"Lebih baik kau berhenti bicara. Mulutmu itu dibungkam saja. Tidak protes apa pun tentang pertolongan yang akan aku berikan. Kau jangan menolak kebaikan orang. Tidak melihat dari status ataupun gender."
Setelah menyelesaikan ucapannya, Synda segera menarik lengan Alexander. Laju dua kakinya berjalan dipercepat supaya dapat segera sampai di kamar yang pria itu akan tempati hingga besok. Jaraknya tinggal tiga meter di depan. Dalam hitungan satu menit mereka akan bisa mencapai pintu kamar.
Dugaan Synda tidak meleset. Justru hanya dibutuhkan kurang dari 30 detik saja. Secara cepat Synda memutar knop pintu. Masih ia pegang erat tangan Alexander. Tak ada lagi perlawanan yang ditunjukkan oleh pria itu. Bagus untuknya karena akan mempercepat penyelesaian bantuan kepada pria itu.
Bukan hal mudah membawa Alexander ke tempat tidur yang masih sekitar satu meter lagi. Menyeret seorang pria dengan postur tubuh melebihinya, baik dari segi berat dan juga tinggi. Energi Synda cukup terkuras.
"Beristirahatlah di sini baik-baik. Kau akan nyaman tidur di bekas kamarku. Kau tidak akan kesulitan tidur," ujarnya dalam nada ketus, diberi penekanan di setiap kata.
Bersamaan akan ucapan telah diselesaikan, maka Synda merasakan tangan kanannya ditarik oleh Alexander yang berbaring di atas kasur. Otomatis, Synda terjatuh tepat di samping pria itu. Ia berupaya bangun, tetapi tak bisa akibat dekapan erat didapatkannya. Lantas, ia dilanda keterkejutan lebih besar karena pergerakan begitu cepat dilakukan oleh Alexander. Ya, pria itu ada di atasnya. Meski, tak benar-benar menindih. Namun, tetap mengingatkan akan percintaan panas yang mereka sering lakukan dulu.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang. Hanya kau wanita terbaik pernah menjadi kekasih hatiku. Apa pun ada pada dirimu, aku suka."
Tepat setelah Alexander selesai akan semua kalimatnya, pria itu menempelkan bibir mereka dengan mata masih terpejam. Jelas mau alkohol menyengat. Namun, ia justru kehilangan kemampuan untuk melawan. Dibiarkan sang mantan menciumnya. Tubuh kaku karena sudah lama tidak merasakan sentuhan Alexander yang dulu selalu dapat mudah dalam memabukkan dirinya.
"Aku akan mendapatkanmu kembali, Synda. Aku tidak bisa tanpa kau di hidupku."