Sesampainya di kamar aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang.
Aku rindu sekali dengan kamar ini, seluruh dindingnya berwarna biru muda bahkan hampir semua yang ada di kamarku berwarna biru muda. Ya, biru muda adalah warna kesukaanku. Mataku menelusuri setiap sudut kamar ini.
Tidak ada yang berubah semuanya masih sama seperti 3 tahun yang lalu saat aku meninggalkannya.
Entah kapan aku tertidur sampai pada sore hari sebuah ketukan di pintu membangunkanku.
Tok..tok..tok..
"Non Diandra" panggil seorang wanita yang sangat ku kenal. Itu adalah resti salah satu pelayan di rumah ini dan juga salah satu temanku.
awalnya aku tak menghiraukannya tapi Resti tak berhenti mengetuk pintu sampai akhirnya aku putuskan untuk menemuinya.
"Ada apa?" ucapku malas.
"Tuan memanggil anda nona beliau sudah menunggu di ruang belajar." jawabnya.
"Baiklah sekarang kamu boleh pergi" ucapku seraya menutup pintu kembali.
astaga!! apalagi yang diinginkan laki-laki itu? Tidak bisakah dia biarkan aku istirahat?
aku berjalan malas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai berpakaian aku pun berjalan keluar kamar menuju ke arah ruang belajar.
"ceklek" kubuka pintu berwarna cokelat tua itu.
aku mendengus kesal melihat seorang yang gagah tengah berdiri menatap jendela di ruangan itu.
Dulu aku selalu menghindari untuk sering bertemu ayahku. karena, selain pertengkaran, pertemuan antara kami berdua tak pernah berakhir baik.
Tapi kali ini sepertinya ayah yang terus berusaha mencari masalah denganku.
"ada apa ayah?" aku bertanya sambil berjalan mendekatinya.
ayah menoleh kemudian membalikan badannya menghadap ku.
"Kamu tahu dimana Indira?" aku mengerenyitkan dahi mendengar pertanyaannya.
mana aku tahu...
"aku tidak tahu! dan aku juga tida peduli" aku melipat kedua tanganku seakan benar-benar tak peduli.
"kakakmu Ira di rumah sakit! dia sakit!" Aku terhenyak mendengar ucapannya.
"Dia menderita leukimia" Bagai tersambar petir di siang bolong hatiku merasa sangat sakit mendengar ucapan ayahku.
Ira sakit?
sejak kapan?
.
.
.
.
Disinilah aku sekarang, di ruangan tempat kakakku di rawat setelah kondisi tubuhnya menurun.
hatiku sakit ketika melihat ia terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
Kulihat wajah yang 99% mirip denganku itu sangat pucat,tak ada lagi tawa di wajahnya. tanpa sadar air mataku terjatuh.
"drrttt...drttt...drttt.." suara ponsel berdering dari dalam tasku.
aku bergegas keluar ruangan perawatan.
"Hallo siapa ini?" ucapku sesaat setelah menjawab panggilan.
"Nona Diandra Tuan Arga menunggu anda di mentari cafe" ucap seorang pria diseberang telpon.
Belum sempat aku jawab tiba-tiba panggilan terputus.