Keluar dari pasar, Fahri menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah warung es cendol. Ia mengecek jam di ponsel dan ternyata sudah hampir dua jam dia ada di dalam pasar. Rasa haus pun menyergap tenggorokan karena terik panas matahari yang bersinar memanggang bumi. “Tolong antarkan ini ke alamat ini ya Pak,” kata Fahri pada seorang tukang becak yang sebagian besar rambutnya sudah tertutup warna putih. Pak tukang becak tersebut membaca alamat rumah Fahri kemudian mengangguk-angguk. “Beres, Mas!” ujarnya. Fahri mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai pembayaran. Karena itu cukup banyak, si tukang becak berkata, “Kebanyakan, Mas. Saya nggak ada kembalian.” “Sisanya buat Bapak saja.” “Wah, beneran Mas? Makasih.” “Sama-sama Pak. Antar sampai tujuan dengan selamat ya Pak ya.” “Pokoknya ama

