Avyanna berusaha membuka matanya, tubuhnya terasa kaku, ia bertanya-tanya berapa lama ia tidur.
Avyanna melenguh, perlahan cahaya masuk ke retinanya, meski sakit ia berusaha mengitari ruangan, dia tak menemukan siapapun, sekuat tenaga Avyanna berusaha duduk, benar, tubuhnya remuk redam.
Mengenyahkan segala pertanyaan dalam diri, Avyanna berusaha berdiri, ia berjalan ke kamar mandi, membersihkan dirinya, ketika selesai Avyanna masih tak menemukan siapapun, Avyanna menyadari tak ada perubahan berarti dari kamarnya, semuanya masih sama, itu artinya kemungkinan Avyanna tak tertidur terlalu lama.
Kini Avyanna tau siapa yang harus ia percayai, hanya Allerick.
Ia tak tau apa perasaan Aillard masih sama atau tidak, yang jelas harusnya tidak. Karena pria itu sudah menemukan Nerdanel bukan? Matenya.
Avyanna membuka lemari, ia menemukan gaun-gaunya masih sama, tertata rapi. Setelah mengenakan dress berwarna hijau panjang Avyanna dengan langkah pelan keluar dari kamarnya, wanita itu mengernyiti, cukup banyak perubahan diluar kamarnya, ia berjalan ke meja makan, jika melihat dari jendela, matahari hampir tenggelam, sebentar lagi waktunya makan malam.
Avyanna tak menemukan siapapun di meja makan, maka ia putuskan berjalan ke luar, Avyanna menjerit ketika melihat betapa hancurnya keadaan. Puing-puing tanah hampir mengenainya.
Apa yang terjadi?
Kemana Allerick? Apa istana ini sudah di kuasai orang lain?
Mendengar suara itu, Allerick menghentikan kepakan sayapnya, ia mengibaskan sayapnya agar kepulan debu itu menghilang, Allerick tersenyum miring ketika melihat siapa yang terbangun, pria itu segera turun, para penjaga istana termasuk Mor dan Rush memandang Avyanna penuh syukur.
Allerick berjalan ke arahnya, menghilangkan sayapnya dengan kepulan hitam itu, Avyanna jadi teringat kettika Allerick menemuinya dulu, menyalakan perapian dan meghampirinya ketika ia menangis.
Ketika melihat wajah pria itu llagi, Avyanna menemukan wajah Allerick yang nampak lebih kaku dan dingin, apalagi pria itu membiarkan bulu halus di dagunya tumbuh.
Allerick menatapnya lamatt “Bagaiamana tidurmu?”
Avyanna gelagapan, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, perasaan bahwa Allerick adalah satu-satunya yang dapat ia percaya meenghangatkannya.
“Berapa lama aku tertidur?” Inilah pertanyaan yang ingin Avyanna tanyakan, ia begitu penasaran berapa lama ia tertidur, tubuhnya hanya terasa pegal, namun ia tak merasa kelaparan sama sekali, seharusnya ia tertidur sebentar kan jika begitu.
Bukannya menjawab, Allerick malah menariknya ke dalam istana setelah berkata pada Rush untuk membereskan kekacauan yang ia buat, pria itu membawanya ke hutan buatan, ketika Avyanna masuk kedalam, ruangan itu masih di jaga serigala di pintu masuk, srigala itu menunduk hormat padanya dan Allerick “Senang bertemu anda kembali nona.”
Avyanna tersenyum, ia juga merindukan beberapa hal di istana.
Ketika Avyanna dan Allerick sudah berada di hutan buatan, Avyanna mengitari pemandangan sekitar, semuanya masih sama, ia berjalan ke rumah kaca, menemukan tanamannya di rawat dengan baik dan tumbuh lebih besar dari yang terakhir ia ingat.
“Ismene merawatnya untukmu.” Allerick bersandar di pintu.
“Berarti kau membiarkan Ismene masuk kemari?”
Allerick mengangguk “Hanya dia yang cukup mengerti tentang tumbuhan.”
Avyanna mengangguk pelan, memang benar “Allerick kau belum jawab pertanyaanku, berapa lama aku tidur?”
“Satu tahun mungkin.”
Avyanna membola “Apa!?”
Allerick mengangguk pelan “Mungkin menurutmu terasa singkat, namun memori itu memakan waktumu, apa yang kau lihat, apa kau puas?”
Avyanna terdiam seketika, ia tak menemukan sesuatu yang bagus untuk di ceritakan “Kau sudah tau semua Allerick.”
Avyanna sadar Allerick mengawasinya sepanjang waktu, apa yang orangtuanya waspadai dan lakukan semuanya percuma, Allerick tau semuanya, jadi mengasingkan raga Avyanna ke tubuh manusia adalah hal percuma, karena dimanapun Avyanna berada, Allerick akan mengetahuinya.
Allerick menarik seringaiannya, merasa puas “Tak kusangka pertemuan pertama kita masuk kedalam memorimu.”
Avyanna mengernyit “Memang kenapa?”
“Memori yang kau lihat selama kau tertidur adalah memori yang alam bawah sadarmu seleksi, memori-memori penting, menyakitkan, dan membahagiakan.”
Avyanna mengerti “Aku tak punya memori bahagia.”
“Sama sepertiku.” Ujar Allerick, pria itu mendekat :”Aku tau kakakmu mencintaimu.”
Avyanna terkesiap “Mungkin sekarang tidak, dia sudah menemukan matenya, Nerdanel.”
Allerick menggeleng “Menurutmu, kenapa Nerdanel memberimu Unicorn itu tepat beberapa hari harusnya kau dikurung di istana.”
“Nerdanel mewaspadai kembalinya dirimu, itu artinya Nerdanel tau Aillard masih mencintamu.”
Avyanna kebingungan “Apa Nerdanel membenciku?”
Allerick menggeleng “Tidak, Aillard sedikitnya sudah berubah, dia mencintai Nerdanel, Aillard adalah salah satu pria yang terbius akan kecantikanmu.”
Avyanna tersipu, Allerick mungkin tak sadar telah mengakui kecantikan Avyanna.
“Nerdanel hanya waspada, ia begitu mencintai Aillard.”
“Tunggu, kau seperti mengenal Aillard dan Nerdanel begitu baik.”
“Mereka berpihak padaku,” Allerick menatap Avyanna dalam “Orangtuamu sudah diselimuti keserakahan.”
“Aillard yang meminta pasukan pure angel menembus hutan merah, namun aku bernegosiasi dengannya satu tahun lalu, ia bersedia membantuku menemukan pembunuh orangtuaku.”
“Aillard, mengapa Aillard.”
“Salah satunya adalah bengsamu, pure angel.”
Avynna terkejut bukan main “Untuk apa?”
“Mereka tau kau akan memiliki sayap terkuat pure angel, sayap putih besar yang bisa menghancurkan dalam satu kibasan, jika dua sayap bersatu, sayapku bisa member racun, maka sayapmu bisa menhancurkan,” Allerick menjulurkan tangannya, Avyanna menerimanya, keduanya berjalan keluar dari rumah kaca, duduk dibawah pohon apel yang baru Avyanna sadari keberadaanya, sebelumnya pohon itu tak ada.
“Aku memberimu ramuan penahan karena sebuah alasan, apa Ailard mengatakan padamu soal sayap?”
Avyanna mencoba mengingatnya “Aillard pernah bilang sayapku akan muncul ketika aku bertemu mateku.”
“Tidak, mereka belum menemukan cara untuk memindahkan sayap itu pada orang lain, sama seperti sayapku, sayapmu juga memilihmu.”
“Lalu, kenapa kau masih memberiku ramuan penahan, takut aku akan kabur?”
Allerick menggeleng, menatap Avyanna lamat “Karena sayapmu telah lama di tahan, maka akan sangat sakit jika kau tiba-tiba mendapatkannya, Aillard salah, ia tak tau sayap itu harusnya ada sejak kau kecil, tapi orangtuamu tak ingin kau memilikinya.”
“Mereka mau Aillard yang memilikinya, sekarang jika aku berhenti memberimu ramuan penahan, apa kau siap menerima sakit luar biasa untuk mendapatkan sayapmu?”
Avyanna tiba-tiba merasa ngeri, namun ia menginginkan apa yang harusnya menjadi miliknya “Memang sesakit apa?”
“Seperti kulit pungggung yang di sobek perlahan, kemudian tiba-tiba ditarik sekaligus, rasa panas di pung-“
“Cukup,” Avyanna menelan ludah kasar “Aku butuh waktu untuk itu.”
Allerick mengangguk santai “Apa lagi yang kau lihat?”
“Aku bertemu Desponia, dia memberitahuku ramalan kedua.”
“Katakan?” Allerick mendesak.
“Kau tau seseorang yang bernama Abraxas?”
Allerick kini tak menampakan wajah santainya lagi, ia memandang Avyanna dalam “Abraxas? Aku berencana menamai keturunan pertamaku dengan nama itu nanti.”
Avyanna mendelik “Kau begitu yakin anak pertamamu adalah laki-laki?”
“Aku tak pernah salah.” Ujar Allerick sombong “Apa yang Desponia katakana?”
“Dia mengatakan, Abraxas membawa ramalan samar, entah jadi penghancur atau mendamaikan?”
“Abraxas akan menjadi penghancur, dia akan mewarisi kekuatan terkuat dua klan. Namun kau dan aku bertolak belakang, kau Pure Angel dan aku setengah srigala dan Fallen Angel. Itu artinya dalam darahnya mengalir kekuatan tiga klan sekaligus.”
Avyanna menggeleng “Aku tak mau anaku kelak akan hidup hanya untuk bertarung.”
“Itulah alasan ia dilahirkan.” Ketus Allerick.
“Allerick,” Nada Avyanna memelan, ia hanya ingin bahagia, dengan Allerick dan anak mereka nanti, meski ia harus hidup dalam keadaan paling sederhana sekalipun “Apakah kau tak ingin memiliki keluarga, hidup bahagia, hanya itu Allerick, apa kau tak ingin?”
Apa yang Avyanna katakana sedikitnya membuat Allerick memikirkan betapa menyenangkannya itu dalam khayalannya. Namun tidak, ia ingat orang-orang yang telah menghancurkannya, ia telah lupa apa itu kebahagiaan hingga ia hanya mampu memikirkan balas dendam pada orang-orang yang ia telah targetkan.
“Tak ada jalan untuk itu, seluruh negeri membenciku, mereka benci memujaku, padahal mereka tau mereka tengah terancam, mengertilah Avyanna, yang perlu kau lakukan adalah berada disisiku.”
“Kemari, kau perlu makan malam.”
“Kami senang kau kembali.” Mor dan Rush memberikan segelas anggur merah pada Avyanna, mereka mengadakan pesta penyambutan atas kembalinya Avyanna, di taman istana kini mereka sibuk mengadakan jamuan kecil-kecilan, menjamu para pengawal, Allerick duduk dikursinya tengah membicarakan sesuatu pada Ismene dan Daleka, Avyanna tak masalah pada Daleka, perempuan itu nampak tau batasannya sekarang.
“Sesenang itu?” Avyanna tertawa pelan.
Rush meletakan gelasnya di meja “Kau tak tau kami menderita tanpamu.” Jawaban Rush membuat Avyanna kembali ingin tertawa.
Mor mengangguk “Rush benar, Allerick benar-benar lebih pemarah saat kau tak ada, kau tau ia mendapat kekuatan ketiga.”
“Sungguh!” Avyanna benar-benar terkejut.
“Ya, kekuatan penghancur, kami makin waspada karena kekuatannya itu, dia tidak hanya menghancurkan hutan, namun juga hampir menghancurkan istana.”
“Oh sebab itu dia berlatih menghancurkan kemarin?”
Mor menggeleng “Tidak, dia tidak berlatih, ia menghukum salah satu prajurit karena lama membukakan gerbang untuknya.”
Rush terkekeh “Alasan yang sangat sepele bukan.”
Ketiganya tertawa, di mejanya Allerick mendelik, tidak menyukai pemandangan kebahagiaan itu.
“Apa aku boleh kembali ke rumahku sekarang?” Ujar Ismene, gadis berambut merah itu tinggal di istana selama Avyanna tidur panjang,
“Pergilah,”
Ismene menghembuskan nafas pelan, kapan pria itu akan memiliki sedikit sifat baik.
“Daleka akan membuat portal untukmu,” Allerick berdiri menghampiri Avyanna yang masih bersama Rus dan Mor, entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka tertawa terus-terusan, namun ketika Allerick berdiri dihadapan ketiganya, Mor dan Rush gelagapan, apalagi mendapat pelototan tajam dari Allerick, akhirnya kedua pria itu memilih pergi, bergabung bersama Ismene dan Daleka.
“Apa yang kau bicarakan hingga membuatmu cekikikan.” Ketus Allerick.
Avyanna tersenyum “Kau sangat pemarah saat aku tak ada ya?” Ejek Avyanna.
Allerick mendelik, jadi mereka berani bergosip soal dirinya “Tidak, anggap saja karena kau tertidur waktu balas dendamku diundur.”
“Maksudmu?”
“Kau yang memiliki kekuatan membaca memori, ingat?” Sinis Allerick.
Avyanna melipat bibirnya kedalam, berusaha keras tak memarahi pria itu karena wajahnya terlihat sangat menyebalkan kini “Allerick, berapa lama kau tak bercukur?”
“Aku tak tau, itu tidak penting.” Ketus pria itu.
Avyanna menghembuskan nafas pelan “Mau kubantu bercukur?”
“Baiklah.” Avyanna tersenyum tipis.
“Allerick aku penasaran, kenapa ketika aku bangun aku tak merasa lapar sama sekali?”
“Ramuan nutrisi dari Dragomir.”
Keduanya terdiam, sampai Ismene dan Daleka datang menghampiri mereka “Allerick, Daleka akan membuatkanku portal sekarang, aku ijin pulang.” Ujar Ismene.
“Pulanglah.”
“Kau tak ingin mengucapkan terimakasih?” Ismene menatap Allerick tak percaya.
“Apa yang kau harapkan?” Sebelah alis Allerick terangkat.
Avyanna tersenyum “Terimakasih Ismene.” Avyanna tersenyum memeluk Ismene.
Ismene terenyuh “Senang kau kembali Avy.”
Malam itu Avyanna tidak bisa tidur, ia mendengar suara ledakan yang cukup besar di istana, dengan perasaan terkejut Avyanna berlari kebawah, melihat apa yang terjadi.
Ia menemukan Mor dan Rush yang tengah berlindung dalam balutan baju baja mereka, sementara puing-puing itu berterbangan dimana-mana, Avyanna menyipitkan matanya. Kini ia tau apa yang terjadi, Allerick tengah berlatih mengendalikan kekuatan penghancurnya, ketika kepulan asap yang disebabkan Allerick menghilang, ia melihat jelas tanah yang terbelah dan batu besar yang terpotong menjadi beberapa bagian hancur karena Allerick, pria itu tersenyum puas, Avyanna tidak mengerti kenapa Allerick harus mengejutkannya dengan kekuatannya yang lebih dahsyat itu.
“Kenapa dia berlatih tengah malam?” Avyanna bersedekap, menatap Rush dan Mor sebal.
“Sengaja, hanya ingin semua orang mendengar suara gaduh yang Tuan Allerick buat.” Kekeh Rush.
Avyanna mendelik, Allerick memang suka mencari keributan. Avyanna tau sekarang musuh-musuh Allerick mungkin makin waspada karena tau kekuatan menghancurkan Allerick begitu berbahaya.
Ketika Allerick selesai denngan latihannya, Daleka mengembalikan keadaan seperti semula, tanah yang terbelah perlahan menyatu, batu dan kepingannya kembali jadi satu kemudian dibuat menghilang entah kemana. Allerick kini menatap sekeliling, melotot ngeri ketika melihat Avyanna, kebingungan akan tatapan Allerick membuat Avyanna mencari apa yang salah, tapi ia tak memikirkan apapun, tak ada yang salah.
“Mmm Rush, Mor kenapa Allerick menatap kita dengan tatapan itu?”
Mor menggeleng, perlahan ia dan Rush berjalan menjauh, menjauh dari Allerick, Avyanna makin kebingungan, ia masih tak mengerti.
“Berani sekali kau keluar dengan pakaian itu!”
Avyanna mengernyit, ia tatap gaun tidur putih satin berukuran panjang, Avyanna lalu terbelalak, ia lupa mengenakan luarannya hingga lengan seputih porselen itu tereksposs begitu saja, Avyanna gelagapan, sebelum ia sempat melarikan diri dengan kakinya, Allerick lebih dulu memanggul tubuhnya seperti sekarung beras, Avyanna ingin protes namun ketika ia melihat wajah menyeramkan Allerick membuatnya urung, apalagi ia melihat para pengawal terang-terangan menatap Avyanna tanpa kedip.
“Allerick kau mau kemana?” Avyanna meronta, kemana Allerick akan membawanya, kamar Avyanna ada di lantai dua, sementara Allerick membawanya ke lantai teratas, apa pria itu akan mengebirinya?
“Allerick!” Pria itu membuka sebuah pintu, ruangan paling ujung di lantai teratas, Avyanna menutup matanya kuat, ia berusaha mengenyahkan bayangan Allerick yang akan mengamuk padanya.
Pria itu menurunkannya, Avyanna masih menutup mata, perlahan ia membuka matanya, menemukan kamar bernuansa hitam dengan lukisan keluarga kerajaan di dekat pintu.
Avyanna lalu menatap Allerick “Kamarmu?” Oh, Avyanna tak pernah mengira Allerick akan membiarkannya masuk ke kamar pria itu, ia bahkan tak tau kamar Allerick dimana, Layla tidak pernah mau memberitahunya dimana kamar pria itu.
“Aku akan membunuhmu kalau kau keluar dengan pakaian itu lagi.” Desis Allerick tajam. Allerick hidup dengan mengklaim, apa yang menjadi miliknya akan selamannya menjadi miliknya, aturannya adalah aturannya.
“Aku tidak tau kau berlatih menghancurkan, aku kira istanamu tengah diserang makanya aku keluar tiba-tiba.” Avyanna menghembuskan nafas pelan “Kenapa kau membawaku ke kamarmu?” Avyanna menatap Allerick dengan sebelah alis terangkat.
“Kau tidur disini mala mini.”
Avyanna makin menaikan alisnya “Kukira kau tak suka oranglain masuk kedalam kamarmu?”
Allerick mendengus “Memang, namun ada beberapa hal yang harus aku bahas denganmu.” Jawaban Allerick lagi-lagi membuat Avyanna bingung, biasanya pria itu akan datang ke kamarnya tanpa mau repot mengetuk jika ingin membahas apapun dengan Avyanna.
Tapi karena malas berdebat, Avyanna akhirnya mengangguk saja, ia dengan pelan mendudukan dirinya di kasur Allerick, kamar Allerick benar-benar mengerikan, hanya ada warna gelap dengan patung-patung aneh dikamarnya.
“Jadi?” Avyanna bertanya lagi karena Allerick masih berdiri menatapnya.
“Kekuatan keempat kurasa akan jadi milikmu, apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” Allerick masih berdiri menatap Avyanna.
Avyanna mencoba berfkir, ia tak merasakan apapun yang aneh, ketika ia mendpat kekuatan membaca memori, semua terjadi begitu saja, tak ada tanda-tanda, tak ada apapun yang berubah dalam tubuh Avyanna.
“Aku rasa aku tak akan merasakan apapun, sama seperti pada saat aku mendapat kekuatan membaca memori, aku tak merasakan apapun, tiba-tiba saja terjadi ketika melihat Greg di pesta malam itu, ia terlihat mencurigakan ketika menatapmu jadi tanpa sadar aku memfokuskan semuanya padanya.” Jelas Avyanna.
Allerick mengangguk paham “Kekuatan pemanggil adalah kekuatan keempat, sekaligus kekuatan terakhir, kekuatan itu memungkinkanmu memanggil makhluk-makhluk terlarang, arwah, dan makhluk legenda. Jika kau sudah sadar akan kekuatan itu, jangan pernah memanggil tanpa seijinku, mengerti?”
Avyanna mengangguk “Bagaimana kau tau kekuatan keempat untukku?”
“Mor menduganya, setelah menyatu empat kekuatan dibagi rata.” Allerick kini memilih duduk di samping Avyanna “Dengar, informasi ini baru kudapatkan. Seluruh negeri Imortal menginginkan kekuatan kita, musuhku bukan lagi tiga klan yang membunuh ayah dan ibuku, musuhku adalah musuhmu, kau paham?”
“Mereka tengah mengumpulkan sekutu, dari bangsa manapun, bangsa yang mau menghancurkanku, aku punya banyak pengikut, tapi mereka, aku tidak tau berapa banyak yang telah mereka kumpulkan.”
“Apa yang mereka tawarkan?” Avyanna menatap Allerick lamat.
“Kekuatanku dan kekuatanmu yang akan dibagi, kerajaanku yang akan dimonopoli, aku telah mewaspadai beberapa klan, klan Pure Angel dan Demigod yang paling berbahaya. Klan Fallen Angel sebagian sudah kutaklukan, tapi beberapa orang terbaik melarikan diri dan mencari sekutu, istanaku tidak lagi aman.”
“Kau tau artinya Avyanna.” Allerick menatap Avyanna dalam, Avyanna sadar Allerick telah membangkitkan peperangan bangsa Imortal yang jauh lebih berbahaya.