“Sayang, kenapa tamunya nggak diajak masuk ke dalam?” tanya Bram sambil menghampiri Clarinta dan Alva yang menoleh ke arahnya. Senyum Clarinta pun mengembang seraya betkata, “Sayang, lihat siapa yang datang? Teman jauh kita!” ujarnya sambil melingkarkan lengannya di pinggang sang suami saat Bram berdiri di sebelahnya. Bram lalu merangkul bahu sang istri, menandai kepemilikannya dan seolah-olah ingin mengatakan ke Alva kalau Clarinta tidak bisa diganggu gugat lagi. Clarinta adalah miliknya. “Apa kabar, Alva?” Bram mengulurkan tangannya dan menjabat tangan pria itu erat dan tegas. Sebuah jabatan tangan yang sangat kuat dan terasa begitu dominan. “Kabarku baik, everything is fine!” sahut Alva tegas, "ngomong-ngomong rasanya kita belum kenalan, ya? Kenalkan aku Alva! Kemarin kita 'kan hany

