BAB 35 PAMITSebuah pesan berupa foto koper besar yang siap diangkut disertai ucapan selamat tinggal membuat Aruni menjadi lemas. Nomor itu memang belum tersimpan, tetapi dia tahu pasti siapa pengirimnya. “Saya turun di Bojong ya, Kak,” kata Aruni seraya berdiri, lalu berpegangan pada handgrip. “Loh, ada apa? Bukannya mau turun di Manggarai?” Mirza terheran-heran. Dia juga penasaran saat menyaksikan wanita itu tercengang hingga menjatuhkan ponselnya. “Biasanya di Cawang. Tapi, ini ada keperluan mendadak. Nanti saya sampaikan salam buat Kak Una,” pungkasnya setelah mendengar pengumuman bahwa sebentar lagi kereta akan sampai di Stasiun Bojonggede. Aruni melangkah keluar dari kereta. Dia segera mencari kontak ibu sambungnya untuk dapat berbicara dengan Aruna. Saking terburu-buru hingga ham

