9. Kedai Es krim

1569 Words
Weekend telah tiba. Diary baru saja keluar dari kamar, iseng-iseng ia pun menuruni tangga lantas pergi ke dapur berniat mencari Jenny. Tapi ternyata, suasana dapur begitu sepi. Baik Jenny maupun Minah, tidak ada satu orang pun yang Diary lihat. Suasana pun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Seakan-akan, Diary hanya tinggal seorang diri di dalam rumah sebesar itu jika tidak ada para pembantunya satu orang pun. "Pada kemana sih Mbok Jen sama Bik Minah? Kok dapur sepi amat," gumam Diary menggaruk kepala. Mengetahui di dapur tidak ada siapa pun, Diary memilih untuk pergi ke taman belakang guna duduk-duduk santai di pinggir kolam. Kedua matanya menatap lurus ke arah kolam, menerawang jauh mengingat masa kecilnya. Masa dimana semuanya masih terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan. "Papiiiii...." teriak Diary kecil begitu manja. Danu tampak berjalan dari dalam rumah menuju kolam, menghampiri Diary kecil yang saat itu sedang diajarkan berenang oleh istrinya. Terlihat, kedua orangtua Diary begitu menyayanginya sepenuh hati. Saat Diary masih di tahap harus banyak belajar segala hal, mereka selalu setia mendampingi putri sematawayangnya itu dalam keadaan apapun. Membuat Diary kecil teramat bahagia karena hidupnya terasa lengkap dan sempurna dengan hadirnya kedua orangtuanya setiap saat. Danu dan Diana begitu menyayangi Diary, bahkan mereka selalu melarang Diary bermain keluar rumah tanpa pengawasan dengan alasan mereka takut Diary kenapa-kenapa. Terlebih, pikiran negatif selalu berkelebatan jika lima menit saja anaknya berada di luar rumah. Mereka tidak ingin anak satu-satunya itu disakiti oleh teman-teman mainnya nanti. Mereka juga tidak mau kalau sampai Diary bermain kotor-kotoran layaknya anak kecil pada umumnya yang sedang senang-senangnya bermain. Padahal, seharusnya di usia seperti itu sedang masanya anak kecil bermain sepuasnya di dunia luar bersama teman-teman sebayanya. Namun yang terjadi, Diary malah dilarang keras untuk keluar dari rumah walau hanya bermain di luar pagar sekalipun. Maka tidak aneh jika sampai sekarang, Diary tidak mempunyai teman bermain di lingkungan rumahnya. Itu dikarenakan, sejak kecil Diary selalu dilarang bermain keluar rumah oleh kedua orangtuanya. Namun ketika Diary beranjak SMP, dari sanalah Diary mulai sering ditinggal mami papinya. Mereka mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka di kantor. "Mami, kita berenang yuk! Kan udah lama kita gak berenang...." ajak Diary remaja ketika Diana baru saja keluar dari kamar. "Aduh, Sayang ... nanti aja ya berenangnya, Mami harus buru-buru ke kantor nih," tolak maminya tanpa menoleh. Bahkan langkahnya begitu buru-buru seakan takut tertinggal kereta yang hendak melaju. "Tapi, Mi. Diary pengin berenang bareng Mami kayak dulu...." rengek Diary mengguncang tangan Diana. "Aduuhh ... Mbok Jeeenn, Bik Minaahh!" seru mami Diary lantang. Muncullah Jenny dan Minah menghampiri panggilan majikannya barusan. "Iya, Nyonya...." sahut keduanya kompak. "Tolong jaga Diary, ya! Saya harus segera ke kantor, mungkin malam ini saya akan pulang telat...." tukas Diana menginfokan pada kedua ARTnya. Lalu, setelah itu Diana beralih pada putrinya, "Diary sayang, kamu sama Mbok Jen dan Bik Minah dulu ya. Mami harus berangkat ke kantor sekarang. Kapan-kapan, kita berenang bareng ya ... Bye, Sayang!" tutur mami Diary sembari melengos begitu saja. Diary remaja tampak kesal, sehingga tangan Jenny yang menyentuh bahunya pun ditepis kasar. Lalu, Diary remaja pun memilih untuk pergi berlari memasuki kamarnya. Tidak sampai di situ, semenjak kedua orangtuanya sama-sama sibuk dan mulai bepergian keluar kota. Diary mulai merasa kesepian, keceriaan yang semula terpatri di wajahnya pun mendadak lenyap secara perlahan. Sejak itulah Diary sering menyendiri di dalam kamar dan memilih untuk bergelut dengan buku hariannya di setiap saat ia ingin mengeluarkan segala unek-unek di hatinya. Tiba-tiba, di tengah Diary yang sedang fokus melamun serta mengingat masa kecilnya, seseorang yang muncul dari belakangnya pun sontak beraksi dengan menutup kedua mata gadis itu. Membuat Diary tersentak kaget bahkan meronta. "Siapa sih ini? Lepasin dong! Gelap niihh...." protes Diary berontak. "Coba tebak! Kalo tebakannya benar, nanti gue kasih permen sebungkus," seloroh orang yang menjahilinya terkikik. Mendengar suaranya yang tak asing, Diary pun langsung bisa menebak, "Gerrald??" Spontan, sosok yang menutup mata Diary pun segera menurunkan tangannya dari kedua mata sang gadis. Lantas, Gerrald pun memasang muka cengengesan saat Diary menoleh guna memastikan tebakannya. "Kamu, kok bisa ada di sini?" tanya Diary mengernyit, bersamaan dengan itu Gerrald pun ikut duduk di samping Diary sambil mencelupkan kedua kakinya ke dalam kolam. "Tadi gue udah berkali-kali bilang permisi bahkan pencet bel sekitar lima kali, tapi gak ada yang nyaut-nyaut. Terus, gue iseng deh dorong pintu ... eh taunya gak dikunci, ya daripada gue balik lagi, kan mending gue langsung masuk aja ke dalam. Mengikuti insting yang selalu benar, gue pun lihat elo deh lagi duduk sendiri di sini. Ya udah, gue nyelonong aja samperin lo. Hehe," jelasnya panjang lebar dengan bibir yang kemudian tercengir lebar. Diary menganga, tak menyangka kalau cowok setampan Gerrald bisa juga melakukan hal itu. Untung Gerrald bukan orang jahat, maka Diary masih bisa memaafkan perilakunya untuk saat ini. Meskipun Diary aneh sendiri sih, kenapa dia sampai tidak mendengar suara bel yang berdenting? Apa karena, Diary sedang melamun keras? "Orang rumah pada kemana, sih? Kok rumah gede gini, penghuninya minim banget?" lontar Gerrald menghela napas. "Iya, kasian ya aku. Tinggal di rumah besar dan mewah seperti ini, tapi malah selalu kesepian...." ujar Diary yang juga membuang napas berat. Gerrald memukul mulut nyirnyirnya yang suka asal nyerocos sendiri. Tidak tahu suasana hati seseorang seperti apa, dia malah berbicara sesukanya saja. Seandainya waktu bisa diputar sebentar saja, Gerrald ingin deh meralat ucapannya sesaat lalu. "So-sory, Diary. Gu-gue gak bermaksud buat bikin lo sedih, kok. Gue cuma--" "Gak apa-apa, Ger ... apa yang kamu bilang gak salah juga, kok. Kan emang itu buktinya, tinggal di rumah besar seperti aku, gak menjamin selalu hidup bahagia kayak di film-film, kan?" tukas Diary tersenyum pahit. Gerrald tidak berkata apa-apa lagi, dia jadi merasa bersalah karena sudah membuat suasana hati Diary begitu buruk. Lagi-lagi Gerrald pun memukul mulutnya yang sok tahu. Seandainya ada servis mulut, mungkin Gerrald akan menyervisnya agar tidak selalu asal ceplos. ¤¤¤ Diary tercenung saat dia tahu ternyata Gerrald membawanya ke kafe es krim. Ya, karena merasa bersalah, Gerrald memang langsung mengajak Diary untuk bermain ke luar. Meski awalnya Diary menolak dengan alasan ia sedang malas gerak, tapi akhirnya Gerrald berhasil juga membujuk gadis itu untuk ikut serta bersama dirinya. Dan sekarang, di sinilah Diary dan Gerrald berada. Di sebuah kafe berbau es krim yang bahkan Diary sempat tidak percaya kalau Gerrald ternyata tahu kesukaan Diary itu adalah es krim.             “Ayo, kok malah bengong?” ajak Gerrald tatkala Diary masih berdiri melongo di samping motornya yang sudah terparkir sempurna di pojokan lahan parkiran kafe tersebut. Tanpa berlama-lama lagi, Gerrald pun langsung menarik tangan Diary guna memasuki kafe. Udara sejuk pun lantas langsung menyambut ketika keduanya melangkah masuk melewati pintu kaca yang berembun. Setelah mendapatkan tempat duduk, Gerrald pun memesan dua mangkuk es krim dengan rasa berbeda. Seakan sudah tahu segalanya tentang Diary, Gerrald pun memesankan es krim rasa semangka untuk ia persembahkan pada sang gadis. Sambil menunggu, Diary menatap takjub ke sekelilingnya yang ditata cantik oleh berbagai macam bentuk serta warna akan ciri khas tentang es krim. It is an amazing, okay?             “Lo baru pertama kali kan ke sini?” tanya Gerrald membuka obrolan. Dia sudah duduk berhadapan dengan Diary yang masih tertegun kegirangan. Mendengar pertanyaan yang Gerrald ajukan, Diary lantas mengangguk, “Iya, kok kamu tau?“ sahutnya bertanya balik. Gerrald tersenyum geli. Jelas ia tahu, toh ekspresi wajah Diary sendiri yang mengatakan bahwa gadis itu baru pertama kali menginjakkan kakinya di kafe ini. Gerrald tak ingin menjawab, dia hanya tersenyum senang saja jika melihat Diary sebahagia ini. Ternyata, pilihannya datang ke kafe es krim tidak salah. Diary terlihat suka, rasa bersalah Gerrald pun langsung terobati setelah melihat pancaran kebahagiaan yang memenuhi binar mata sang gadis. ¤¤¤             “Gimana, lo suka kan?” tanya Gerrald di tengah Diary yang masih sibuk melahap es krim ketiganya. Ya, saking sukanya, Diary sampai memesan es krim lagi dan lagi setelah menghabiskan dua mangkuk es krim dengan rasa yang berbeda-beda.             “Suka banget," angguk Diary penuh semangat, "Tapi, kok kamu bisa tau sih kalo aku suka es krim?” tanya Diary menatap Gerrald penasaran. Pasalnya, sejauh mereka berteman Diary belum pernah sekalipun bercerita pada cowok itu bahwa kesukaannya adalah es krim. Melihat raut penasaran yang terpancar jelas dari sang gadis, Gerrald pun tersenyum kecil, “Tau aja, lagian ... menurut gue sih lumrah kali kalo cewek  suka es krim,” terang Gerrald santai. Ada sedikit perasaan kecewa di hati Diary. Mendadak, kepalanya tertunduk. Rasa antusias melahap es krim yang tinggal setengahnya pun tiba-tiba seolah lenyap dalam sekejap. "Diary, lo kenapa?" tegur Gerrald menyorot bingung. Rupanya, ia sangat peka dengan gelagat dari sang gadis. Dilihat dari ekspresi wajahnya, kentara sekali kalau gadis itu seperti baru saja merasakan sebuah perasaan kecewa. Mendesah pelan sejenak, Diary hanya menggeleng. Rasanya es krim yang semula manis berubah hambar di lidah. Diary pikir, Gerrald memang sengaja mencari tahu tentang apa saja yang disukai Diary secara diam-diam. Tapi ternyata dugaannya salah, Gerrald justru malah memberikan jawaban terlumrah yang membuat mood Diary kembali buruk.             “Diary, are you okay?” tanya Gerrald lagi, sekadar memastikan. Diary menghela napas panjang, lalu mendongak, “Ya, aku baik-baik aja, kok.... “ angguk gadis itu tersenyum seadanya. Gerrald sedikit kebingungan melihat sikap Diary yang berubah drastis. Padahal, tadi Diary sangat terlihat bahagia. Akan tetapi, kenapa dalam waktu singkat gadis itu mendadak berubah lagi? Ada apa dengan Diary? Apakah Gerrald salah berbicara lagi? "Ger, aku ke toilet dulu, ya...." izin Diary sejurus kemudian. Meski masih bertanya-tanya, tapi Gerrald pun mengangguk. Kemudian, Diary pun beranjak dan melenggang meninggalkan meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD