Malam Mimpi

1432 Words
Selamat membaca~ - Terlihat  seorang gadis duduk sendiri ditengah rintihan air hujan. Gadis   itu duduk sambil menekuk tubuh untuk memeluk lututnya karena merasa kedinginan. Dress CROSS LAPEL OFF SHOULDER berwarna pink soft yang melekat pada tubuhnya  telah basah terguyur air. Sling bag VINTAGE WHITE yang ia gunakan untuk melindungi IPHONE, POWER BANK, dan DOMPET  sudah basah terguyur air juga.           Badannya sudah mulai menggigil, bibirnya sudah tampak sedikit berwarna biru. Tapi, hal apa yang membuatnya tidak beranjak pergi untuk mencari tempat teduh?           Dilihat dari wajahnya, ia sedang bersedih. Pasalnya, gadis itu sedang menangis dibawah air hujan. Mungkin, ia melakukan ini supaya tidak ada orang yang melihatnya tengah menangis. 30 menit yang lalu... “Jangan takut. Gue yakin, lo gak akan pernah bisa lupain momen ini.” Ucap gadis berambut sebahu yang tengah menyemangati sahabatnya.           Allana tersenyum, sangat lebar. Sampai membuat matanya menyipit. Sangat manis memang, senyum yang selalu dikeluarkannya. “Semoga.” Jawab Allana dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya.           Memang, tepat jam 19:00 WIB Allana pergi bersama Lisa untuk menemui seseorang. Di dalam cafe, Allana dan Lisa tampak berdiri sambil celingukan kesana-kemari, mencari seseorang seorang lelaki yang sudah membuat janji dengan Allana.           Allana dan Lisa memilih duduk tepat pada jendela yang memberikan view cantik diluar sana. Angin sejuk yang dihembuskan oleh jendela, membuat Allana menikmati malam tepat dihari ulang tahunnya.           Tidak biasanya memang, Allana merayakan ulang tahunnya tidak bersama kedua orang tuanya seperti ini. Tapi, Allana melakukannya karena seseorang yang sangat ingin ia temui tepat dihari ulang tahunnya.           Sudah 30 menit ia menunggu bersama Lisa di dalam. Minum yang dipesannya tadi sudah habis tak tersisa. Tapi dimana perginya seseorang yang sedang ditunggu-tunggu Allana?           Wajah lesu Allana mulai terlihat saat ia melihat Iphonenya yang tidak mengeluarkan notif sama sekali. Allana menaruh Iphonennya di atas meja. Matanya beralih menatap view cantik lewat jendela.           Moodnya sedikit berubah setelah melihat pemandangan indah kota. Allana menutup matanya, merasakan angin yang membelai wajahnya dengan sangat lembut.           Tetapi, suara bising terdengar. Allana membuka matanya saat ada perempuan yang memanggil nama RIFKY. Allana melihat kearah tempat dimana ada seorang gadis berdiri yang sedang berpelukan mesra dengan lelaki. Ia kira itu adalah orang yang ditunggunya. Ternyata bukan.           Allana kembali mengalihkan pandangannya pada jendela yang terbuka. Tapi, badan Allana seketika kaku tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Lewat pantulan jendela, Allana dapat melihat gadis tadi berciuman dengan lelaki yang bernama RIFKY.           Tapi lelaki itu, adalah orang yang ditunggu Allana saat ini. Allana berdiri dan beranjak pergi tanpa berkata apapun pada Lisa. Lisa yang ikut mengamati tatapan Allana tadi, akhirnya paham dengan situasi ini.           Lisa membiarkan Allana pergi untuk menenangkan diri. Tapi Lisa? Pergi untuk memberi pelajaran pada Rifky, lelaki tidak tahu diri. BYUR...           Terdengar suara jeritan tepat setelah air mengguyur tubuh Rifky. Ya, Lisa yang melakukannya. “Lo gila ya?” teriak gadis berambut panjang yang berada didekat Rifky.           Lisa tersenyum miring, “Bukan gue. Tapi dia yang gila!” seru Lisa dengan menatap tajam Rifky. “Lo tahu siapa dia? Sampai berani ngatain Rifky gila.” Ucap gadis tadi dengan suara yang lebih kecil namun tajam.           Lisa mengangguk. “Ya, gue tahu.” Jawab Lisa. Tatapan yang Lisa berikan untuk Rifky semakin tajam. Sampai membuat Rifky tidak berkutip apapun. “Dia, cowok b******k yang gak tahu diri.” Ucap Lisa dengan nada kecil namun masih terdengar ditelinga Rifky dan gadis yang tidak terima tadi. “b***h, dasar lo ngatain Rifky begitu apa?!” gadis tadi kembali berteriak tidak terima saat lelaki dihadapannya kembali menerima hujatan.           Lisa tersenyum miring, seolah meremehkan keberadaan Rifky disana. “Tega lo. Ngebiarin Allana nunggu selama itu dimalam hari ulang tahunnya.” Ucap Lisa dengan terus menatap Rifky penuh kebencian.           Benar, Allana. Rifky baru mengingatnya. Dimana Allana sekarang? Rifky terlihat sedang melihat-lihat guna untuk mencari keberadaan Allana. Lisa melihat apa yang dilakukan Rifky. “Lo telat. Dia pergi setelah liat lo ciuman sama dia.” Jelas Lisa saat Rifky tidak mendapatkan jawaban atas keberadaan Allana.           Rifky mendengus menyesal. Bagaimana bisa ia melakukan hal seperti tadi. “Asal lo tahu. Dia udah nolak ajakan papa sama mamanya buat dinner bareng tepat dihari ulang tahunnya. Itu semua karena lo! Buat lo dia disini!” tegas Lisa yang membuat Rifky tidak dapat berkata apapun. ****   Tok... tok... tok...           Allana mengetuk pintu rumah Athalla sambil membawa buah-buahan. Entah mengapa, Allana merasa khawatir dengan keadaan Athalla saat ini. Pakaian yang dikenakan Allana saat ini sangatlah sederhana, training hitam polos dipadukan dengan kaos lengan panjang berwarna putih.           Tak lama, pintu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis kecil. “Halo kak.” Sapa gadis kecil itu pada Allana.           Allana tersenyum sambil membalas sapaannya. “Athalla ada dirumah?” tanya Allana sopan dengan senyum yang terus dikeluarkannya.           Gadis itu mengangguk, “Ada kak. Sama kak Reza juga.” Jawabnya. “Boleh masuk?” tanya Allana saat tidak kunjung disuruh masuk oleh gadis kecil dihadapannya.           Gadis itu mengangguk sembari memberi jalan untuk Allana masuk. Allana pun berjalan memasuki rumah Athalla, tetapi langkah kaki Allana terhenti saat mendengar jeritan yang sangat keras. “Athalla kenapa?” tanya Allana pada gadis kecil yang berdiri dismapingnya. “Lagi diurut kak.” Jawabnya sambil berjalan lebih dulu untuk menemui Athalla.           Allana mengangguk. Kaki Athalla keseleo dan jalan cepatnya adalah diurut. Allana pun kembali berjalan untuk menemui Athalla yang sedang diurut.           Sekarang, Allana dapat melihat Athalla yang sedang menahan sakitnya saat diurut. “Ahh...” lagi, Athalla merintih.           Ingin sekali Allana menertawai wajah polos Athalla saat merintih kesakitan. Tetapi melihatnya yang menahan sakit membuat Allana merasa kasihan. “Abang, ada temannya tuh.” Ucap gadis kecil tersebut guna memberitahu Athalla bahwa ada Allana disini.           Athalla pun menoleh kearah adiknya yang disampingnya sudah ada Allana berdiri. Sontak Athalla menutup wajah menggunakan kedua tangannya karena merasa malu, sudah berteriak histeris seperti tadi.           Allana tertawa kecil melihat tingkah Athalla. Allana pun mendekat kearah Athalla yang sudah tidak menutup wajahnya karena kembali merasakan sakit pada kaki yang diurut. “Lama benar pak ngurutnya. Sakit ini.” Ucap Athalla disela rintihannya. “Sebentar lagi selesai aden.” Ucap pengurut yang terlihat sudah sangat dekat dengan Athalla.           Allana pun duduk dikursi sebrang Athalla berbaring. Suara jeritan sudah tidak terdengar saat pengurutnya menyelesaikan tugasnya dan memberekan semua minyak yang dibawanya. “Bapak pulang dulu ya den.” Ucap pengurut tersebut sembari berdiri dari tempat duduknya.           Athalla mengangguk. “Makasih ya pak. Nanti biar mama yang kasih ke bapak uangnya.” Ucap Athalla sembari tersenyum. “Iya aden. Kalau gitu bapak pamit dulu ya.” Pamit pengurut tadi sebelum akhirnya pergi dari rumah Athalla.           Allana pun akhirnya berpindah duduk menjadi dihadapan Athalla, guna untuk mempermudah Athalla saat hendak melihatnya. “Kenapa kesini?” tanya Athalla pada Allana.           Allana diam. Tidak mungkin ia berkata jujur, bahwa alasannya kesini adalah khawatir dengan keadaan Athalla. “Gue.. Cuma mau kasih buah ini.” Jawab Allana dengan gugup.           Athalla mengangguk.  Terlihat diwajahnya, bahwa sekarang ia sedang memancarkan raut bahagia. “Ini minum lo.” Ucap Reza yang tiba-tiba masuk dan menaruh segelas jus alpukat diatas meja dihadapan Athalla.           Reza terkejut saat mendapati Allana yang tengah menatapnya. “Ada lo? Kesini sama siapa?” tanya Reza saat tidak melihat siapapun selain Athalla, Allana dan dirinya. “Sendiri lah.” Jawab Allana. “Emang berani?” tanya Reza sekali lagi. Karena ia tidak percaya kalau Allana berani keluar sendiri semenjak Lisa pernah cerita padanya. “Berani lah. Orang rumah gue didepan.” Jawab Allana yang membuat Athalla menganga karena terkejut. “Jadi kalian tentagga?” tanya Reza dengan menatap Athalla dan Allana bergantian.           Benar saja, mereka mengangguk bersama. Reza baru saja tahu karena Athalla tidak cerita padanya.           Suasanya pun menjadi hening saat Reza sibuk dengan ponselnya. Tidak ada yang mereka bicarakan lagi saat ini. “Hmm... Al, gue boleh tanya?” ucap Athalla yang membuat suasana berubah.           Reza yang berada disitu hanya diam. Karena Reza tahu, Athalla pasti akan bertanya. “Apa?”           Athalla sempat diam, sebelum akhirnya mengeluarkan semua pertanyaan yang ia simpan sedari tadi. “Lo, punya hubungan sama Rifky?” ucap Athalla tanpa merasa gugup atau apapun.           Allana diam. Ia tidak tahu harus menjelaskan mulai dari mananya. Sangat susah untuknya bercerita tentang Rifky pada siapapun. “Lo gak berhak tahu.” Jawab Allana dengan pandangan yang lurus kearah Athalla.           Allana tidak mau menceritakan apapun tentang Rifky. Ia takut, takut jika hatinya terluka saat mengingat kejadiannya bersama Rifky. “Lalu, apa yang harus gue lakuin. Supaya gue bisa berhak atas lo?!” ucap Athalla dengan nada yang terkesan dingin dan tajam.           Allana kembali diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya sudah merasa sakit sejak pagi tadi. Melihat Athalla kesakitan, dan juga kembali berinteraksi dengan Rifky, membuat sakit hati Allana semakin komplit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD