13. RAHASIA TAGIHAN RUMAH SAKIT

1022 Words
​Malam itu, hujan turun membasahi Jakarta, menciptakan suasana yang sama kelamnya dengan hati Alma. Ia baru saja kembali dari rumah sakit saat sebuah mobil sedan mewah sudah terparkir di depan butiknya. Bukan mobil Marcel, melainkan mobil dengan plat nomor yang ia kenali sebagai milik Nyonya Besar Lion. ​Metia Lion duduk di dalam butik yang remang-remang, tangannya memegang beberapa lembar dokumen audit perusahaan. Wajahnya yang cantik tampak seperti porselen retak yang siap melukai siapa saja. ​"Duduklah, Alma. Kita perlu bicara soal angka," suara Metia dingin, tanpa basa-basi. ​Alma duduk dengan lutut lemas. Metia melemparkan dokumen itu ke meja. "Aliran dana ilegal. Marcel memindahkan dana operasional Lion Group ke rekening Rumah Sakit Harapan Bangsa setiap bulan. Totalnya sudah mencapai lima miliar rupiah. Untuk siapa? Untuk seorang pria tua yang sudah tidak berguna bernama Wijaya." ​"Nyonya ... Marcel yang menawarkan itu, saya tidak pernah meminta ...." ​"Tutup mulutmu!" potong Metia tajam. "Bagiku, ini bukan bantuan medis. Ini adalah pencucian uang perusahaan demi membiayai jalang simpanan. Jika audit ini sampai ke tangan dewan direksi, Marcel akan kehilangan posisinya, dan ayahmu ... oh, ayahmu akan langsung dikeluarkan dari ruang VIP malam ini juga." *** ​Ancaman Maut Sang Ratu ​Metia bangkit, berjalan mendekati Alma dan mencengkeram dagunya dengan kuku-kuku yang runcing. "Dengar baik-baik, rendahan. Aku memberimu satu pilihan. Pergilah dari hidup Marcel. Lenyap lah sebelum aku yang membuat ayahmu mati di atas ranjangnya dengan menghentikan suplai oksigennya." ​"Kau ... kau tidak mungkin sekejam itu," bisik Alma ngeri. ​"Cobalah aku," tantang Metia dengan senyum iblis. "Aku punya orang di setiap sudut rumah sakit itu. Satu cabutan kabel, dan beban hidupmu akan hilang, begitu juga dengan alasan Marcel untuk memeliharamu. Pergilah, atau saksikan pemakaman ayahmu minggu depan." ​Metia pergi meninggalkan aroma parfum mahal yang kini berbau seperti kematian bagi Alma. Alma jatuh terduduk, menangis tersedu-sedu di tengah kegelapan butiknya. Ia terjepit di antara cinta obsesif Marcel yang menyesakkan dan ancaman pembunuhan dari Metia. *** ​Kedatangan Sang Pejantan: Pelarian Gelap. ​Pintu butik terbuka kembali beberapa menit kemudian. Marcel masuk dengan napas memburu, bajunya sedikit basah karena hujan. Ia melihat Alma yang terisak dan langsung tahu ada sesuatu yang salah. ​"Apa yang dilakukan Metia di sini?" bentak Marcel, suaranya menggelegar. ​"Lepaskan aku, Marcel! Ibumu akan membunuh ayahku! Biarkan aku pergi!" jerit Alma histeris. ​Marcel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Alma masuk ke dalam pelukannya yang keras, mengunci tubuh wanita itu agar tidak bisa memberontak. "Dia tidak akan menyentuhmu, Alma! Dia tidak akan berani!" ​"Dia punya bukti korupsi mu! Dia akan menghancurkan mu dan membunuh ayahku!" ​"Persetan dengan korupsi! Persetan dengan mereka semua!" Marcel mencium Alma dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan kemarahan dan rasa posesif yang meledak. Ia membutuhkan Alma untuk meredakan badai di kepalanya. ​Marcel tidak peduli lagi pada tempat atau situasi. Ia mengangkat tubuh Alma dan mendudukkannya di atas mesin jahit industri yang dingin dan keras. Ia merobek blus Alma hingga kancing-kancingnya berhamburan, mengekspos p******a Alma yang naik-turun karena tangis dan nafsu yang terpicu secara paksa. ​"Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu, Alma! Hanya aku!" geram Marcel. ​Ia membuka sabuknya dengan cepat. Kejantanan 21 cm miliknya yang sudah menegang maksimal tampak berkilat di bawah lampu neon yang berkedip. Tanpa foreplay, Marcel langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih terasa sempit dan bergetar. ​"Hmm ssshhh! Marcel ... tidak ... ahhh!" Alma memekik, tangannya mencengkeram bahu kekar Marcel hingga berdarah. ​Marcel bergerak dengan tempo yang sangat liar dan tidak beraturan. Setiap dorongannya adalah bentuk frustrasi atas tekanan keluarganya. Ia menghantam Alma dengan kekuatan penuh, membuat mesin jahit di bawah mereka bergetar hebat. ​"Katakan padaku! Kau tidak akan pergi!" perintah Marcel sambil menggigit leher Alma, meninggalkan bekas gigi yang dalam. ​"Aku ... ahh ... aku takut, Marcel! Ahhh, lebih dalam! Terus ... ahhh!" Alma meracau. Dalam keputusasaannya, hanya rasa sakit dan nikmat dari Marcel yang bisa membuatnya merasa tetap hidup. Ia membalas setiap sentakan Marcel dengan jepitan yang luar biasa kuat, seolah ingin menelan pria itu ke dalam dirinya agar tidak ada yang bisa memisahkan mereka. ​Marcel membalikkan tubuh Alma, menekannya hingga d**a Alma menghimpit kain sutra yang sedang dijahitnya. Ia melakukan penetrasi dari belakang dengan sudut yang sangat tajam, menyentuh titik paling sensitif Alma berulang kali. ​"Ahhh! Ahhh! Marcel ... aku akan hancur! Ahhh, terus!" jerit Alma saat gelombang o*****e mulai menghantamnya. ​Marcel menggeram seperti binatang buas yang sedang mempertahankan wilayahnya. Ia mempercepat tempo hingga puncaknya, mengeluarkan cairannya yang hangat dan melimpah ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang penuh kemenangan. ​Setelah badai itu usai, Marcel tetap memeluk Alma dari belakang di atas meja mesin jahit itu. Ia menciumi pundak Alma yang penuh dengan tanda merah. ​"Metia tidak akan bisa menyentuh ayahmu. Aku sudah memindahkan penjagaan ke orang-orang pilihanku," bisik Marcel serak. "Jangan pernah berpikir untuk pergi, Alma. Jika kau pergi, aku sendiri yang akan meratakan rumah sakit itu dengan tanah." ​Alma memejamkan mata, air matanya jatuh membasahi meja kayu. Ia tahu Marcel sanggup melakukannya. Ia terjebak dalam sangkar emas yang dijaga oleh seorang predator yang mencintainya dengan cara yang salah. ​"Kau melindungi ku, atau kau hanya menjagaku agar tetap bisa kau pakai, Marcel?" tanya Alma lirih. ​Marcel tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Alma akan menguap menjadi asap. Di luar, hujan semakin deras, seolah langit pun tahu bahwa di dalam butik ini, sebuah nyawa sedang perlahan mati dalam pelukan sang pemilik tahta. *** ​Malam itu, butik sudah tertutup rapat. Di bawah cahaya redup lampu meja, jari-jari Alma gemetar saat memegang ponsel cadangan yang ia sembunyikan di dalam lipatan kain sutra. Ia tahu ini berisiko, namun ancaman Metia tentang suplai oksigen ayahnya telah memicu insting bertahan hidup yang luar biasa. ​"Halo, Erik?" bisik Alma, suaranya hampir tidak terdengar. ​"Alma? Syukurlah kau menghubungi. Bagaimana keadaanmu?" Suara Erik di seberang sana terdengar cemas. ​"Tidak ada waktu, Erik. Aku harus mengeluarkan Ayah dari rumah sakit pusat malam ini juga. Marcel memantau semuanya, tapi aku punya celah jam dua pagi saat pergantian penjagaan. Bisa kau siapkan ambulans swasta?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD