Cahaya lampu kantor memantulkan bayangan Ethan dan Kanaya di dinding. Kanaya dan Ethan saling bertatapan cukup lama karena Ethan ingin Kanaya yang lebih dulu memulai ciuman mereka mengingat ini adalah imbalan atas kerja kerasnya memainkan piano untuk Kanaya. Kanaya menelan salivanya. "Tunggu apa lagi?" ujar Ethan. Kanaya memejamkan matanya lalu berjinjit dan mengecup bibir Ethan. Cup... Sebuah kecupan ringan dimana bibir Kanaya dan Ethan hanya bersentuhan sebentar bahkan tak sampai 3 detik. "Sudah kan," ucap Kanaya. Ethan menyeringai "Kau sebut tadi itu ciuman?" "Lalu bagaimana lagi?" tanya Kanaya. Ethan merangkul pinggul Kanaya lalu mengecup bibir Kanaya dengan rakus, ia melumat dan menghisap bibir Kanaya sampai bengkak. Eummppphh... Kanaya sampai kehabisan oksigen

