8 - Pengungkapan

329 Words
"Apa kau sungguh menginginkanku? Alasan apa yang masuk akal untuk membuktikan jika kau tidak tertarik dengan wanita lain, seperti yang kau katakan?" Synda spontan bertanya dan juga sarat ingin tahu besar. Pertanyaan dilontarkannya memang konyol, disaat Alexander dalam keadaan mabuk. Ia justru berharap pria itu menjawab dengan benar. Keinginan yang semakin tidak masuk akal. Synda menyadari kebodohannya lagi. Menggeruti kekonyolan pikiran dan harapan secara tak langsung ingin dipercayai. Synda merasa ia sudah sangat salah menerapkan keyakinan akan ucapan mantan kekasihnya. "Aku belum bisa melupakanmu, sejak kita resmi berpisah. Aku tidak ingin mendekati wanita lain. Rasanya, aku tidak akan bisa." Synda mendengar dengan begitu jelas kata demi kata dilontarkan Alexander. Ia pun telah memikirkan balasan yang tepat, tetapi tak langsung dikeluarkan begitu saja. Lebih dahulu, Synda melakukan penarikan dan pembuangan napas beberapa kali guna menetralkan kegugupan yang kian nyata. "Kau sedang mabuk. Lebih baik kau tidur saja dibandingkan harus berkata yan--" Synda tidak dapat meneruskan kalimatnya karena mendapatkan ciuman tiba-tiba lagi dari Alexander. Pria itu memagut bibirnya pelan dan lembut. Membuat Synda melayang. Ia sering mendapatkan cumbuan seperti ini, saat mereka masih menjalin kasih bersama. Sensasi lain mulai dirasakannya. Sering muncul dahulu ketika Alexander sudah melakukan pemanasan, sebelum sesi percintaan membara di antara mereka berdua dimulai. Dorongan pelan dilakukan pada tubuh sang mantan kekasih hingga ciuman di bibir dilepaskan. Mengantisipasi secepat mungkin agar tidak semakin menciptakan hal-hal yang diluar akal sehat dan membuatnya menginginkan Alexander lebih jauh. Tak boleh sampai tercipta gairah besar yang berakhir dengan pergulatan panas di atas kasur nantinya melibatkan mereka. "Kau tidak merindukanku, Sayang? Apa hanya diriku saja masih menyukaimu, Synda?" Tak dijawab celotehan sang mantan kekasih. Selalu diingatkan diri jika Alexander sedang dalam keadaan mabuk. Semua yang terlontar dari mulut pria itu harusnya tidak perlu dianggap serius. Namun, nyatanya Synda terus memikirkan. Kekontrasan ditunjukkan oleh perasaanya. Memercayai bahwa kalimat-kalimat diucapkan Alexander mengandung kesungguhan. "Seja kita berpisah, hidupku rasanya semakin hampa. Apakah kau mau memaafkanku atas sikapku dulu? Aku salah sudah terlalu mengekangmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD