AFTER WAR 12
Mengendap
Sera menatap Abraxas yang begitu dikagumi, setiap pria itu berjalan pasti aka nada yang menyapanya dengan ramah, padahal pria itu tidak terlalu sopan ketika membalas.
Apalagi gadis bernama Fleur itu juga diperlakukan sama, mereka seperti dua orang populer dalam satu kelas. Sera mendengus “Ada yang ingin kukatakan.” Sera bersedekap, menatap Abraxas.
“Katakan saja.” Ujarnya santai.
“Sepertinya aku harus membiarkan Ibumu membaca memoriku, mungkin itu salah satu cara aku bisa memanggil bulan.”
Abraxas mengangguk pelan “Akhirnya kau mengerti.”
Sera membelalak “Kau tau? Kenapa tidak langsung memberitahuku.
“Kau harus mencari tahunya sendiri Sera, sekarang apa, kau tidak boleh keluat dari sini.”
Sera berdecak “Buka portal untukku.”
“Bagaimana dengan rangkumanku?”
Sera melotot “Akan kuselesaikan, jangan berisik.”
Pada akhirnya gadis itu menghabiskan waktu seharian untuk merangkum buku yang diberikan Abraxas, tangannya hampir mati rasa, Abraxas mengawasinya sejak tadi, ketika Sera melempar hasil rangkumannya pada Abraxas pria itu menangkapnya kemudian langsung memeriksanya, memang tidak salah memberikan tugas pada Sera, sangat detail dan tidak sulit untuk dimengerti.
“Karena kau selesai, aku akan membuka portal untukmu.” Putus Abraxas. Mereka pergi ke rak paling belakang perpustakaan, Abraxas sering membuka portal di spott itu karena di rak paling belakang berisi buku yang paling jaang dicari dan dikunjungi.
Sera memperhatikan portal yang Abraxas buka “Kemana ini pergi?”
“Istanaku.”
Sera mengangguk mengerti kemudian masuk kedalam portal bersama Abraxas, Rush menyambut mereka didepan pintu, Abraxas sepertinya sudah mengabbari Rush akan kedatangan mereka, ada reAllerick dan Avyanna yang menyambut mereka.
“Tidak ada yang melihat kalian kan?” Allerick memastikan, Abraxas mengangguk yakin.
“Kemari, kalian harus bergegas.” Avyanna segera menarik tangan Sera mendekat, ia membawa gadis itu duduk di karpet berbulu, akan tidak sempat jika mereka menggunakan bubuk memoire untuk Sera, jadi Avyanna putuskan untuk membuka paksa memori yang Bree simpan untuk Sera.
Avyanna memusatkan fokusnya pada alam bawah sadar Sera yang tak pernah tersentuh sebelumnya, pasti ada pertanda yang Bree tinggalkan untuk mereka.
“Berikan ramuan dan buku ini pada Sera ketika ia mengingat klannya.”
Avyanna berhasil menemukan petunjuk, ia menatap Sera yang kini juga sudah membuka matanya “Tidak bisa kalian selesaikan sekarang, kembalilah ke rumah ayahmu Sera, ada sebuah ramuan berwarna biru dan buku yang ibumu tinggalkan pada ayahmu, dia meletakannya bersamaan dengan barang-barang ibumu.”
“Jadi Dad tau tentang klan Momku?” Ujarnya tak percaya.
Avyanna mengangguk “Sekarang dia sudah lupa.”
“Baiklah, kalian harus membuka portal kedua menuju kediaman Winter, namun tidak sekarang.” Tegas Allerick.
Abraxas mengangguk, ia dan Sera kembali melalui portal langsung menuju perpustakaan, masih sepi disana seperti dugaan Abraxas, keduanya saling menata “Kapan kita akan pergi ke rumahku?”
“Minggu, hari libur.”
Seorang Profesor baru telah dikeluarkan dari Akademi Lamorvas setelah diketahui sebagai penipu, Profesor tidak memiliki keunggulan apapun setelah diketahui kekuatannya telah disedot oleh makhluk kegelapan, Sera dan Oprah yang mendengarnya merasa kasihan.
“Kemana Profesor itu pergi sebenarnya?”
Sera mengangkat bahu tak tahu “Makhluk kegelapan seperti apa yang mereka maksud?”
“Entah aku rasa makhluk penyedot kekuatan seperti Vectrum.” Oprah menerawang “Aku dan orangtuaku kabur dari kejaran makhluk bermoncong bulat itu dua tahun lalu.”
“Oh kau pernah melihatnya langsung?”
Oprah mengangguk”Awalnya mereka berbentuk seperti makhluk normal biasa. Lalu tiba-tiba mereka berubah didepan wajah kami.”
“Apa kelemahan mereka?”
“Makhluk murni.”
“Huft, masih banyak yang tidak kutahu didunia ini.” Dengus Sera.
Oprah tertaawa “Kau kira aku banyak tau, tidak juga.”
“Bagaimana, kau sudah bisa mengatasi kelemahanmu?”
Oprah mengangguk pasti “Hanya butuh keyakinan pada diri sendiri.”
Sera berdecak “Aku iri padamu.”
“Kau juga akan menyelesaikan masalahmu, tenanglah.”
Sera mengangguk membenarkan, sebenarnya ia memikirkan jika ia kembali ke rumah ayahnya, ia berdoa semoga ia bisa melihat ayahnya sebentar saja.
Abraxas memukul bola baseball pada Magmus lalu di oper pada Horison, dikursi penonton ada Asteria dan Fleur yang menyaksikan ketiganya.
“Asteria, aku membawa pie, kau ingin?”
Asteria mengangguk pelan, kemudian meneimanya, anak itu aneh, ia bisa menerima Fleur cukup baik, ketimbang dengan Sera.
Fleu menangkap sosok Sera yang berada di dekat pilar lantai dasar, gadis itu tengah membaca buku bersampul emas dengan fokus, entah dimana salah satu sahabatnya itu.
Asteria bertepuk tangan ketika Abraxas berhasil menngelabui Horison dan Magmus. Kini ketiga pria itu menghampiri Fleur dan Asteria yang masih setia menonton mereka.
“Apa yang kau lihat?” Tanya Abraxas pada Fleur.
“Sera, disana.” Abraxas mengikuti arah tunjuk Fleur, benar saja disana masih ada Sera yang membaca buku seorang diri.
Abraxas memperhatikannya dengan lamat “Sudah lama dia disana?”
“Kurasa ya.”
Abraxas mengangguk, membiarkan saja Sera melanjutkan acara membacanya.
Sera menunggu Abraxas di rak perpustakaan belakang seperti kemarin, gadis itu berdiri ketika melihat Abraxas datang menghampirinya, keduanya saling menatap.
“Kau siap?” Tanya Abraxas, Sera mengangguk saja, tak ada gunanya siap atau tidak, dia akan tetap melkukan ini kan.
Abraxas membuka portal setelah memastikan keadaan, mereka masuk kedalam kamar ganti Jasper, jika sudah malam di dunia Imortal, maka masih pagi di dunia mortal, Sera tau ayahnya sedang pergi bekerja, tapi tunggu, bukankah ini minggu.
“Abraxas ini minggu, ayahku aka nada di rumah.” Decak Sera.
Abraxas memutar matanya malas, ia membuat ilusi agar ia dan Sera menjadi tak terlihat “Sudah.” Ujarnya santai, Sera nyengir.
Ia membawa Abraxas menuju kamar ayahnya dilantai atas, di long paling ujung, Sera beusaha mengetuk pintu, tidak ada sahutan, ia memikirkan jam mungkin sekitar jam 9 pagi sekarang, ayahnya pasti tengah berada di ruang gym. Maka ia membuka pintu kamar itu, kemudian masuk bersama Abraxas, ia sebelumnya melihat foto Bree yang terpajang begitu besar, dan sekarang semua itu hilang, tembok menuju closet Bree juga menghilang.
“Kemana closetnya?”
“Tenang, ini hanya manipulasi.” Abraxas mengusap tembok itu perlahan, lalu semua kembali seperti semula, closet itu ada disana, keduanya masuk setelah menutup closet itu kembali.
Abraxas menghentikan Sera yang hendak mengacak-acak ruangan itu, pria itu lebih baik mengeluarkan alat pendeteksi benda immortal miliknya yang ia dapat dari Amren. Alat itu berbunyi ketika Abraxas mengarahkannya pda bawah carpet bebulu, pria itu menyingkirkan kapet berbulu itu, menemukan ada yang tersembunyi dibawah lantai.
Ada sebuah kotak beludru berwarna coklat tua dan berdebu disana, Abraxas memintta Sera membukanya, benar, disana ada sebuah botol ramuan biru dan sebuah buku peninggalan Bree.
Barang yang mereka cari.
“Ayo kembali, jangan lihat ayahmu. Lihat dia setelah urusanmu selesai.” Tegas Abraxas lalu membuka portal, memaksa Sera masuk kesana.