Dara berdiri dibawah pohon rindang tepat di depan rumahnya. Ia sedang menunggu Hariz yang akan menjemputnya untuk pergi ke kampus bersama. Dara tersenyum kecil ketika mengingat kembali si ayah Cetta itu. Dara baru tau kalau Hariz itu manja terlepas dari sifat kaku dan diamnya. Saat bersamanya Hariz selalu minta disuap saat makan, atau lelaki itu akan memegang tangan Dara dan menciumnya kadang juga menggigit kelingking Dara karena gemas. Kalimatnya. "Mas gemes sama jari kamu, sayang. Kecil, mungil dan imut" Dara jadi bingung. Yang berumur 28 tahun itu sebenarnya Hariz atau Dara? "Sayang!" Dara menoleh, tidak sadar ternyata mobil Hariz telah sampai dihadapannya. "Kok ngelamun?" Tanya Hariz. "Gak ngelamun kok" sangkal Dara. "Udah makan?" Tanya Hariz. "Udah sarapan tadi. Kenapa

