Part 1 - Malam Celaka

1184 Words

Suara dari luar kamar terdengar gaduh, membuat Sasmita mau tidak mau harus membuka matanya. Dengan keadaan tubuh yang luar biasa pegal, akibat pesta pernikahan kemarin malam, juga malam pertamanya dengan Agung yang membuatnya terkesan, membuat pipi Sasmita merona.


Oh Tuhan! Jerit Sasmita dalam hati ketika mengingat. Semalam mereka melakukannya di saat masih banyak orang berlalu lalang di luar kamarnya. “Aku mau antar Bulik ke Bandara.” Suara Agung terdengar, membuat Sasmita membalikkan tubuh dan melihat suaminya yang sudah berpakaian rapi menghampirinya. “Apa daerah di bawa sana, Dek?” Tanya Agung sembari menatap tubuh bagian bawah Sasmita yang sudah tertutupi oleh baju terusan.


“Ya—Ahh. Maksud aku sedikit.” Ujar Sasmita tersipu. Agung tersenyum, dia mencuri satu kecupan di bibir ranum istrinya. “Maaf ya, karena Mas kamu harus merasakan sakit. Nanti kita coba lagi ya? Semoga bisa dan tidak sesakit semalam.”


Pipi Sasmita semakin memerah seperti kepiting tomat. “Astaga. Jujur Mita malu, Mas.”


Agung tertawa ringan. Tawa yang mampu menyejukkan hati Sasmita. “Malu kenapa? Toh aku sudah melihat tubuh kamu dan tahi lalat di pinggangmu.”


“Mas Agung, Oh Tuhan!”


Agung menyeringai, dan mengecup pipi istrinya. “Ayo keluar. Nggak enak to sama Bulik kalau kamu nggak keluar dari kamar.”


“Tapi aku belum mandi.”


“Nggak apa – apa. Hanya sampai depan, lalu setelah itu kamu bisa mandi.”


Sasmita mengangguk. Dia turun dari ranjang mengekori Agung keluar kamar. Di luar kamar, beberapa saudara mulai menggodanya, “Cie – cie yang semalam pecah telur.”


“Mana rintihannya terdengar lagi.”


“Bagaimana rasanya pecah telur, Mbak Mita? Sakit tidak?”


Dan godaan – godaan lain yang membuat pipi Sasmita merona. “Wes to. Ojo ganggu Sasmita terus.” Ujar Bulik Sasmita dari pihak Ibu.


“Maaf yo, Nduk. Repot in suamimu, padahal kalian masih pengantin baru.”


“Nggak apa – apa, Bulik. Terima kasih sudah mau datang ke pernikahan Mita.”


“Harus datang. Kamu kan keponakan kesayangan Bulik.”


Bulik memeluk Sasmita erat, “Semoga lekas di beri momongan ya, Nduk. Maaf karena Pras tidak bisa datang. Dia masih ada urusan bisnis di China.”


“Tidak apa – apa, Bulik.”


“Bulik juga hati – hati di jalan. Sampaikan salam Mita ke Mas Pras, kalau sudah pulang.”

“Tentu, akan Bulek sampaikan.”


Bulik sudah masuk ke dalam mobil. Hanya tertinggal Agung yang sebagai sopir belum masuk ke dalam mobil karena ingin menghampiri Sasmita. “Mungkin sepulang Mas mengantar Bulik, Mas mau mengambil barang – barang di rumah.”


“Iya.” Sasmita mencium punggung tangan Agung. “Hati – hati di jalan. Sampaikan salam Mita pada Mama, Mas.”


Agung mengangguk, sebelum mengecup puncak kepala Sasmita penuh kasih sayang.


**


Saudara – saudara Sasmita satu persatu sudah pulang ke rumah masing – masing. Di rumah hanya tertinggal Bapak, Ibu, Sasmita dan adik Sasmita yang masih menginjak akhir bangku sekolah dasar.


Ah jangan lupakan Agung yang kemarin pagi telah sah menjadi suaminya.


“Mama minta kita besok datang ke rumah, Dek.” Ujar Agung ketika mereka sudah berada di dalam kamar berdua. “Oh iya Mas. Sebenarnya aku juga nggak enak, nggak mendatangi Mama.”


Agung mengangguk, lalu menggandeng Sasmita duduk di pinggir ranjang. “Kamu siap kan?” Bisik Agung lirih dengan tatapan mata intens pada Sasmita.


Sasmita mengangguk, jantungnya pun berdetak sangat kencang ketika Agung mulai mengecup ceruk lehernya.


**


Pagi – pagi sekali mereka sudah bersiap – siap. Sasmita tampil cantik dengan dress terusan motif bunga yang membalut tubuhnya dengan indah. Beberapa kali Agung melontarkan kalimat pujian karena terpana akan kecantikan alami Sasmita. “Mas jangan memuji Mita terus. Fokus saja menyetirnya.”


“Memang istri Mas cantik kok. Wajar dong kalau Mas memuji.”


Tangan kiri Agung menyentuh paha Sasmita dan meremas pelan di sana. “Mas Agung.. Mas sedang menyetir,” Ujar Sasmita menegur Agung sembari menyingkirkan tangan suaminya yang menyentuh paha.


Agung mengerucutkan bibir, ia berganti menggenggam tangan istrinya dan mengecup punggung tangannya. “Kamu tau kalau Mas beruntung banget mendapatkan kamu kan Ta?” Tanya Agung melirik Mita sebentar sebelum fokus menatap ke depan.


“Aku yang merasa beruntung mendapatkan Mas Agung. Terima kasih sudah mau menjadi suami Mita.”


Agung mengecup kembali punggung tangan Sasmita dan berkata, “Mas sangat mencintai kamu, Mita.”


“Aku ta—“


Belum sempat Sasmita melanjutkan perkataannya. Saat mobil yang di kendarai Agung melewati perempatan besar, dari sebelah kanan ada truk melaju cukup kencang dan sedikit ugal – ugalan, melaju ke arah mobil mereka.


Sebuah kecelakaan pun tidak bisa terhindari. Beberapa saksi mata di sekitar menjerit ketika kecelakaan itu terjadi.


Sedangkan Sasmita, di batas sadarnya, ia melihat Agung sudah tidak sadarkan diri di sampingnya.


**


Sasmita berduka. Kecelakaan itu membuat Agung harus meninggalkannya dengan cepat. Tak ada sinar kebahagiaan terpancar di wajah cantiknya, Sasmita benar – benar kehilangan dan merasakan nestapa. “Sudah, Nduk. Ikhlaskan Agung.”


Di tanah gundukan Agung yang masih merah, Sasmita bersimpuh. Dia belum siap kehilangan Agung. Mereka baru memulai hidup baru. Tapi kenapa Agung harus meninggalkannya secepat ini?


Sasmita terus menangis, di samping liang lahat Agung. Hingga wanita itu tak menyadari jika ada seorang wanita paruh payah menghampirinya, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya, dan melesatkan tamparan cukup keras di pipi Sasmita. “Kamu memang pembawa sial! Saya menyesal merestui Agung menikahi kamu.”


Cacian dan makian Sasmita dapatkan, tentu dari wanita yang telah melahirkan suaminya. “Kamu pakai sihir apa hingga membuat anak saya begitu menggilai kamu? Lihatlah sekarang. Kamu merenggut nyawa seorang anak dari Ibunya!”


Dan Sasmita hanya diam menerima semua makian itu.


**


“Ayo makan, Mbak.” Kali ini Saskia mencoba membujuk Sasmita agar mau makan.


Demi Tuhan. Sejak kepergian Agung sepuluh hari lalu, Sasmita terus menerus mengurung diri di dalam kamar. Tubuhnya semakin kurus, dan ia tampak tidak bersemangat untuk makan. “Mbak kenyang, Kia.”


“Jangan gini to, Mbak. Mbak membuat Bapak, Ibu dan Kia sedih.”


Sasmita menitikkan air mata, lalu buru – buru mengusapnya. “Tolong, bawakan saja makanannya ke sini. Mbak makan di sini.”


Saskia hanya menghela napas, lalu keluar dari kamar kakaknya dan ketika ia keluar, ia tau, Ibu mereka juga menitikkan air mata.


**


Sasmita tau, dia tidak bisa terus menerus berurai air mata, dan menyalahkan diri atas kepergian Agung. Dia harus melanjutkan hidup, karena Agung pasti tidak menyukai memiliki istri cengeng dan lemah.


Dan pagi itu—setelah masa iddahnya berakhir, Sasmita sarapan pagi dengan kedua orang tuanya. Lastri yang tau putrinya mau makan bersama keluarga diam – diam menitikkan air matanya. “Pak, Bu..” Panggil Sasmita pelan usai mereka menikmati sarapan.


“Mita sepertinya mau balik kerja ke Jakarta.”


“Balik, Nduk? Yakin?”


Sasmita mengangguk. Dia tidak bisa terus di sini karena terus mengingatkannya tentang Agung. “Kamu kan wes resign to Nduk? Memang bisa?”


“Bisa.. ini tadi Mita menghubungi Mbak Eldy dan katanya masih ada lowongan untuk Mita.”


“Nggak apa – apa kan, kalau Mita kembali kerja ke Jakarta?”


“Ndak apa – apa.” Kata Ibu cepat. Begitu juga Bapak.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd