7). Pelepasan Sim Card?

866 Words
*** "Hei, kamu, bangun." Terganggu meskipun baru sekali dibangunkan, Rinai membuka mata secara perlahan. Mendapati Lily di depannya, dia mengernyit dengan ingatan yang kembali pada apa saja yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Menemani Lily bermain seharian, membantu gadis enam tahun itu berdandan hingga akhirnya menemani Lily tidur, semuanya dilakukan Rinai sebelum kemudian ikut terlelap setelah putri dari bosnya itu meminta dipeluk. Entah berapa lama dia tertidur di kamar Lily, Rinai tak tahu. Namun, yang jelas kepalanya kini dilanda pusing. "Rinai, bangun." Kembali mendengar perintah, Rinai menoleh dan betapa terkejutnya dia ketika di depan dia kini—persis di dekat kasur, Mahesa berdiri dengan raut wajah serius. Beringsut pelan agar tak membuat Lily bangun, selanjutnya hal tersebut dia lakukan dan tentu saja tak diam, Rinai buka suara. "Pak, maaf, saya ketiduran," kata Rinai tak enak. "Tadi tuh Lily katanya ngantuk, terus tidurnya mau ditemenin sama dipeluk sama saya. Jadi saya ikut naik ke kasur. Jangan marah ya, kaki saya bersih kok." "Yang marah siapa?" tanya Mahesa sambil menaikkan sebelah alis. "Saya bangunin kamu biar kamu bisa pindah aja ke bawah. Kasur Lily kecil, nanti dia jatuh kalau tidur berdua sama kamu." "Eh iya," kata Rinai. Tak diam saja, pelan-pelan dia beranjak. Memijakkan kaki di atas lantai, atensinya beralih ke jam dinding sebelum kemudian kembali pada Mahesa. "Bapak kapan pulang?" "Barusan," kata Mahesa yang memang masih memakai baju siang tadi. "Setelah selesai operasi pertama, saya ada kerjaan lagi. Jadi baru bisa pulang." "Oh," kata Rinai. "Pantesan." "Lily marah?" tanya Mahesa sambil menaikkan sebelah alis. "Iya," jawab Rinai sambil mengangguk. "Tapi tadi sore. Pas habis maghrib marahnya berkurang, karena kebetulan dia ada kegiatan." "Kegiatan apa?" "Ngerjain PR," kata Rinai. "Besok katanya harus dikumpul. Jadi dikerjain buru-buru biar enggak dihukum." "Oh," kata Mahesa singkat. "Ya sudah kalau gitu silakan ke kamar. Bi Asih kayanya udah tidur. Sepi tadi pas saya masuk." "Iya, Pak. Saya permisi ya kalau gitu." "Hm." Tak banyak menunda, Rinai bergegas. Berjalan menuju pintu, dia hampir keluar. Namun, ingatannya tentang sesuatu mendadak muncul sehingga sambil berbalik, Rinai buka suara. "Pak." "Apa?" "Apa mau dipanasin air buat mandi?" tanya Rinai. "Jam segini kalau pake air dingin kayanya enggak bagus." "Enggak perlu," kata Mahesa. "Di kamar mandi saya ada water heater. Jadi setiap mau mandi, saya tinggal nyalain." "Water heater tuh apa, Pak?" "Buat manasin air," kata Mahesa. "Cari tahu sendiri nanti kalau pengen tahu lebih dalam." "Oh gitu ya," kata Rinai. "Ya udah deh." Kembali melangkah, Rinai akhirnya keluar dari kamar. Namun, baru dua meter dia pergi, lagi-lagi Rinai teringat sesuatu sehingga dengan segera dirinya kembali. "Pak." "Ck," decak Mahesa. Tengah fokus memandangi sang putri yang kini terlelap, dia berbalik dengan raut wajah masam. "Apalagi sih? Jangan buat saya kesal deh. Saya capek." "Ya maaf," kata Rinai. "Saya manggil tuh buat ngasih tahu kalau Bapak mau makan malam, lauknya ada di kulkas. Kata Bi Asih, kalau lebih dari jam tujuh malam bapak belum pulang, lauknya simpan di sana." "Iya saya tahu," kata Mahesa. "Nanti saya ambil terus hangatin pas mau makan." "Oh, oke deh," kata Rinai sambil tersenyum tipis. Tak mau mengundang emosi Mahesa yang bisa mengusir dia kapan pun pria itu mau, Rinai mencari aman dengan segera bergegas. Tak ada kembali, langkah kakinya terus berlanjut hingga tak berselang lama dia sampai di kamar Bi Asih. "Aku belum cek hp." Membiarkan ponselnya dicharge sejak siang tadi, Rinai mengambil benda pipih tersebut secara perlahan untuk kemudian dihidupkan. Dilanda tegang, itulah dia karena tak akan kosong, Rinai yakin akan banyak notifikasi masuk dari sang abang mau pun Jeffran. "Kan." Ponsel hidup, deretan notifikasi masuk. Tak hanya panggilan, tiga puluh pesan terpampang dan ketika dibuka, pengirim pesan hanya sang abang yang tentu saja memakinya. (Kabur ke mana kamu, Rinai?) (Balik sebelum abang obrak-abrik persembunyian kamu.) (Balas pesan abang, Rinai! Jangan kurang ajar!) (Kamu mau giniin abang? Enggak takut kamu sama abang?) (Anak kurang ajar! Capek-capek abang urus kamu, tapi kamunya enggak tahu diri! Dasar sialan! Anjiing kau!) Menghela napas kasar, itulah yang Rinai lakukan usai membaca deretan pesan dari sang kakak, Cakra. Dilanda takut, itulah dia. Namun, untuk kembali kemudian menikah dengan Jeffran, dia tak mau. Jeffran sudah beristri dan dia tak mau menjadi orang ketiga, karena sebagai sesama perempuan, Rinai ingin menghargai perasaan istri Jeffran. Selain itu, dia juga takut pada sang calon suami karena bukan orang yang lembut, Jeffran katanya sering melakukan kekerasan ketika emosi. "Ini kalau nomor aku aktif terus, Bang Cakra bisa nemuin aku enggak ya? Takut banget dia lacak posisi aku pake nomor." Terlihat kebingungan, itulah Rinai hingga setelah beberapa detik berpikir, dia memutuskan untuk melepas sim card di ponselnya. Tak di kamar, Rinai keluar agar tak mengganggu Bi Asih. Mencari tempat aman, dia duduk di depan meja makan untuk merealisasikan niatnya, hingga setelah beberapa menit berlalu, ponselnya tak lagi dipasangi sim card. "Semoga aman." Urusan selesai, Rinai beranjak dengan tujuan; pergi ke kamar Bi Asih. Namun, belum sempat dia kembali, bunyi bel dari pintu depan membuat atensinya beralih. Tak diam saja, setelahnya Rinai bergegas menuju depan. Membuka pintu, dia sedikit terkejut ketika di depannya kini seorang perempuan cantik berdiri. "Lho, kamu siapa?" tanya perempuan di depan Rinai dengan raut wajah yang terlihat kaget. "Saya Rinai, Mbak," kata Rinai—berusaha bersikap sesopan mungkin. "Mbaknya siapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD