Chapter 19

2301 Words
Chapter 19 The Three Line Wings               Mereka menghabiskan hari penuh kedamaian di dalam Querencia tanpa sadar, sampai mereka menyadari mungki usia Abraxas kini sudah menginjak usia tujuh tahun dalam hitungan normalnya. Abraxas tumbuh menjadi lebih menakjubkan, parasnya benar-benar mirip dengan Allerick, ia cepat belajar banyak hal, entah kenapa hanya dengan melihat Mor dan Rush berlatih memanah atau pedang, anak itu bahkan tau semua teknik yang bahkan belum di ajarkan Rush maupun Mor, ketika ditanya bagaimana bisa? Dengan wajah santainya ia menjawab, karena ia melihat. Allerick sering mengajaknya berlatih dan mengajarinya bertarung, dengan takjub juga ia mengangumi kekuatan menghancurkan Allerick, serta kekautan Fatamorgana milik pria itu, suatu hari ia di ajak terbang dengan Black Giant Wings dan Allerick, dan Abraxas bertanya pada Allerick, kenapa ia tak punya sayap. Kini Abraxas tengah melihat Daleka menyihir seebuah dahan pohon mati menjadi monster pohon, Abraxas menatap monster pohon itu penasaran, ada banyak pertanyaan di otaknya “Daleka, aku juga ingin bisa sihir.” Daleka terkekeh pelan “Kau bukan penyihir sayang, kemari.” Abraxas menurut, ia duduk bersila di atas rumput bersama Daleka. “Jangan panggil aku begitu, aku bukan anak kecil lagi.” Ketus Abraxas. Daleka tersenyum, Abraxas memang begitu, ia tidak manja dan tidak suka di manjakan, ia benci diajak bicara dan semua orang akan berbicara bak ia masih kecil, tapi menurut Daleka Abraxas tetaplah anak kecil dimata mereka semua. “Baiklah, kenapa kau ingin bisa sihir?” Abraxas mengangkat bahunya acuh “Keren saja, kalian semua punya kekuatan, Momma punya sayap yang bagus, dia juga bisa bisa minta makanan ke hutan Malgof, Dadda juga punya sayap yang besar, dia bisa menghancurkan semuanya dan juga bisa membuat ilusi, Rush juga punya sayap yang kuat, Mor bisa berubah jadi srigala, dan Ismene bisa berubah jadi burung Pheonix. Kenapa aku tidak punya sayap, aku mau punya sayap seperti Dadda.” Daleka menahan senyum ketika melihat Abraxas mengeluh panjang lebar “Begini, aku bisa sihir karena aku adalah keturunan penyihir, Ismene bisa berubah jadi burung Pheonix karena dia adalah Hybird, Mor adalah keturunan srigala, Rush adalah keturunan Fallen Angel, Momma dan Dadda juga punya darah keturunan masing-masing.” “Lalu aku, darah keturunan siapa yang aku miliki?” “Kau punya darah tiga klan?” Abraxas nampak takjub “Klan Srigala, klan Fallen Angel dan Pure Angel. Lihatlah tanda di bahumu.” Abraxas menyingkap bajunya, melihat di bahunya ada garis melingkar dengan ukuran berbeda yang saling melingkupi  “Apa artinya ini?” “Hitam tanda klan Fallen Angel, merah tanda klan srigala dan putih adalah tanda klan Momma mu Pure Angel.” “Abraxas waktunya makan siang.” Suara lembut itu membuat Abraxas tersenyum, ia berdiri menghampiri Avyanna dan langsung memeluknya, Daleka tersenyum melihatnya, Abraxas memang tak ingin dianggap sebagai anak kecil di depan mereka semua kecuali Avyanna, jika sang Momma menganggapnya sudah dewasa maka Abraxas akan merajuk, ia ingin tetap Avyanna memperlakukannya seperti anak  kecil, penuh kasih sayang dan akan selalu mencintai Abraxas. Mereka semua duduk mengelilingi meja makan, Abraxas merengek ingin disuapi Avyanna, yang lain memutar bola mata malas karena tingkahnya, bukankah Abraxas paling tidak suka dianggap anak kecil, namun di depan Avyanna tingkahnya malah seperti bayi. “Abraxas Momma juga sedang makan, makanlah sendiri.” Tegur Allerick. “Momma.” Rengekan Abraxas masih terdengar, ia mengabaikan ucapan Allerick. Avyanna tersenyum pada Allerick, mengatakan tidak apa-apa tanpa suara, akhirnya anak itu diam ketika Avyanna menyuapinya. “Padahal kau tidak ingin kami menganggapmu anak kecil, tapi kelakuanmu seperti bayi di depan Momma mu.” Ejek Ismene. Abraxas menatapnya tajam, lalu melengos kembali memasang wajah malaikat di depan Avyanna, membuat Ismene makin sebal dengan anak itu, sebenarnya Ismene dan Abraxas bisa dikatakan yang paling tidak akur, mereka lebih sering saling mengejek satu sama lain. “Abraxas, mau melihat latihan setelah ini?” Tawar Mor. “Boleh Momma?” Abraxas malah menatap Avyanna, meminta persetujuan. Avyanna mengangguk, dan Abraxas memeluknya dengan sayang, ia paling suka Avyanna karena Avyanna begitu cantik dan sabar, ia juga penyanyang, dan Abraxas paling menghormati Avyanna, lebih dari ia menghormati Allerick. Allerick menatap Abraxas dengan malas, anak itu benar-benar memonopoli Avyanna sepenuhnya, Allerick bahkan lupa kapan ia dan Avyanna punya waktu luang berdua tanpa gangguan anak itu, padahal Avyanna adalah miliknya. Setelah menyelesaikan makan siang, Abraxas dan yang lain pergi ke tempat latihan, menyisakan Avyanna dan Allerick di tenda “Allerick, aku akan memanggil Desponia,” “Untuk apa?” “Benar-benar ada banyak hal yang harus kutanyakan padanya, kau tau Abraxas menggeluh merasakan sengatan di punggungnya belakangan, ini mungkin berkaitan dengan sayapnya.” Allerick merenung sejenak “Kau tidak mungkin memanggilnya kemari, akan berbahaya jika seseorang tau.” “Aku tidak akan memanggil tubuhnya, aku hanya akan memanggil raganya. Jadi bantu aku dalam segelmu.” Allerick mengangguk, ia membantu Avyanna terjaga dalam segelnya, Avyanna kini tengah fokus memanggil raga Desponia, Allerick tak mendapati kedatanagan Desponia sedikitpun, sampai cahaya putih melingkupi Avyanna dan Allerick bisa melihat Desponia masuk kedalam segel yang Allerick buat, keduanya beridiri berhadapan, saling menutup mata dan berkomunikasi tanpa bisa Allerick dengar. Avyanna mendengar suara Desponia dalam fikirannya “Terimakasih sudah merespon Desponia.” “Waktuku tidak banyak.” Avyanna mengangguk “Sebenarnya, kekuatan apa yang akan Abraxas miliki?” “Three Line Wings, White Wings dari Pure Angel, Fire Wings di tengah, dan Black Giant Wings.” “Fire Wings, tapi bagaimana bisa?” “Hadiah dari Querencia, Abraxas adalah anak pertama yang lahir di Querencia, dia juga anak terberkati sama sepertimu.” Desponia nampak panik, ia tau ada yang mengeceknya di sel “Kalian harus segera kembali, sudah terlalu kacau di luar.” Ucapan terakhir Desponia beerhasil membawanya pergi, Avyanna tau Desponia sedang tidak baik-baik saja, ia juga sedang di tahan. Allerick menghancurkan segelnya, Allerick menatap Avyanna lekat “Apa yang dia katakan?” “Dia minta kita segera kembali, kau tau Three Line Wings?” Allerick tampak kebingungan, Avyanna menghembuskan nafasnya pelan “Abraxas akan memilikinya, White Wings dari Pure angel, Fire Wings line di tengah hadiah dari Querencia dan Black giant wings.” “Kau sudah berlatih memanggil banyak makhluk legenda, kau juga sudah melunakan mereka untuk membantu kita nantinya, kurasa kita memang sudah seharusnya kembali,” Avyanna mengangguk setuju. Mereka keluar dari tenda, raut kebingungan melanda Avyanna, ia meliihat Rush menggendong Abraxas yang meringkuk di gendongannya, Avyanna berlari menghampirinya dengan panik, anak itu menggumamkan Momma dalam rasa sakitnya, Avyanna kebingungan, Abraxas tak terlihat terluka sama sekali, Allerick segera meminta Abraxas masuk kedalam tendanya, lalu tubuh itu dibaringkan di atas kasur, yang lain menyusul kemudian langsung masuk kedalam tenda dengan kepanikan yang sama. “Ada apa?” Tanya Allerick tenang, Avyanna kini duduk di pinggir ranjang, mengelus bahu Abraxas agar ia tenang. “Ia tiba-tiba mengeluh merasakan sakit dipunggungnya,” Jelas Ismene “Mungkinkah karena sayapnya?” “Kurasa iya.” Sahut Avyanna, ia kini melihat punggung Abraxas berdarah, pelan-pelan kulitnya di sobek, Avyanna tau betapa sakit itu, jadi ia ikut berbaring memeluk Abraxas yang meringis menahan sakit, Avyanna tau Abraxas anak yang kuat, hingga dari pada menangis Abraxas hanya meringis sembari membalas pelukan Avyanna “Tahan sebentar sayang.” Bisik Avyanna, dan Abraxas hanya mengangguk. “Momma!” Abraxas menjerit ketika punggungnya disobek lebar tiba-tiba, perlahan cahaya putih melingkupi Abraxas, sayap yang begitu menakjubkan membentang dipunggungnya, warna putih di ujung punggung, di tengahnya ada warna oranye hampir kemerahan yang bercahaya berada di garis tengah perpaduan warna putih yang sedikit dan warna hitap yang lebih mendominasi. Allerick dan yang lain memandang sayap milik Abraxas takjub, mereka tak akan pernah menyangka akan melihat kombinasi sayap seindah itu. “Wow.” Ismene menggumam takjub. Abraxas pingsan dalam pelukan Avyanna, Allerick mendekati Abraxas, melihat bagian punggungnya sudah menyatu perlahan, kembali seperti semula.               Mereka berkumpul di depan tenda, Abraxas dibiarkan beristiahat sejenak setelah minum ramuan pereda nyeri dari Ismene. “Jadi apa kekuatan sayap itu?” Tanya Rush. Avyanna menggeleng, sebelum ia sempat menanyakannya Desponia telah pergi terlebih dahulu “Itu Three Line Wings, mungkin kekuatannya sama seperti kekuatan sayapku dan Allerick, tapi kurasa karena ada warna api di tengahnya, ada kekuatan api disana.” Jelas Avyanna. “Sayap itu sangat menakjubkan.” Ismene masih terkagum-kagum rupanya. “Kalian akan melatih kekuatan Abraxas bukan?” Tanya Mor. “Pasti, disini tempat yang tenang untuk berlatih, setelah itu kita akan menuju bangsa Mortal untuk membuat kerjasama dengan kesepuluh penyihir putih.” Jelas Allerick. “Berapa persen kesiapan kita untuk bertarung melawan mereka?” Ini yang paling Daleka waspadai “Kita telah bersembunyi di sini cukup lama, kemungkinan dunia Imortal sedang tidak baik-baik saja, kita juga tau mereka pasti telah mengumpulkan lebih banyak sekutu.” Semuanya terdiam, yang dikatakan Daleka memang benar, sejak mengasingkan diri ke Quarencia, semua mungkin tampak tenang dan damai, namun mereka memikirkan keadaan yang lain, Lucius dan Azur, penduduk dan anak-anak Fallen Angel, apa kekuatan fatamorgana Allerick pada mereka masih berfungsi? Yang mereka khawatirkan, apa semuanya masih selamat?             Abraxas terbangun dengan perasaan takjub ketika melihat sayapnya membentang begitu besar dan terlihat menakjubkan di cermin. Ia melihat ke sekitar dan tak melihat siapapun di dalam tenda, tapi ia mendengar semua orang yang ia kenali tengah berbicara serius di luar tenda, Abraxas mengernyit, mereka membahas strategi peperangan, berapa sekutu yang mereka punya, dan kesiapan menghadapi musuh. Kini Abraxas makin yakin, tempat yang Avyanna sebut sebagai tempat sementaranya bukanlah tempat mereka berasal, Abraxas menduga orangtuanya dan yang lain tengah melarikan diri, Abraxas sering bertanya tentang alasan di Querencia, mengapa hanya mereka yang ada didalamnya, sang Momma bilang belum saatnya Abraxas tau. Tapi Abraxas sudah tiidak bisa menahannya lagi, ia bukan bocah yang tidak tahu apapun dan hanya diam. Abraxas akhirnya keluar dari tenda, menatap semua orang penuh tanya “Apa kita punya musuh Momma?” Avyanna yang mendengar suara itu menoleh kea rah ABraxas yang berdiri dengan keadaan yang sudah baik-baik saja, yang lain hanya diam. Avyanna hendak membuka mulutnya sebelum Allerick menyela “Biar aku yang akan jelaskan padanya.” Allerick berdiri menghampiri Abraxas. “Ikut Dad, akan ku jelaskan padamu.” Allerick terbang dengan sayapnya, dan dengan tertatih dan sedikit kebingungan, Abraxas mengikuti Allerick yang terbang keluar hutan Malgof. “Dia belajar dengan sangat cepat.” Ujar Daleka kagum. Mereka jelas tau Abraxas baru mendapatkan sayap itu beberapa jam lalu, namun dengan cepat anak itu belajar meski masih hampir jatuh karena tak bisa menjaga keseimbangan.             “Dadda, mau kemana?” Abraxas menyusul ALlerick secepat yang ia bisa. “Kalau kau bisa menyusulku, maka kau boleh bertanya sesukamu padaku.” Teriak Allerick, dan dengan senyum liciknya ia mempercepat kepakan sayapnya hingga Abraxas tertinggal jauh di belakang. “Dasar tua bangka.” Decak Abraxas sebal, lihatlah anak itu memang tidak menghormati Allerick sama sekali. Abraxas melihat Allerick yang terbang makin tinggi dan menjauh dari jangkauannya, dengan licik ia berteriak kesakitan, lalu terlihat seperti hampir terjatuh dari ketinggian, hal itu dilihat Allerick, dengan tampang khawatir Allerick terbang begitu cepat menghampiri Abraxas. Belum benar-benar sampai pada Abraxas, Allerick dibuat kebingungan dengan anaknya yang tiba-tiba melesat menghampirinya, Allerick dibuat terperangah sejenak sebelum ia sadar kalau ia telah di tipu. “Tidak ada aturan tidak boleh curang Dad, kau tidak boleh mengelak lagi..” Ujar Abraxas dengan senyuman kemenangan. Allerick menatap anak buatannya yang menjadi sangat durhaka padanya tapi sangat baik pada Avyanna, sejenak ia menyesal telah menyumbang s****a untuk anak itu.             Akhirnya Allerick dan Abraxas duduk di perbatasan hutan Malgof, melihat matahari terbenam bersama, untuk pertama kalinya Allerick dan Abraxas punya waktu berdua selain waktu latihan. “Kau senang dengan sayapmu?” Tanya Allerick. “Ya, ini lebih keren dari punyamu.” Sombong Abraxas. Allerick mendelik “Kenapa kau sangat sopan pada Momma dan sangat kurang ajar pada Dad?” Abraxas memutar bola matanya malass “Karna Momma cantik, baik, lembut, dia suka memelukku dan dia sangat-sangat sempurna.” Jawab Abraxas mantap. Allerick menghembuskan nafas pelan, ia setuju dengan ucapan Abraxas “Ingat, Momma mu adalah miliku, dia istriku.” “Momma juga adalah Mommaku.” Abraxas mempertegas, tak mau mengalah. Allerick makin menyesal membuat anak itu ada. “Jadi Dadda, apa kita sedang kabur dari musuh?’ Abraxas tak bisa menahannya lebih lama lagi, ia begitu penasaran sampai rasanya ia tak bisa menunggu meski itu satu detik lagi. “Ya, kita punya banyak musuh di luar, ketika Momma mu hamil, mereka menyerang secara tiba-tiba setelah tau kabar kalau Momma mu hamil, mereka waspada dan ketakutan, untungnya Momma mu menemukan tempat ini.” Allerick tau pertanyaan Abraaxas akan semakin banyak sekarang. “Kenapa mereka takut dengan kabar kehamilan Momma?” “Dengar Abraxas, di luar Querencia, ada banyak klan, orang yang menikah dan menghasilkan anak dari klan berbeda dianggap penghianat klan, namun kakek dan nenekmu lebih parah, Ayah Dad dia adalah buronan klan Fallen Angel, dan dengan berani menikahi Ibu Dad yang seorang bangsawan, melahirkan Dad, kemudian mereka di bunuh langsung dan Dad diasingkan bersama orangtua Mor, ke hutan, kami di kurung disana hingga kami remaja, sampai saatnya tempat kami dihancurkan, orangtua Mor di bunuh dengan sadis di depan kami.” “Dad tak pernah mau menceritakannya.” Ujar Abraxas pelan. Allerick menghembuskan nafas pelan “Dad sangat tidak ingin mengingatnya,” “Tunggu, Momma dan Dadda dari klan yang berbeda, apa karena itu kita di buru?” “Itu juga salah satu alasan, tapi kami pemilik dua ramalan, mereka takut akan kami, kekuatan kami terlalu berbahaya untuk mereka dan mereka menginginkannya, kehadiranmu, mereka tau kehadiranmu akan lebih berbahaya, jadi karena itu kita perlu disini sementara waktu.” “Apa kita akan selamanya disini?” Allerick menggeleng pelan “Kita akan segera kembali, setelah kau bisa mengendalikan kekuatanmu.” “Aku akan sering berlatih.” Seru Abraxas semangat. Allerick tersenyum, senyum hangat yang pertama kali Abraxas lihat, karena biasanya dimata Abraxas, Allerick sellau memiliki tatapan tajam dan serius, ia selalu memerintah dan berlatih, ia jarang memiliki waktu bermain dengan Abraxas. Saat berbicara dengan Mommanya saja, Allerick sangat kaku dan dingin, dan Abraxasa tidak menyukainya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD