Berhentilah menganggap segalanya bisa Ayah perbaiki. Berhentilah
***
“APA?!”
Hani terpekik keras ketika mengetahui bahwa Arya membuat masalah lagi di sekolah. Padahal beberapa hari lalu dia sudah memperingatkan pria itu untuk tidak membuat masalah selagi dalam tubuhnya. Lihatlah sekarang, sepertinya Arya benar-benar ingin membuat namanya jelek di sekolah.
“Baiklah, saya akan segera ke sana,” kata Hani dengan cepat menutup ponselnya. Ponsel ini miliknya, namun nomor di dalamnya adalah milik sang ayah. Sekali lagi gadis itu mengembuskan napasnya lelah, dia meletakkan kembali lap yang selalu ia gunakann untuk membersihkan meja itu. Dan sungguh kebetulan sekali Saskia terlihat mengontrol bagian pantri. Hani segera menghampiri wanita itu, meminta ijin untuk ke sekolah.
“Ada apa?” tanya wanita itu lebih dulu.
“Aku ada urusan di sekolah putriku. Bolehkah aku ijin keluar sebentar?” terangnya.
“Sekolah Hani? Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu lagi?” tanya wanita itu beruntun. Sepertinya wanita ini mengingat jika beberapa kali Arya yang memakai tubuh Hani akhir-akhir ini memiliki masalah di sekolah. “Mengenai Hani ... bukankah putrimu terlihat tidak seperti biasanya?” celetuk Saskia yang mana tidak mendapat respons apa pun dari Hani. “Ah, sudahlah, lupakan. Bergegaslah ke sekolah, mungkin gadis itu sangat membutuhkanmu sekarang. Hati-hati di jalan,” imbuhnya yang diangguki oleh Hani.
“Hani ... Ayahmu sebentar lagi akan datang. Dan kamu ... Jeni, ke mana orang tuamu? Kenapa setiap kali Bapak panggil nomor mereka tidak pernah aktif? Apa kamu salah memberikan nomor mereka?” tanya Pak Jaenudin kepada kedua siswinya yang sudah tidak berbentuk karena saling serang di dalam kelas.
“Mereka sibuk,” jawab Jeni terlihat tidak peduli. Kali dia tidak bersama dengan antek-anteknya melainkan hanya berdua bersama Arya yang masih berada di dalam tubuh Hani. Pak Jaenudin hanya menggelengkan kepalanya. Gadis ini seringkali membuatnya naik darah.
“Dan kamu, Hani. Bapak lihat sekarang kamu banyak perubahan. Seperti yang Bapak tahu, kamu anak rajin dan pintar serta sangat menghindari perkelahian seperti ini. Akan tetapi, beberapa hari belakangan Bapak melihat kamu mulai berubah. Apakah kamu ada masalah keluarga?” tanya pria paruh baya itu. Arya yang masih di dalam tubuh Hani pun memandang guru BK anaknya ini dengan datar. Bahkan guru-guru tidak mengerti apa yang terjadi dengan anak didik mereka. Apakah ini bisa disebut sekolah?
“Maaf menyela, Pak. Tapi, Jeni-lah yang lebih dulu menyerang Hani di dalam kelas,” sahut Dean yang memang tadinya berperan melerai keduanya. Seperti biasa, pemuda ini selalu netral dalam menyuarakan pendapat.
“Dan kamu Dean ... dengan adanya ini, kelas yang kamu pimpin akan dicap sebagai pembuat onar dan masalah. Beberapa guru dan murid akan memandang kelas kalian buruk,” tegur pria itu juga kepada Dean selaku ketua kelas yang bertanggungjawab dengan keadaan kelasnya jika tidak ada guru.
“Maaf, Pak. Hal ini tidak akan terulang lagi,” jawab Dean mewakili teman-temannya.
“Dan kalian berdua,” tunjuk Pak Jaenudin kepada Arya dan Jeni, “apa kalian tidak kasihan dengan teman-teman, terutama Dean? Mereka butuh waktu untuk berkonsentrasi menyiapkan ujian nasional dan masuk universitas.”
Baik Hani ataupun Jeni, keduanya sama-sama tidak menjawab, karena memang pada dasarnya mereka bersalah dalam hal ini. “Dean, kamu bisa kembali ke kelas. Untuk Hani dan Jeni, saya akan membicarakan hal ini dengan orang tua mereka.”
Dean pun mengangguk patuh, pemuda itu bergegas untuk kembali ke kelas. Jeni sibuk dengan diri sendiri, kembali acuh dengan sekitar, sedangkan Arya, dia mengawasi gadis berandalan itu. Seharusnya komplotan gadis itu harus dibawa juga. s**l, dia benar-benar akan membasmi perundungan di dalam sekolah ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Hani untuk sampai di sekolahnya. Dia segera menuju ke ruang BK yang sudah ia hapal tempatnya itu, tentunya dia mencoba untuk bersikap sewajarnya selayaknya seorang wali murid. Hal pertama yang dilihatnya adalah Pak Jaenudin yang duduk di depan Arya dan Jeni. Padahal dia sudah memperingati ayahnya untuk menjauhi Jeni dan Jo dkk.
“Selamat siang, Pak. Pihak sekolah minta maaf karena sudah mengganggu waktu Bapak,” ucap Pak Jaenudin dengan ramah. Hani yang berada di dalam tubuh Arya pun tersenyum hangat.
“Tidak apa-apa, Pak. Putri saya adalah yang nomor satu, jadi sudah sepatutnya saya ikut andil dalam segala permasalahan yang dia buat,” balas Hani dengan bijak. Arya memandang anaknya itu yang sepertinya sudah ahli berbicara selayaknya orang dewasa.
“Begini, Pak. Hani kembali membuat keributan di kelas, masih sama yakni dengan teman sekelasnya—Jeni. Entah permasalahan apa yang mereka miliki, namun mungkin Anda bisa berbicara dengan Hani mengenai hal ini sekali lagi. Setidaknya komunikasi orang tua dan anak akan membuat mereka lebih leluasa bercerita.”
“Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf karena Hani membuat masalah lagi. Saya akan menegurnya dengan keras nanti,” balasnya.
“Terima kasih.” Pak Jaenudin beralih kepada Jeni. “Dan kamu. Pastikan orang tuamu datang segera ke sekolah,” titahnya kepada gadis itu yang seperti biasa selalu tidak dipedulikan oleh Jeni.
Hani membawa Arya menuju ke taman samping dekat dengan gudang olahraga, di sana memang sepi. “Ayah kapan berhenti buat masalah? Hani capek harus bolak-bolik ke sana ke mari. Apakah Ayah tidak tau bagaimana perjuanganku untuk bisa tetap bekerja dan masih mengurus segala hal yang Ayah perbuat?” kata gadis itu terdengar putus asa. Dia bukannya putus asa, hanya saja dia terlalu lelah, sedangkan Arya tidak pernah mengerti apa yang ia rasakan.
Arya mengusap pipi putrinya dengan lembut. “Maafkan Ayah, Nak. Ayah hanya ingin membantu,” ucapnya.
“Berhentilah menganggap segalanya bisa Ayah perbaiki. Berhentilah, Yah,” balas gadis itu menatap sang ayah dengan serius. “Berhentilah melakukan segalanya untukku. Berhentilah mencoba untuk membuat segalanya berjalan normal. Berhentilah,” pintanya.
“Maaf. Hanya ini yang bisa Ayah lakukan. Hanya ini cara agar kamu tau Ayah sangat sayang denganmu, Hani,” jelas Arya menatap manik mata putrinya itu.
“Tidak, Yah. Ayah tidak perlu melakukan apa pun. Ayah tidak perlu memperbaiki segala yang aku terima. Berhentilah berusaha. Anggaplah angin lalu. Itulah yang aku lakukan selama ini,” jelas Hani sekali lagi. Dia sudah sangat terbiasa diperlakukan tidak baik di dalam sekolah ini. Namun, dia selalu menganggap semuanya angin lalu.
“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seorang ayah tega melihat anaknya diperlakukan buruk di sekolah? Bagaimana bisa?” tutur Arya. Dia tahu segalanya. Dia sangat tahu alasan terbesar Hani yang enggan untuk sekolah dan berkali-kali ingin berhenti sekolah.
“Aku menerima itu semua. Aku menerima segala yang mereka lakukan, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Untuk itulah, akan lebih baik jika Ayah juga tetap diam seburuk apa pun keadannya,” balas Hani yang kemudian berlalu pergi lagi meninggalkan Arya yang termangu di sana.
Pria ini tidak mengerti putrinya bersikap seperti ini, bahkan dia selalu mewujudkan keinginan gadis itu. “Jika Ayah tetap diam, Ayah akan merasa menjadi ayah terburuk di dunia ini,” kata pria itu terdengar seperti sebuah gumaman yang memang ia tujukan kepada dirinya sendiri.
tap love dab komen juga tentang sifat Hani ini.