Arini membeku. Matanya tidak berkedip menatap sosok pria yang sedang menatapnya penuh arti.
Wajah tampannya tampak dingin dan kaku, tanpa senyum sedikit pun.
Pria itu memang Arka, mantan kekasihnya beberapa tahun lalu.
Ia tercekat, kemampuan bicaranya seperti diserap habis oleh tatapan Arka yang mematikan.
Arini seperti disodorkan kenangan kisah cintanya dengan pria itu.
“M–Mas Arka ....”
Tanpa sengaja, bibir Arini menggumam lirih nama majikan barunya.
Di lain sisi, Arka hanya tersenyum sinis. Ada perasaan yang susah dijelaskan.
Benci, marah, dan rindu seperti sedang berperang di batin pria bernama lengkap Arka Prabu Mahesa.
Ia memaku pandangannya pada Arini. Bahkan, sudah lama berpisah, paras Arini masih sama, tetap cantik dengan kulit putih dan tubuhnya yang melekuk indah di bagian tertentu.
Perempuan itu sangat murni di depan matanya.
Lama larut dalam situasi hening dan saling pandang, Arini melerai dan bangkit dari sana.
Gadis itu menunduk segan sambil mendekap nampan kayu.
“Maksud saya ... Tuan. Maaf, saya izin ke belakang dulu.”
Arka tetap diam, tapi ekor matanya memperhatikan punggung gadis yang memakai kaus tipis dan rok rample selutut itu.
Jantungnya berdebar hebat.
Entah perasaan apa yang Arka rasakan kali ini.
Apakah perasaannya masih sama?
Tidak!
Arka menggeleng, mencoba menepis pikirannya.
Namun, sial!
Bayangan indah tentang kisahnya dulu selalu memenuhi pikirannya.
Ia bahkan benar-benar terobsesi pada gadis itu.
Arini Putri Anjani, gadis yang pernah ia perjuangkan cintanya mati-matian. Sekaligus menjadi satu-satunya gadis yang membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Tapi sayangnya, semua berakhir dengan pengkhianatan perempuan itu. Dia bahkan tega menghilang tanpa jejak dan kabar setelah semua yang dia lakukan.
“Mas.”
Panggilan Anita menyentak pikiran Arka dari sosok Arini. Ia menoleh, kemudian berdehem singkat.
“Eh, Mas. Udah liat Arini belum? Itu yang gantiin Mbok Darmi.”
“Sudah.”
Wajah Arka tidak berekspresi. Ia menyesap kopinya yang belum tersentuh sedari tadi.
Jawaban singkat itu membuat percakapan keduanya berakhir. Ia tidak terlalu memikirkan sikap Arka karena memang wataknya, ia juga irit bicara.
Perhatian Arka lebih pada aksi, tidak banyak kata untuk membuktikan tanggung jawabnya sebagai suami.
“Cobain, Mas, nasi goreng teri medan. Ini buatan Arini, lho.”
Anita menyodorkan makanan itu ke hadapan Arka.
Benar-benar seperti disajikan kisah lama.
Bahkan, perihal makanan saja, wanita itu mengulang menu yang sama.
Memuakkan!
“Mbok Darmi, Arin, kalian ikut sarapan juga. Pekerjaannya dilanjutin nanti.”
Deg!
Panggilan dari Anita membuat Arini menegang sesaat. Ia merutuki kebodohannya karena membuat menu itu, menu kesukaan Arka.
Ia tidak ada niat apa pun. Andai saja Arini tahu bahwa majikannya adalah Arka, tidak mungkin ia tidak akan membuat makanan itu.
Bude Darmi langsung menghampiri ke arah sang majikan, sementara Arini masih berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
Sungguh, ekspresi dan gerak-gerik Arini tidak lepas dari atensi Arka sedari tadi.
“Gimana, Mas? Enak?”
Pertanyaan dari istrinya membuat Arka langsung mencicipinya dan mengangguk.
“Lumayan.”
Tidak ada respons hangat sedikit pun. Sudah menjadi kebiasaan bahwa ia menanggapinya singkat.
Anita tersenyum. Saat hendak mengambil makanan untuk dirinya sendiri, tiba-tiba ia kembali menoleh ke arah dapur.
Keponakan dari Bude Darmi itu masih belum beranjak dari pekerjaannya.
“Arini, kenapa masih di situ? Ayo, duduk sama kami. Nggak usah sungkan.”
“Em, iya, Mbak. Ini udah selesai, tapi Arin izin ke belakang dulu, ya, Mbak.”
“Ya, sudah, nanti kalau mau sarapan kamu ambil aja. Kamar kamu ada di paviliun belakang, yang pintu paling kiri, dekat kolam ikan.”
Arini mengangguk dan pamit dari sana sambil menenteng tas yang masih tergeletak di halaman belakang.
Sesampainya di paviliun, tubuhnya merosot di depan pintu kamar.
Ia memegangi dadanya yang naik dan turun.
Napasnya bahkan sampai tersengal.
Tatapannya seketika kosong.
Pikirannya kembali berkelana.
Ternyata ... secepat itu Arka lupa dengannya.
Benaknya lantas bertanya, kenapa dunia ini begitu kejam?
Belum sembuh rasa tertekannya oleh ancaman keluarga Arka dulu, sekarang ia malah harus menghadapi rasa cemburu yang akan ia hadapi setiap hari.
Tidak!
Arini menggeleng beberapa kali, memukul kepalanya sendiri untuk mengusir jauh-jauh pikiran itu.
“Enggak! Di sini kamu niatnya kerja, Arini. Jadi, bersikaplah sportif. Kamu nggak boleh lagi libatin perasaan kamu. Sekarang Arka tuanmu, bukan kekasih kamu!”
Arini menguatkan hati, berusaha menepis perasaan yang masih bercokol di dalam hati.
Tapi, kenyataannya semua tidak semudah yang ia harapkan.
Kenapa Arka yang harus jadi suami Anita? Dan, dari jutaan orang kaya di kota, kenapa harus rumah Arka yang jadi tempatnya bekerja?
“Ck, malah duduk kaya gitu kamu, Rin!”
Arini menoleh cepat.
Melihat Bude Darmi sedang berjalan ke arahnya, ia berdiri.
“Bude nggak jadi sarapan?”
“Gara-gara kamu. Kalau ditawari itu mbok diiyakan aja, Rin. Emang kebiasaan Nyonya sama Tuan begitu, dan kamu harus terbiasa mulai sekarang!” Bude Darmi langsung mengomel sambil mengeluarkan kunci dari saku dasternya. “Syukur-syukur punya majikan baik. Kita sebagai orang miskin itu nggak usah kebanyakan gaya.”
Pintu kamar Arini terbuka. Bude Darmi menunjukkan letak kamar mandi juga dapur kecil di sekitar paviliun.
“Tapi, Bude, rasanya enggak sopan. Canggung juga.”
Alasan itu tidak digagas sama sekali oleh Bude Darmi. Ia meneguk segelas air putih dan menatap tajam ke arah Arini.
“Dan sikap kamu itu yang harus dihilangkan. Jangan kayak tadi, Rin, enggak sopan. Kamu nolaknya dengan alasan nggak masuk akal terus buru-buru pergi.”
Arini menunduk. “Maaf, Bude.”
Tentu saja bukan canggung sebagai alasannya. Arini hanya menghindari kontak mata dengan Arka yang sedari tadi menatapnya.
Ia sangat tidak nyaman. Apalagi tatapan itu terasa tajam dan menusuk, seperti ini mengulitinya hidup-hidup.
“Hidup itu harus tahu tempat dan tahu diri, Ndok. Kamu kerja di sini, kuncinya cuma satu, nurut apa kata majikan.”
“Iya, Bude.”
Jawaban Arini justru membuat darah Bude Darmi naik.
“Kamu ini kalau dikasihtahu cuma iya-iya aja. Besok Bude udah pulang ke kampung buat rawat ayah-ibumu. Awas aja kalau di sini kamu macem-macem.”
Arini hanya diam. Ia memperhatikan kamar yang berukuran cukup kecil dan tidak terlalu mewah, tapi nyaman untuk ditinggali.
“Kamu harus bangun jam 04.00 pagi. Ngepel, nyapu, terus belanja bahan masakan di gang depan. Biasanya ada mamang penjual sayur yang lewat.”
Bude Darmi mulai menjelaskan satu per satu tugas yang harus dikerjakan. Arini mencatatnya dalam buku kecil, termasuk beberapa deretan menu favorit Anita juga Arka.
“Istirahatnya jam berapa, Bude?”
“Ya, kalau semuanya udah selesai. Pastiin jendela, gerbang, sama semua pintu dikunci sebelum kamu istirahat.”
Obrolan keduanya terhenti saat tiba-tiba terdengar suara pintu terbanting keras dari arah depan.
Brak!
Arini dan Bude Darmi langsung berlari ke sumber suara. Mereka melihat Anita sudah terduduk di lantai. Satu tangannya bertumpu pada pintu, sedangkan tangan lainnya memegangi perut.
“Aaah …!”
Anita mengerang kesakitan.
“Nyonya!”
“Mbak Anita!”
Saat Arini dan Bude Darmi hendak membantu Anita berdiri, tiba-tiba Arka datang dengan wajah kerasnya.
Pria itu bergerak cepat. Ia mengangkat tubuh Anita tanpa mengucap sepatah kata pun dan membawanya ke ruang tengah.
“Mas, anak kita ....”
Arka mendekap tubuh Anita dan mengelus perutnya. Kepalanya menunduk, menatap cemas perut istrinya.
Arka memeluk wanita itu erat, wajahnya tegang. Tapi tak ada teriakan, tak ada kalimat. Ia hanya menunduk, memeriksa perut perempuan itu dengan khawatir.
Anak?
Hati Arini mencelus mendengarnya. Matanya memanas.
Tidak, jangan di sini! Ia tidak boleh menangis di depan Arka dan Anita.
Tapi, benarkah mereka akan punya anak?
***