menghiburmu dan engkau datang dalam keadaaan
ketakutan lalu kami mengamankanmu dan engkau
datang dalam keadaan teraniaya lalu kami
menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan karunia
bagi Allah SWT dan Rasul-Nya." Rasulullah saw
berkata: "Wahai kaum Anshar, apakah kalian akan
marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada
suatu kaum dengan harapan agar keimanan meresap
dalam hati mereka dan kalian justru melupakan karunia
yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam
bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum
Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk
melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian
pergi dengan Rasulullah saw. Maka demi Zat yang
jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia melalui suatu
jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain niscaya
aku akan melalui jalan kaum Anshar. Ya Allah,
rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum Anshar
dan cucu kaum Anshar."
Mendengar doa itu, kaum tersebut menanggis sehingga
jenggot mereka terbasahi dengan air mata dan mereka
236
berkata: "Kami rela dengan Allah SWT sebagai Tuhan
dan sangat puas dengan pembagian Rasulullah saw."
Kemudian Nabi saw pun meninggalkan mereka dan
mereka pergi dalam keadaan puas. Orang-orang Anshar
memahami bahwa Muslim yang hakiki di dunia adalah
seorang yang datang di dunia untuk memberi, bukan
untuk mengambil. Nabi saw terbangun dan beliau
mendapati dirinya sendirian di kamar. Suhu tubuh beliau
meningkat karena demam, lalu beliau memanggil Aisyah
dan meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat
digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah
mulai menuangkan air kepada Rasulullah saw sampai
demam beliau berangsur-angsur sedikit menurun.
Tampak bahwa waktu berlalu cukup lambat dan berat.
Sakit Rasulullah saw semakin meningkat.
Beliau mulai merasa bahwa tidak mampu lagi untuk salat
bersama para sahabat, lalu beliau memerintahkan Abu
Bakar untuk salat bersama mereka. Pada saat Nabi
mengalami antara keadaan terjaga dan tidur, beliau
selalu berpikir apa gerangan yang belum
disampaikannya kepada manusia. Beliau telah
menyampaikan segala sesuatu dan telah mengajari
mereka segala sesuatu serta telah meninggalkan sebuah
Kitab yang siapa pun berpegangan dengannya ia tidak
akan sesat.
Rasul saw mulai mengantuk dan berbagai nostalgia
terlintas di kepalanya. Beliau melihat dirinya di haji
Wada’. Selesailah perjanjian yang diberikan kepada
237
kaum musyrik dan mereka telah dilarang untuk
memasuki Masjidil Haram dan sekarang Nabi saw keluar
sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum Muslim cara
manasiknya. Rasulullah saw memperhatikan ribuan
orang-orang yang bertauhid saat mereka menuju Baitul
Haram dalam keadaan memenuhi panggilan Tuhan dan
tunduk kepadanya. Mereka menghidupkan memori
kakek mereka, Ibrahim Khalilullah. Nabi saw berdiri dan
berpidato di tengah-tengah keramaian itu. Nabi saw
mulai merasakan bahwa kehidupannya di dunia sebentar
lagi akan berakhir. Beliau mengetahui bahwa kafilah ini
akan pergi sendirian dalam menjalani kehidupan. Beliau
kembali menanamkan nilai-nilai Islam dan wasiat
dakwah di jalan Allah SWT. Setelah berjuang selama
dua puluh tiga tahun menegakkan agama Allah SWT,
beliau bertanya kepada mereka: "Apakah aku telah
menyampaikan amanat Tuhan?" Lalu manusia yang
hadir saat itu menyatakan bahwa beliau benar-benar
telah menyampaikan dakwah. Beliau memanggil Mu'ad
bin Jabal dan mengajarinya bagaimana berdakwah
kepada manusia di jalan Allah SWT dan bagaimana
mengenalkan agama kepada mereka.
Kemudian beliau berwasiat kepadaa Mu'ad saat ia
menunggangi kendaraannya sedangkan Rasulullah saw
beijalan di sebelah untanya: "Sesungguhnya orang yang
paling utama di sisiku adalah orang-orang yang
bertakwa, siapa pun mereka dan di mana pun mereka."
Nabi saw adalah rahmat bagi semua manusia dan sebagal
238
cermin yang tertinggi dari cennin persaudaraan dan
kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di tengah-
tengah umat Islam namun beliau menolak segala bentuk
penampilan yang biasa melekat pada seorang penguasa
atau raja atau pemimpin apa pun. Beliau berkata kepada
para sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT
dan Rasul-Nya."
Beliau keluar menemui sekelompok sahabatnya lalu
sebagai bentuk penghormatan kepada beliau mereka
berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka
agar tidak berdiri. Ketika beliau keluar untuk menemui
sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya, maka beliau
duduk bersama mereka di tempat terakhir yang
ditemukannya. Beliau sangat bersahabat dan ramah
dengan para sahabatnya, bahkan beliau bercanda dengan
anak-anak mereka dan mendudukkan mereka di
ruangannya. Beliau memenuhi panggilan orang dewasa
maupun anak-anak. Beliau membesuk orang-orang yang
sakit meskipun berada di tempat yang jauh. Beliau
menerima alasan orang yang mempunyai uzur. Beliau
mendahului orang yang ditemuinya dengan salam
bahkan beliau mendahului berjabat tangan dengan para
sahabatnya.
Ketika seseorang datang untuk menemuinya saat beliau
salat, maka beliau mempersingkat salatnya dan
menanyakan keperluan orang itu. Setelah menyelesaikan
keperluan manusia, beliau kembali menyelesaikan
shalatnya. Beliau selalu menebar senyum kepada kawan
239
dan lawan dan memiliki kepribadian yang paling baik.
Ketika beliau berada di rumahnya, beliau melayani
keluarganya. Beliau mencuci bajunya. Beliau
memperbaiki sandalnya dan memberi minum unta.
Beliau makan bersama pembantu. Beliau memenuhi
kebutuhan orang yang lemah, orang yang sedih, dan
orang yang miskin. Bahkan kebaikan beliau dan kasih
sayangnya sampai pada tingkat di mana beliau
membiarkan cucunya menaiki punggungnya saat beliau
sedang shalat.
Kasih sayang beliau tidak hanya terbatas kepada manusia
bahkan juga tertuju pada binatang dan pohon. Beliau
memberi makan binatang dengan tangannya sendiri
bahkan beliau pernah merawat anjing yang sakit. Beliau
memerintahkan pasukan Islam saat berperang demi
menegakkan keadilan Islam agar mereka tidak
membunuh anak kecil, orang tua, kaum wanita dan
hendaklah mereka tidak mencabut pohon dan tidak pula
merobohkan rumah.
Apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya suatu
undang-undang yang mengatur hubungan antara manusia
dan manusia yang lain, dan apa yang dibawa oleh Nabi
saw bukan hanya berisi suatu sistem untuk meningkatkan
kualitas kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah
hal relatif namun beliau datang dengan membawa
peradaban yang abadi yang mengatur hubungan antara
manusia dan alam, dan mengembalikan keserasian di
alam wujud sehingga semua berjalan secara seimbang
240
dan mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT.
Meskipun pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau
masih sibuk mengurusi masa depan dakwah dan beliau
sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat
peduli dengan problema kaum Muslim. Beliau khawatir
suatu saat Islam hanya tinggal namanya namun
hakikatnya telah lenyap. Namun sebelum beliau
meninggal, Allah SWT telah memperlihatkan kepada
beliau sesuatu yang membuat hati beliau menjadi tenang.
Dan di hari Senin dari bulan Rabiul Awal yang mulia,
beliau kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha
dan diridhai.
Salam kepadamu ya Rasulullah dan kepada keluarga
serta sahabat yang setia bersamamu.