2. [Hangat yang Sekejap]

1131 Words
Sayang boleh, tapi jangan terlalu possesif . . . Gaffa membawa Zara kembali ke sekolah untuk mengambil tasnya yang lupa ia bawa, termasuk juga motornya. Zara hanya diam sejak pergi dari tempat tongkrongan Gaffa. Gaffa yang juga diam karena masih emosi dengan temannya, sebenarnya Gaffa sangat sayang dengan Zara, tapi sikapnya yang sudah terlahir posesif itu tidak bisa dihilangkan. "Tunggu sini, jangan kemana-mana." Suruh Gaffa. Zara duduk dibangku panjang depan Kantor, sekolah sudah sepi, hanya ada satpam dan juga tukang bersihin sekolah. Zara hanya memainkan kakinya bergerak naik turun, karena bosan. Jujur, Zara sangat kagum tadi dengan Gaffa yang menolongnya saat ada hal yang seperti itu terjadi. "Ayo." Gaffa menarik tangan Zara dan langsung menggenggamnya. Wajah Zara memerah seketika, dan jantungnya yang berdegup kencang. Zara suka menggenggam tangan Gaffa, rasanya nyaman, dan menenangkan hati. Walaupun Gaffa jarang sekali memegang tangan Zara. Karena sikapnya yang susah ditebak. "Nih helmnya," "Lo kenapa-" Ucap Zara terpotong. "Nanti gue ceritan dirumah, nggak papa kan kerumah gue dulu?" "Nggak papa, tumben." Zara ingin sekali loncat-loncat kegirangan. "Mama kangen katanya. Ayo naik," Jawabnya dengan agak datar. Mereka pun melaju pergi meninggalkan sekolahnya. Jarak antara sekolah dan rumah Gaffa sekitar 2,5 KM, lumayan jauh, berbeda dengan Zara, itu malah semakin jauh. Jaraknya sekitar 3 KM. Zara memakai jaket hitam strips putih yang disleting dengan rapat, karena tiba-tiba cuaca sore ini menjadi dingin, akibat mendung yang tiba-tiba juga. Gaffa yang juga tiba-tiba sikapnya berubah hangat. Tangan Zara yang berada dibelakangnya pun diambil dan dimasukkan kedalam saku jaketnya, tidak hanya satu tapi dua-duanya. Zara sontak terkejut. "Tadi diapain aja?" Tanyanya dengan kurang jelas. "Apa?" Gaffa membuka kaca helmnya lalu mengulangi pertanyaannya, "Lo tadi diapain aja?" "Hm, dicolek-colek doang, Gaf." Jawab Zara agak takut. Gaffa memberhentikan motornya dengan mendadak. Otomatis Zara memeluk erat Gaffa secara tiba-tiba. Gaffa yang dibalik helm itu tersenyum sedikit dan langsung kembali dengan wajahnya yang cuek. Gaffa membuka kaca helmnya dan menoleh kebelakang, "Apa lo bilang? Doang?" "Hm... I-iya nggak diapa-apain lagi maksudnya," "Nyolek apanya?" Tanyanya yang masih menoleh kebelakang. "Tangan, lengan, sama pipi," Tanpa basa-basi, Gaffa memutar balikan motornya kearah tempat tongkrongannya tadi. Kali ini Gaffa benar-benar melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Zara takut. "Gaffa, pelan-pelan aja.." Ucap Zara tanpa didengar Gaffa akibat angin yang sangat kencang. Gaffa tetap melaju dengan cepat. Zara semakin erat memeluk pinggang Gaffa, karena Gaffa sepertinya sudah gila. Tak lama kemudian, mereka sampai ditempat tongkrongan, Gaffa langsung turun dan menghantam wajah Tora untuk kedua kalinya. Teman-temannya terkejut karena Gaffa balik lagi. "Bro udah bro! Tora udah tau kesalahannya, dia nggak akan ngulangin lagi." Ucap Virly seraya mencegah aksi Gaffa. "Orang ini harus dikasih pelajaran! Ini namanya pelecehan b*****t!!!!" Gaffa semakin emosi saat ini. Kali ini Zara turun tangan untuk menengahi perkelahian ini. "Udah Gaffa, ayo pulang," Zara menarik tangan Gaffa, tapi Gaffa tidak mau. "Gua cuma mau Tora minta maaf sama Zara! Sekarang!" Suara Gaffa membesar dan meninggi seketika, membuat Zara sedikit kaget. Tora yang sudah takut dengan Gaffa pun akhirnya meminta maaf pada Zara, "Sorry, gue tau gue salah, maaf ya." Zara langsung mengangguk, "I-iya nggak papa." Gaffa menarik kerah baju Tora dengan kasar, "Ini yang terakhir." Kemudian Gaffa langsung pergi menuju motornya, dan diikuti oleh Zara, mereka pergi meninggalkan tempat itu. Selama perjalanan tidak ada topik pembicaraan. Zara hanya diam dan hanya memperhatikan Gaffa yang sedang menyetir. "Turun," Suruh Gaffa pada Zara. Zara menuruti perintah Gaffa untuk turun dari motor. Zara tidak jadi kerumah Gaffa, karena tiba-tiba Gaffa malah mengantarkan Zara pulang. Zara mengerutkan keningnya, "Kok nggak jadi-" "Kapan-kapan aja, gue cabut dulu." Tanpa basa-basi, Gaffa pergi dengan kecepatan tinggi. Zara hanya menghela napas pelan, lalu berjalan memasukki gerbang rumahnya dengan wajah murung. Sapaan dan pertanyaan dari satpam dan Mamanya, sama sekali tidak Zara jawab. Mamanya pun mengikuti Zara menaiki tangga yang hendak memasukki kamarnya. "Zara, mama mau ngomong nak." Farah adalah Mama Zara, yang menghentikan niat Zara untuk menutup pintu kamarnya. "Zara capek, Mah. Nanti aja ya ngobrolnya." Lalu Zara menutup pintu kamarnya dengan cepat. "Yaudah istirahat ya, Zar." Teriak Farah dari luar pintu kamar. Zara yang didalam sana hanya diam duduk dibalik pintu, dengan kondisi meneteskan air matanya. Gaffa sudah membuatnya terbang dan senang hari ini karena kejadian tadi. Tapi malah dibuat kembali menjadi sakit hati. Zara memang mengerti dan tahu sifat Gaffa, tapi kenapa harus terus-menerus seperti ini? Zara; Bulan! Gua butuh bantuan lu nii... Tak butuh waktu lama menunggu jawaban Bulan, tentu saja Bulan langsung menjawabnya karena Bulan sedang online. Bulan; Tumben lo, ada apaan? Zara; Gaffa kenapa cuek banget ya, udah gitu sikapnya yg posesif gk ilang2, bantuin gue dong biar dia bisa romantis kayak cowo2 yg lain.. Bulan; Lah lo juga lagian tahan aja sm yg bgtuan, mentang-mentang ganteng ya? Zara; Anjir lu, ya nggk lah, krna emg syg aja gue sm dianya. Bantuin gue kek lan plisss, kan lu pacarnya vito pasti tau dong caranya biar vito ngsih tau gaffa Bulan; Iyaiya tar gue bantuin elah, nih ya gue saranin zar lo tuh kalo udah capek mending berenti aja gk usah lo paksain. Zara; Gue nggk bisa berenti lan, gue udah syg bgt sm dia Bulan; Yeh kalo syg mah emg susah dah itu Zara; Makanya, udah deh pokonya lu harus bantuin gue titik, bye. Bulan; Iye ah bawel Zara pun menutup ponselnya dan memutuskan untuk mengganti pakaian seragamnya. Setelah itu ia merubuhkan tubuhnya diatas ranjang. Perasaan capek dan tubuh yang capek membuatnya memejamkan mata untuk sebentar. Zara bangun pada pukul 7 malam, rasanya sangat segar saat bangun karena lelahnya telah dibayarkan oleh tidur yang nyenyak. Zara memutuskan untuk turun kebawah mencari sang Mama, ternyata Mamanya sedang pergi keluar. "Bi, Mama kemana?" Tanya Zara. "Keluar, Non. Katanya sih mau ada urusan kantornya sebentar," "Meeting mendadak?" "Bibi ndak tau, Non." Zara kembali naik keatas untuk pergi kekamar lagi, saat baru melangkah 3 anak tangga bunyi bel yang nyaring membuat Zara menghentikan langkahnya. Bibinya yang sigap langsung membukakan pintu besar berwarna putih. "Maaf, cari siapa ya?" Tanya Bibinya dengan sopan. "Saya cari Zara," Zara yang mengetahui suara itu langsung berlari keluar. "Gaffa?" Tanpa basa-basi Zara memeluk Gaffa dengan erat. Tapi Gaffa malah melepaskan pelukan itu, membuat Zara kembali murung. "Gue boleh masuk?" Zara pun langsung mengangguk antusias. "Duduk, Gaf. Bi bikinin minum ya satu," Suruh Zara pada pembantunya yang sudah mengurus Zara sejak bayi. "Lo nggak bisa bikin sendiri buat gue? Lo aja yang bikin, jangan bibi lo." Zara yang hendak duduk pun tidak jadi duduk, "B-bisa sih, yaudah tunggu bentar ya." Zara berjalan menuju dapur untuk membuat minuman, entah kenapa Zara begitu nurut dengan perintah Gaffa, Zara hanya ingin membuat Gaffa puas dengan sikapnya. "Nih, kenapa tiba-tiba kesini?" Gaffa terlebih dahulu meminum minuman yang disediakan Zara, "Iseng aja," Zara mengerutkan keningnya, "Mak-sudnya?" "Jangan pernah tinggalin gue karena gue terlalu posesif," Ucap Gaffa dengan seraya menatap Zara yang sangat cantik tanpa makeupnya. Mata mereka bertemu.  Possesif itu pasti ada alasanya, tapi juga jangan berlebihan ==== Selamat membaca
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD