperkenalkan diri lagi padanya. Seperti belum pernah bertemu saja. Aku mencoba cari luka atau sesuatu yang membuatnya lupa tapi aku tidak menemukan apa-apa. Barangkali kepalanya kebentur tembok."
Gadis itu membuka ponsel dan mengetikan sesuatu. Bunyi nada dering ponsel tanda ada yang mengiriminya pesan.
"Atau, apa Alya punya penyakit? Atau sesuatu yang membuatnya jadi pelupa?"
Gadis itu masih terus berkirim pesan.
"Vina."
"Ya?"
"Apa kakakmu sakit?"
"Nggak, kata siapa? Dia sehat kok."
"Kata pak Maman dua hari tidak bekerja katanya sakit."
"Oh iya, kemarin kakak ku sakit demam. Tapi sekarang udah sehat kok."
"Boleh aku main kerumah?"
"JANGAN!" teriak Vina membuat lelaki itu kaget.
"Gak malam ini, mungkin nanti pas Alya lagi libur kerja."
"Jangan kak, gak usah."
"Kenapa?"
"Bapak nanti marah kalau ada yang main kerumah."
"Apa hanya itu alasannya?"
"Iya, bapak itu galak tau. Gak pernah ada cowok yang berani ke rumah. Cowok aku aja gak berani." Vina langsung menutup mulut dengan tangannya.
"Padahal aku hanya ingin silaturahmi dengan keluarga kalian."
"Denger ya kak. Bapak tidak mau orang yang datang kerumah akan kecewa."
"Karena?"
"Gak tau, pokonya bapak takut ada yang kecewa, entah itu kak Alya, bapak, atau orang yang bertamu itu sendiri."
"Jadi kapan aku bisa main kerumah."
"Gak tau. Pokoknya jangan dulu."
Lelaki itu semakin penasaran. Alya tidak membolehkan dirinya bertamu, bahkan adiknya juga. Apa yang Alya sembunyikan darinya.
"Tapi, Alya gak sakit kan?"
"Nggak kakak ganteng. Kalau sakit, kak Alya gak bakalan bisa bekerja. Kakak sebaiknya pulang deh, ngapain masih disini. Mau jadi satpam rumah kami?"
"Lah, terus kamu kenapa jam segini baru pulang? Anak gadis lagi. Gak baik pulang malem-malem apalagi cewek, sendirian."
"Kerkel kak." Vina berdiri merapihkan sweater abu nya.
"Apaan kerkel?"
"Ya ampuun. Dasar abg tua. Kerja kelompok kak itu aja gak tau. Banyak tugas disekolah, maklum lah mau kelulusan." Gadis itu pergi berlalu meninggalkan Gara yang juga sedang berdiri merapihkan setelan jas nya.
Sejenak, dirinya teringat sesuatu.
"Vina, tunggu!"
"What?"
"Apa kakak kamu bilang kalau aku pacarnya?"
"Iya."
"Bener?"
"Kak Alya bilang, kakak ganteng, baik, pekerja keras, dan rajin menabung. Katanya jangan tinggalin kak Alya apapun yang terjadi, kakak harus bertahan dengan kak Alya. Aku mendukung kalian." dan gadis itu berlalu masuk ke dalam rumah.
Tergambar garis simpul di bibir lelaki itu.
..