Sejak beberapa jam yang lalu tangan Sekar berkeringat dingin. Ini bukan kali pertamanya naik pesawat terbang karena dulu dia pernah beberapa kali naik pesawat. Namun, yang membuat tangannya bak diserang demam mendadak adalah traumatis yang menyerang otaknya. Menumbuhkan lapisan defensif yang otomatis melindungi dirinya. Keringat-dingin itu tidak hanya merambahi telapak tangan, melainkan mulai merata di sekujur tubuh Sekar, hingga bibirnya terlihat pucat. Ini tidak mudah. Namun, Sekar harus melawan traumatis yang datang tanpa kendali itu. “Kamu terlihat pucat, Sekar. Kamu baik-baik saja?” Fahri bertanya ketika mereka akhirnya sampai di bandara dan memanggil taksi untuk ke rumah sakit. Sekar menggeleng. “Tidak apa-apa, Pak. Mungkin saya hanya sedikit lelah.” “Apa kita cari hotel dulu? Sa

