Sekolah bukanlah menjadi tempat yang menyenangkan untuk aku datangi. Langkah kakiku selalu lambat setiap kali memasuki gedung sekolah. Bukan karna berat badanku yang berlebih yang memang menyulitkanku melangkah cepat, tapi karna hatiku yang enggan untuk segera sampai ke sana. Sekolah bukanlah tempat dimana aku merasa diperlakukan dengan baik.
Aku selalu menyusuri lorong sekolah dengan kepala tertunduk. Sebisa mungkin aku tak ingin kontak mata dengan orang-orang yang berpapasan denganku di lorong itu. Rasanya aku ingin bisa langsung sampai ke kelas tanpa harus bertemu dengan siapapun. Aku benci melihat dan mendengar mereka berbisik sambil tertawa. Aku pasti merasa mereka sedang mengejek dan menjadikanku bahan lelucon.
Mungkin banyak yang mengira aku begitu sensitif dan mudah berprasangka buruk. Namun sejak pertama kali aku masuk sekolah ini, aku terlalu sering menjadi bahan olokan. Karena itu aku selalu merasa orang lain pasti sedang membicarakan dan mengolok-olok diriku. Aku benci melihat orang berbisik-bisik. Aku tak suka melihat orang tertawa selepas melihatku. Aku seorang siswa bukan pelawak, apalagi badut.
Aku pasti segera langsung duduk di kursi setelah masuk ke dalam kelas. Bersembunyi dalam posisi duduk di pojok belakang sekolah. Posisi yang sengaja ku pilih untuk menghindar dari sorot perhatian teman-temanku. Aku hanya ingin belajar tanpa diketahui keberadaannya. Lebih baik dianggap lenyap daripada dianggap ada tapi hanya untuk di bully.
Aku memakai earphone, mendengarkan musik, lalu pura-pura tidur sampai bel tanda masuk berbunyi. Aku enggan berbincang dengan siapapun. Lagipula tak akan ada yang mengajakku berbicara. Jika ada, paling hanya untuk menggoda dan mengejekku.
"Woy, Babon! Tidur mulu lo!"
Aku menarik earphone-ku dengan raut wajah kesal. Kemudian bangkit dari posisi tidurku, lalu menatap pelaku yang telah menepuk punggungku dan mengusik tidurku. "Apaan sih?!" keluhku.
Martin, laki-laki yang hobi meledekku setiap hari. Mungkin kebahagiaannya memang adalah melihatku menjadi bahan olokan. Martin tak pernah sendirian. Selalu ada beberapa orang di sekelilingnya, termasuk saat ini. Mereka seakan sedang mengepungku.
"Kalo lo tidur begitu, kita cuma khawatir orang-orang pada ngira ada paus terdampar di sini hahaha."
Martin tertawa begitu keras hingga memegang perutnya. Dia tertawa begitu terpingkal seolah ledekan itu seperti sebuah candaan tak berarti. Seolah aku tak akan pernah tersakiti.
"Parah lo! Bukan paus kali... tapi kudanil lagi berjemur," timpal Reyhan.
"Jahat ih kalian! Masa babon difitnah jadi paus dan kudanil!" Dino terdengar seolah sedang membelaku, padahal tidak. Dia sama saja dengan Martin dan Reyhan. Raut wajahnya tidak menunjukan rasa empati padaku sama sekali.
"Kalian bisa pergi gak? Ganggu tau!" protesku.
Aku berusaha menunjukan kemarahan, tapi pasti mereka tak akan menganggapnya serius. Emosi yang ku tampilkans sekarang pasti hanya dianggap gertakan yang tak menakutkan. Aku memang tak pernah meluapkan amarahku secara nyata. Bila amarahku meledak, tak akan ada yang memahami alasan dibalik sikap emosi hatiku. Mereka akan langsung menuduhku sensitif dan berlebihan.
Tak akan menyadari betapa parahnya kata yang terlontar dari mulut mereka, apalagi merasa bersalah. Candaan tetap akan dianggap candaan, meski itu begitu menyakiti hatiku. Aku yang terluka. Namun bila aku mengutarakan kesakitan hatiku, tetap aku yang duduk di kursi tersangkanya. Seolah aku yang menyebabkan luka hatiku sendiri. Tuduhan terlalu sensitif pasti
"Wuih babon marah! Hati-hati guys! Kalo babon ngamuk bisa bahaya," balas Martin.
"Mendingan kita pergi! Daripada tulang kita diremuk sama lemak-lemak dia! HAHAHAHA!" Reyhan menarik Martin dan Dino untuk beranjak pergi. Mereka berjalan meninggalkanku sambi tertawa terpingkal-pingkal begitu keras.
Aku tak mengerti mengapa mereka sebahagia itu hanya dengan meledekku. Candaan yang berbalut hinaan itu sepertinya benar-benar menghibur mereka. Seolah itu merupakan kata-kata biasa yang dilontarkan tanpa perlu merasa bersalah. Mereka pikir itu kata-kata ringan yang biasa dilontarkan siapa saja. Kata-kata yang memang sudah sepantasnya diterima oleh kaum badan gemuk sepertiku.
Aku sudah kelas tiga SMA. Perlakuan yang ku terima tidak ada yang berubah sejak pertama kali aku menginjakan kaki di sekolah ini. Aku selalu menjadi bahan olokan dan candaan, yang tentu saja pasti membekasi dihati, meski tak ada orang yang menyadarinya. Bayangkan, bagaimana rasanya menajadi aku. Sakit, tapi tak bisa ditampakan. Terluka, tapi hanya bisa diam. Ingin menangis, tapi harus ditahan. Bila hatiku dibedah, mungkin di sana banyak luka lebam. Luka yang tak pernah ditunjukan pada siapapun. Tersembunyi dengan baik dalam diamku.
"Woy! Ngelamun aja lo. Masih pagi juga."
Aku terkaget dengan kemunculan Renata yang terasa tiba-tiba. Mungkin karena terlalu tenggelam dalam rasa sedih akan nasibku, aku sampai tak menyadari kehadiran Renata yang kini sudah ada dihadapanku. Dia, Renata Amelia, satu-satunya manusia yang berani aku sebut sebagai sahabat di sekolah ini. Meski berbeda kelas, tapi dia selalu menyempatkan waktu untuk menghampiriku.
"Kenapa? Pasti ada yang mau lo ceritain, kan? Makanya ke sini pagi-pagi. Biasanya juga pas makan siang lo samperin gue."
Renata tertawa cekikan. Renata langsung mendekatkan dirinya ke arahku, lalu berbisik, "Kemarin gue abis jalan sama Deo."
Aku tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. Renata memang tak pernah kehabisan stok cerita tentang pria. Gadis itu selalu memiliki kisah asmara baru dan terdengar tak membosankan. Bukan hanya alur cerita romansa yang beragam, tapi juga sering berganti pria. Renata sering bilang bila ia bukanlah pemain pria. Gadis itu sering berkata bila ingin mendapatkan yang terbaik, dirinya memang harus mencoba banyak pria dan juga pengalaman.
Aku tentu kagum dengan Renata. Mungkin sedikit iri. Renata memiliki semua yang aku idamkan. Badan ramping dengan wajah cantik. Rambut hitam bergelombang yang sehat dan panjang. Tinggi dan proporsi badan layaknya seorang model. Bentuk tubuhnya selalu dikagumi dan diinginkan oleh banyak pria, bahkan semua gadis di sekolah juga mengidamkannya.
Renata tak pernah berada di posisi tanpa pengagum. Selalu ada pria yang mengantri untuk menjadi kekasihya. Ponselnya tak pernah sepi dari pesan berbagai pria. Renata tak mengalami kesulitan untuk memiliki jadwal kencan. Banyak pria yang bersedia menemaninya pergi dengan senang hati. Renata hanya perlu memilih salah satu pria dari daftar kontaknya, tanpa khawatir akan merasa tertolak. Hidup sahabatku itu memang jauh dari kata rumit bila berurusan dengan pria. Mungkin memang itulah hak istimewa yang dimiliki gadis cantik dengan bentuk tubuh ramping.
"Deo? Anak baru itu? Dia bukannya baru sebulan ada di sekolah ini. Hebat!" Aku terkagum dengan jujur. Deo murid pindahan yang sebelumnya bersekolah di Australia. Laki-laki itu banyak dikagumi ketampanannya oleh perempuan di sekolah ini. Deo dikenal begitu dingin dengan perempuan. Dia lebih banyak berteman dengan anak laki-laki lainnya. Karena itu, aku cukup salut dengan pesona sahabatku itu hingga mampu membuat seorang Deo tertarik untuk mendekatinya.
"Iya. Deo anak kelas 3 IPA 4 itu. Kemarin gue jalan sama dia. Nanti gue ceritain lengkapnya pas istirahat. Udah mau bel. Gue cuma mau cerita itu doang. Bye, Bon!" Renata melambaikan tangannya ke arahku sambil melangkah pergi keluar.
Aku menatap punggung Renata yang perlahan menghilang dari pandanganku. Lamunanku kembali melayang. Seandainya aku memiliki sedikit keberuntungan Renata. Seandainya aku memiliki bentuk tubuh seperti Renata. Mungkin perjalanan hidupku tak semenyedihkan ini.
Aku tak pernah memiliki kisah romansa. Usiaku sudah mencapai tujuh belas tahun. Namun aku tak pernah diajak kencan oleh laki-laki, apalagi diminta menjadi kekasih seseorang. Aku tak pernah menerima pesan pendekatan dari seorang pria.
HP-ku lebih sering sepi. Paling pesan yang masuk hanya dari grup. Hanya ada nama Renata dan Mamaku di riwayat panggilan ponselku. Kamu tak akan menemukan nama laki-laki di sana. Ah... mungkin ada satu. Nama Joko mungkin terselip di daftar nama panggilan itu. Joko... supirku yang mengantarku ke sekolah setiap harinya. Hanya dia satu-satunya makhluk berjenis kelamin laki-laki yang meneleponku. Kepentingannya hanya sekedar menanyakan kapan jadwal pulang sekolahku, bukan untuk mengajakku jalan layaknya seorang pasangan.
Aku hanya bisa menghela nafas setiap kali menatap nasib kisah asmaraku. Bukan karena alur kisahnya yang menyedihkan, tapi karena memang aku sama sekali tak memiliki kisah cinta. Mungkin lebih tepatnya, tak ada satupun laki-laki yang mau denganku. Tak ada yang tertarik mendekatiku. Tak ada yang ingin mengirimiku pesan cinta. Mereka enggan menoleh ke arahku sebagai perempuan.
Mungkin memang ini nasib gadis gemuk.
CONTINUED
*************
Hai guys! ^^
Siapa yang di sini ngerasa kayak Bonita?
Aku pikir setiap orang pasti punya sisi insecure-nya masing-masing. Peluk buat kita semua :)
Sampai jumpa di bab berikutnya ya!
Jangan lupa buat Love cerita ini dan follow akun dreame, innovel, w*****d, dan i********: akuuu.
Usernamenya sama kok : alvera_berliana.
Salam,
Penulis amatir