Bab 9

1175 Words
Tubuh Arini terhuyung saat Arka melepas cengkeramannya dengan sedikit menghempasnya. Ia memegangi leher dan menghirup oksigen dengan rakus. Setelah berusaha menormalkan kondisi tubuhnya, perempuan tersebut bergegas, hendak meninggalkan ruang itu. Akan tetapi, Arka tidak membiarkannya lepas begitu saja. Bunyi ‘Klik’ terdengar, tanda bahwa pintu ruang tersebut dikunci secara otomatis. Arini benar-benar terjebak. Dering teleponnya kembali berbunyi, seolah Bude Darmi memberinya peringatan bahwa suasana benar-benar genting. Tiba-tiba saja perutnya terasa kram. Ada sesuatu yang keluar dan rembes di dasternya cokelat mudanya. Sebuah cairan berwarna merah. “M-Mas, saya ... saya ....” Sial! Arka bahkan tahu cairan apa itu. Perempuan tersebut mengalami menstruasi dan hal itu jelas membuat Arini tidak bisa melakukan apa yang harusnya ia lakukan malam ini. “Keluar!” Perintah itu tidak membuat Arini bergerak. Ia masih di sana dan tertunduk. Jika pergi, Arini tidak akan mendapatkan uang untuk pegobatan. Tapi, jika tetap di sana pun, ia tidak akan bisa melayani lelaki tersebut. “Tapi, saya butuh uang itu, Mas.” Arka mengusap wajahnya frustasi. Ia meremas jari-jemarinya hingga kukunya berwarna putih. Ia lantas terkekeh sinis dan meraup dagu si perempuan. “Kamu gagal melayaniku, tapi masih mengharap uang itu, Arini?” Arini berpaling, kepalanya menunduk. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ya, perempuan itu akui memang tidak punya harga diri. “Saya janji akan melayani setelah menstruasi saya selesai, Mas. Tolong ....” Arka melepas jarinya di dagu Arini. Ia berdiri dan kembali duduk di kursi kerjanya. “Telan dalam-dalam janjimu itu, Rin. Keluar sebelum kamu mengotori ruangan ini!” Arini putus asa. Ia tidak lagi memohon untuk mengharap belas kasih kepada lelaki tersebut. Perempuan itu tertatih keluar dari ruang sambil terisak. Arka benar-benar menjadi sosok yang kejam. Arini tidak menyangka jika ia akan terlibat dalam dendam lelaki yang pernah menjadi satu-satunya kekasih. ** Pagi hari .... Rasa sakit di perut semenjak tadi malam membuat perempuan tersebut lebih lambat dalam melakukan pekerjaan rumahnya. Kali ini ia tengah berada di dapur, meracik beberapa bahan dan bumbu untuk menu sarapan. “Arin, kamu masak apa hari ini?” Sapaan dari Anita sontak membuat Arini terkejut. Ia menoleh ke arah Anita yang duduk di kursi pantry. “Rencananya mau masak lontong sayur sama telur petis, Mba.” Anita menghampiri Arini, melihat beberapa bahan yang sudah diracik dan tinggal dimasak. “Nanti tolong buat bakso sapi sama acar, ya. Mama mau ke sini soalnya. Dan kebetulan beliau suka sama makanan itu.” “Iya, Mba. Mba mau minum jus atau teh? Biar Arin buatin dulu.” Wanita dewasa itu mengibaskan tangan. Kedua bibirnya melengkung, membentuk garis senyumnya yang ramah. “Nggak usah, Mba buat jus sendiri nanti. Tolong buatin kopi untuk Mas Arka, nanti taruh aja di meja makan.” Arini mengangguk. “Baik, Mba.” Majikannya itu lantas pergi ke halaman belakang. Kepergian Anita justru membuat Arini berpikir lebih jauh. Pantaskah ia menjadi duri, sedangkan sikap Anita saja begitu baik. Ah, tidak! Ia tidak akan melakukan itu. Sebab, tadi malam pun ia tidak melayani Arka, ‘kan? Dan tentu saja, uang tersebut pun tidak ia dapatkan. Bahkan, semenjak panggilan yang tidak terjawab pun, Bude Darmi masih belum memberinya kabar lagi. Bagaimana keadaan ayahnya? Kenapa ia tidak mendapat kabar tentang perkembangan ayahnya? Atau mungkin .... Arini menggeleng. Ia berusaha sadar dan menata hati serta pikirannya supaya tidak lagi berpikir negatif. Sedetik kemudian, ia teringat dengan ponsel butut yang tidak dipegang semenjak malam tadi. Ia benar-benar lupa menaruhnya di mana. Atau mungkin ... ponsel itu tertinggal di ruang kerja Arka? Perempuan tersebut meremas ujung meja pantri. Ia merutuki kecerobohannya. Arini harus mengambilnya ketika nanti pekerjaannya telah selesai. Bruk! Sebuah suara cukup keras hampir saja membuat Arini meloncat. Ia menoleh ke sumber suara. Di sana ponsel bututnya tergeletak. Lantas, pandangannya naik ke sosok pria yang sudah berdiri di sana dengan tatapan dingin. “Pungut barang sampah milikmu itu!” Arini hanya bisa menarik napasnya dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia mengangguk, seolah membenarkan ucapan Arka yang menganggap ponsel miliknya hanya sebuah sampah tidak berguna. “I-iya, Tuan, maaf.” Arka hanya diam. Ia duduk di kursi meja makan sambil membaca majalah yang sudah ia bawa sedari tadi. “Kopinya, Tuan.” “Hm.” Jawaban singkat itu membuat Arini hanya bisa menghela napas. Ia kembali ke dapur, mengolah masakan lalu menyajikannya di atas meja. Begitu kegiatannya selesai, telepon yang baterainya menipis itu berdering. Arini menepi, mengangkat panggilan dari Bude Darmi yang ditunggu-tunggu semenjak tadi malam. Dengan tidak sabar, ia menggeser tombol hijau di layar itu. “Halo, Bude.” “Rin, kondisi ayah kamu udah mulai stabil. Jangan lupa bilang terima kasih ke Tuan karena mau minjemin uang ke kamu.” Apa? Mata Arini terbelalak kaget. Kepalanya menoleh singkat ke sosok Arka yang hanya terlihat sisi punggungnya. “T—Tuan Arka yang transfer, Bude?” “Iya, Tuan Arka kirim ke Bude. Bentar, buktinya biar Bude tunjukin kalau kamu nggak percaya.” Ting! Sebuah pesan berupa gambar masuk melalui w******p. Arini kaget bukan main. Ia meniti sejenak gambar bukti transfer yang dikirimkan budenya. Benar, ada dana masuk seratus juta yang masuk ke rekening Bude Darmi. Arka Prabu Mahesa. Nama itu tertera jelas sebagai pengirim. Kenyataan yang demikian membuat beban pikiran Arini bertambah. “Halo. Halo, Rin!” “I-iya, Bude. Nanti Arin telepon lagi. Masih banyak pekerjaan yang harus Arin kerjakan.” “Iya, jangan lupa bilang terima kasih ke Tuan.” “Iya, Bude. Nanti Arin bilang.” Sambungan telepon terputus. Arini kembali ke dapur dan menghampiri meja makan, di mana Arka masih di sana sambil menyesap kopinya. “Tuan, terima kasih karena udah mau bantu saya. Saya janji akan ganti uang tersebut.” Arka melepas kacamata kotak yang bertengger di hidung. Ia memandang Arini yang berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk. “Bayar dengan janji yang kamu ucapkan tadi malam.” Secara refleks Arini menaruh atensinya terhadap Arka. Lelaki itu tidak main-main. Pun tidak terlihat seperti sedang berbohong. Arka memang menginginkan Arini melakukan hal itu. Membayarnya utangnya dengan tubuh yang sempurna di matanya. “Baik, Tuan. Akan saya lakukan.” Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Arini sanggup mengambil konsekuensi tersebut. Hanya tinggal menunggu hari dan ia akan memberikan harga dirinya kepada si lelaki. “Saya tunggu.” Pria itu berlalu, meninggalkan Arini yang masih berdiri di sana. Ia keluar melalui pintu utama. Tidak lama, deru mesin mobil pun terdengar. Arini melihat dari balik tirai jendela. Mungkin, tamu majikannya telah datang. Secepat mungkin, Arini menyelesaikan masakannya di dapur sambil menyiapkan buah-buahan sebagai suguhan. Beberapa saat kemudian, Anita datang ke dapur untuk mengambil beberapa stoples kue kering. “Rin, tolong buatin dua cangkir teh panas, gulanya sedikit aja. Sama segelas s**u buat Mba. Nanti bawa ke depan.” “Baik, Mba.” Lekas tangan terampil Arini membuatkan apa yang diminta oleh Anita. Ia menyiapkannya di atas nampan. Saat hendak membawa minuman itu ke ruang tamu, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang pernah ia temui beberapa tahun lalu. Sisi ketenangan Arini terusik. Ia sungguh tidak bisa menormalisasi kondisi batinnya yang terus dihantam masalah betubi-tubi. “Kamu!” Jari telunjuk itu mengacung ke wajah Arini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD