1. KEMEWAHAN YANG DINGIN

1498 Words
Bab 1. KEMEWAHAN YANG DINGIN ​Lampu flash kamera menyambar berkali-kali di studio eksklusif itu, menyinari wajah yang seolah dipahat sempurna. Marcel Lion berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Matanya yang tajam, memiliki perpaduan unik antara biru Inggris dan hitam Turki, menatap lurus ke lensa tanpa ekspresi. ​"Cukup!" seru fotografer itu sambil menghela napas kagum. "Luar biasa, Marcel. Kau benar-benar tidak perlu diarahkan," jawab seorang rekan dengan tatapan penuh kekaguman. ​Marcel tidak menjawab. Ia hanya melonggarkan dasinya sedikit dan berjalan menuju asistennya tanpa melirik siapa pun. ​"Jadwal berikutnya?" tanya Marcel singkat. Suaranya rendah dan bariton, khas pria yang jarang membuang kata-kata. ​"Ada pertemuan dengan dadymu di kantor pusat, Sir. Terkait divisi baru Multimedia Geografis," jawab sang asisten sambil memberikan iPad. ​Marcel menghentikan langkahnya. "Sudah kubilang, aku belum ingin terlibat di perusahaan Dady sepenuhnya." ​"Tapi Sir, ini berkaitan dengan gelar sarjana Anda dari Paris. Dady Anda bersikeras," ucap sang asisten berusaha mengingatkan. – ​Di kantor pusat lion group, pintu kaca besar itu terbuka. Marcel melangkah masuk ke ruangan CEO dengan aura dingin yang mampu membekukan suasana. Di sana, seorang pria paruh baya dengan wibawa tinggi sudah menunggu. ​"Duduklah, Marcel!" sapa Dadynya, Mr. Lion Senior. Seseorang yang sangat di pandang oleh dunia perbisnisan. ​Marcel duduk dengan kaki menyilang lalu menatap curiga ke wajah Dadynya. "Apa ini soal saham lagi?" tanya Marcel penuh selidik. ​"Bukan, kali ini soal tanggung jawab. Kau sudah menyelesaikan kuliahmu di Paris. Geografis Multimedia bukan jurusan yang mudah, dan perusahaan kita butuh sentuhan anak muda sepertimu untuk pemetaan digital global." ​"Aku masih punya kontrak film di Jakarta, Dad," potong Marcel datar sambil menatap ke arah luar jendela. ​"Film? Kau sudah menjadi aktor paling populer tahun ini. Berapa banyak lagi penghargaan yang kau butuhkan? Dunia hiburan itu hanya hobi, Marcel. Darahmu adalah darah pengusaha." ​Marcel masih menatap ke luar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit. "Geografis adalah caraku melihat dunia, bukan cara untuk menghitung keuntungan." ​"Kau terlalu keras kepala seperti ibumu," Dadynya terkekeh pelan. "Lalu, bagaimana dengan wanita? Media terus memberitakanmu sebagai The Most Wanted Bachelor tapi kau tidak pernah terlihat membawa teman kencan." ​"Aku tidak punya waktu untuk drama wanita," jawab Marcel dingin dan membuang pandangannya dari sosok Dady yang suka memaksa kehendaknya. ​"Atau kau terlalu pemilih?" tanya Lion Senior dengan penuh penekanan. ​"Hanya belum ada yang menarik secara intelektual," Marcel berdiri hendak meninggalkan ruangan tersebut. "Jika hanya ini yang ingin Dady bicarakan, aku pergi. Aku ada pemotretan majalah sore ini." ​"Marcel! Setidaknya pertimbangkan tawaran di divisi multimedia itu. Ini adalah masa depan Lion Group!" seru Dadynya dengan nada suara lebih tinggi. ​Marcel hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh, lalu menutup pintu dengan suara klik yang tegas. ​Di dalam mobil mewah yang kedap suara, Marcel menyandarkan kepalanya. Ponselnya bergetar dan di layarnya muncul sebuah pesan dari manajernya. ​Manager : Marcel, produser film barumu ingin bertemu malam ini di lounge hotel. Ini soal adegan romantis yang kau tolak kemarin. ​Marcel : Aku tidak melakukan adegan ranjang, titik! Balas Marcel singkat lalu menyimpan ponselnya di saku. ​Tak lama kemudian manajernya menelepon. ​"Marcel, ayolah! Ini film besar! Penggemarmu ingin melihat sisi maskulinmu!" ucapnya. ​"Aku aktor, bukan pemuas fantasi murahan," jawab Marcel tajam tanpa bergeming. ​"Tapi kau dijuluki pejantan oleh netizen karena postur tubuhmu! Mereka berekspektasi tinggi!" bujuk sang manager kembali. ​"Biarkan mereka berekspektasi. Aku tidak akan mengubah prinsipku hanya demi rating. Setiap aktor punya ciri khas tersendiri. Jangan samakan aku dengan trend murahan," jawab Marcel dengan nada kurang berkenan. ​"Kau kaku sekali, kawan. Kau butuh jatuh cinta agar hatimu sedikit mencair." ​"Cinta itu tidak logis," Marcel mematikan telepon secara sepihak. ​Ia menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Pemuda 29 tahun dengan segala kemewahan yang ia miliki. Namun, ia juga tidak memungkiri jika ada sesuatu yang kosong di tengah hiruk pikuk ketenaran dan tekanan nama besar keluarganya. ​"Paris jauh lebih tenang daripada ini," gumamnya pelan, teringat masa-masa ia belajar tentang pemetaan bumi di universitas, jauh dari sorotan kamera. ​Setelah perdebatan singkat dengan Dadynya dan panggilan telepon dari manajernya yang menguras kesabaran, Marcel merasa sedikit gelisah. Segala kemewahan, ketenaran, dan kekayaan seolah tak mampu mengisi kekosongan yang ia rasakan. Tanpa sadar, jari-jarinya mengetik sebuah nama di daftar kontaknya. ​"Alma," gumamnya. Hanya nama itu yang terlintas saat ia membutuhkan pelarian. ​Ia menekan tombol panggil. Sambungan telepon berdering beberapa kali sebelum suara lembut seorang wanita menyahut. ​"Marcel? Tumben. Ada apa?" Suara itu terdengar ramah. ​"Aku butuh kau sekarang," kata Marcel tanpa basa-basi. “Hah! Buat apa?” tanya wanita di telepon itu karena mendapatkan panggilan tiba-tiba. "Di mana?" ​"Hotel Astoria, presiden suite,” jawab Marcel datar. ​"Baiklah ... aku ke sana. Tapi ... jangan harap aku membawa baju ganti," canda Alma, mencoba mencairkan suasana. ​Marcel tidak merespon candaan itu. Ia hanya mematikan telepon, lalu menyuruh supirnya langsung menuju Hotel Astoria. Di kepalanya, bayangan Alma mulai mengisi ruang. Alma, wanita cantik dengan rambut hitam bergelombang dan mata yang selalu memancarkan kehangatan. Wanita yang entah bagaimana, selama empat tahun terakhir, menjadi satu-satunya pelabuhan Marcel untuk melepaskan segala topeng kedinginan yang ia kenakan di depan dunia. Hubungan mereka bukan cinta, setidaknya Marcel selalu meyakininya demikian. Lebih seperti kebutuhan fisik yang dibalut keintiman emosional yang tak terucapkan. ​– Saat pintu kamar suite mewah itu terbuka, Alma sudah berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun sutra tipis berwarna merah marun yang menjuntai longgar. Rambutnya sengaja dibiarkan tergerai, sedikit acak-acakan seolah gadis cantik itu baru saja bangun tidur. Senyum tipis mengembang di bibirnya. ​"Kau cepat sekali," kata Marcel, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya. ​Alma melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Aroma parfum lembutnya memenuhi ruangan. Gadis itu tahu betul apa yang Marcel inginkan, dan entah mengapa, setiap kali pria itu memanggil, hatinya selalu berdegup kencang. Empat tahun. Empat tahun ia menjadi satu-satunya wanita yang Marcel sentuh, yang Marcel biarkan masuk ke dalam dunianya yang tertutup. Dan selama empat tahun itu pula, Alma berjuang menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Perasaan yang jauh melampaui sekadar teman tapi mesra atau pelarian. ​"Kau terlihat lelah jagoan," kata Alma, mendekat. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Marcel, namun Marcel menangkap pergelangan tangannya. ​"Aku tidak butuh obrolan," ujar Marcel, tatapannya intens. ​Alma membiarkan dirinya ditarik mendekat. Tubuhnya menempel pada d**a bidang Marcel. Aktor ternama itu mendongak, menatap mata tajam itu. Di sana, dia melihat kerentanan yang Marcel sembunyikan dari semua orang. Kerentanan yang hanya Alma pernah menyaksikannya. ​"Aku tahu bahkan aku sudah mengenal semua tentangmu," bisik Alma dengan bibir sedikit menggoda. Sang desainer itu tahu cara memancing sisi liar Marcel. Ia meletakkan telapak tangannya di d**a Marcel yang berotot, merasakan detak jantung pria itu. Lalu, perlahan, jari-jarinya bergerak turun, menyusuri perut Marcel, berhenti di pinggang celananya. Gerakan itu sensual, pelan, dan penuh makna. ​Napas Marcel tertahan. Sentuhan Alma selalu memiliki efek luar biasa padanya. Itu adalah satu-satunya sentuhan yang bisa menembus dinding pertahanannya. Ia meremas pinggang Alma, menarik wanita itu lebih dekat hingga tubuh mereka tak menyisakan jarak. ​"Kau selalu tahu cara membuatku gila," desis Marcel dengan suara seraknya. ​Alma terkekeh pelan sambil mengelus d**a sang pejantan. "Itu tujuanku, bukan?" tanya Alma manja. ​Ia mendongak, mempertemukan bibirnya dengan bibir Marcel. Ciuman itu dimulai perlahan, lembut, namun dengan cepat berubah menjadi penuh g4irah. Tangan Alma melingkar di leher Marcel, menariknya semakin dalam. Marcel membalas dengan intensitas yang sama. Tangannya menjelajahi punggung Alma, merasakan kelembutan kulitnya di bawah gaun sutra yang tipis. Gaun itu mulai melorot dari bahu Alma, jatuh ke lantai seperti kelopak bunga merah yang gugur. ​Di balik ciuman yang memabukkan itu, Alma menutup matanya, merasakan setiap sentuhan Marcel. Setiap sentuhan itu adalah janji palsu akan cinta, Bersama Marcel kini berbeda dengan yang dulu. Kini ia merasa utuh, merasa diinginkan. Ia adalah satu-satunya yang bisa melihat di balik topeng pejantan Arogan Mr. Lion" yang dipuja jutaan orang. Di sinilah, di kamar hotel mewah ini, dirinya adalah wanita bagi Marcel Lion yang sesungguhnya. Dia bahkan rela menukarnya dengan apa pun, bahkan jika itu berarti selamanya hidup dalam bayang-bayang status teman tapi mesra yang tak pernah terucap. ​Napas mereka memburu seiring dengan ciuman yang semakin dalam. Marcel mengangkat tubuh Alma, menggendongnya menuju tempat tidur. Dinginnya marmer lantai tidak terasa di bawah kaki Alma yang telanjang. Hanya hangatnya sentuhan Marcel yang memenuhi setiap inci kulitnya. ​Di ranjang mewah itu, gairah mereka meledak. Desahan tertahan, sentuhan yang memabukkan, dan bisikan-bisikan yang tak jelas mewarnai malam. Bagi Marcel, ini adalah pelepasan. Bagi Alma, ini adalah momen di mana ia merasa menjadi miliknya, meskipun hanya untuk beberapa jam saja. Setiap gerakan, setiap sentuhan adalah pengingat betapa dalam perasaannya pada Marcel, perasaan yang dia sembunyikan di lubuk hatinya yang paling dalam, jauh dari jangkauan pria itu. Gadis cantik itu tahu ini hanya akan berakhir dengan pagi yang dingin dan Marcel yang kembali ke dunianya yang kaku, tapi malam ini, ia akan merangkul setiap detik yang mereka miliki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD